Ramadan Marcella Zalianty Lebih Bermakna

TEMPO.CO, Jakarta - Aktris Marcella Zalianty pernah merasakan dinginnya jeruji besi pada 2009 silam. Untungnya, bintang film Brownies ini tidak sampai menghabiskan bulan Ramadan dan Idul Fitri di dalam penjara. Namun, bila diandaikan ia terpaksa merayakannya di tempat itu, Marcella pun merasa tidak ada masalah. "Yang penting makna puasa dan Lebarannya enggak hilang," kata Marcella kepada Tempo pada Kamis, 25 Juli 2013.

Untuk merayakan hari yang fitri, istri pembalap Ananda Mikola ini tidak memilah-milah tempat. Yang pasti rasa bersyukur lebih penting. "Dimana pun, puasa itu buat saya adalah pengendalian," ujarnya. Pengendalian itu berupa makan minum, hawa nafsu, dan tentu saja emosi jiwa masing-masing.

Marcella memang sempat mencicipi rasanya jadi tahanan. Namun, ia pun tetap bersyukur menjalani masa tahanan beberapa bulan walau akhirnya ia dinyatakan tidak bersalah. Menurut kakak Olivia Zalianty ini, masa-masa kelam itu adalah pelajaran spiritualnya yang paling berarti.

Saat itu, mental dan emosionalnya diuji. Kesabaran dan keyakinannya akan Tuhan pun semakin dites. Beruntung, hal itu membuatnya semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa. Saat itu juga membuatnya sadar siapa kawan dan siapa lawan bagi dirinya. "Ini udah lebih dari kuliah S3, deh," katanya menilai cobaannya saat itu.

Rasa syukur pun ia langsung wujudkan setelah keluar dari jeruji besi beberapa waktu kemudian. "Aku langsung umroh setelah keluar," kata wanita yang sedang hamil anak kedua ini.

Sedangkan ketika merayakan hari besar kemenangan umat muslim, istri Ananda Mikola ini pun ingin agar nuansa maaf-memaafkan tidak hilang bila merayakannya dijeruji besi. Khususnya maaf-memaafkan kepada orang-orang terdekat dahulu. "Yang penting gimana menunjukkan rasa syukur kita setahun sekali, setelah puasa sebulan," katanya.

MITRA TARIGAN

Berita Lain:

Berantem, Wajah Nikita Mirzani Berdarah

Jadi Mualaf, Bella Saphira Tidak Ganti Nama 

Dianiaya, Nikita Mirzani Lapor ke Polisi

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.