Ramadan yang Tak Lagi Sama, tapi Kenangan Masa Kecil Itu Tak Terlupakan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Nitis Sahpeni

Ramadan pasti selalu mempunyai cerita seru, unik, dan penuh hikmah bagi semua orang, termasuk aku. Ada beberapa kejadian konyol saat Ramadan di masa kecilku yang membuat tertawa dan merasa berdosa setiap mengingatnya. Setiap momen Ramadan mempunyai makna mendalam yang akan menjadi kenangan dan pelajaran berharga.

Kejadian konyol pertama adalah saat masih kelas tiga SD. Aku sudah mulai puasa sehari penuh, berbuka di waktu Magrib. Pernah suatu ketika, saat aku mandi dengan enaknya meneguk air di bak mandi hingga empat kali tegukan, rasanya sungguh segar. Cuaca memang sangat panas membuatku harus mandi di siang hari yang terik. Usai mandi, aku melanjutkan puasa sampai Magrib. Salah satu kakak bilang, aku tampak lebih segar di cuaca yang panas. Aku hanya membalas dengan senyuman. Kejadian itu tidak ada yang tahu sampai sekarang. Ya Allah, ampuni aku waktu kecil.

Kenangan Masa Kecil

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Cerita konyol lainnya adalah saat bapak membangunkan kami untuk makan sahur. Aku yang masih mengantuk enggan bangkit dari pembaringan. Entah jam berapa bapak membangunkanku. Hal yang kuingat adalah ada yang mengangkat tubuh kurusku. Seolah ada yang menyuapiku, tetapi mata masih terpejam. Keesokan hari, aku sangat kesal kepada bapak dan ibu karena tidak membangunkanku untuk sahur. Semua anggota keluarga terpingkal-pingkal melihatku yang menggerutu.

“Lah, kamu lupa sudah disuapi ibu?” tanya Sustri, kakakku.

“Apa iya?” aku balik bertanya.

Refleks semua anggota keluarga yang terdiri dari ibu, bapak dan empat saudara tertawa bersama. Mereka mengatakan kalau aku sudah makan dengan lahap saat disuapi ibu dengan mata terpejam. Usai menghabiskan makanan, aku kembali tidur. Mendengar pengakuan semua saudara, aku tersipu dan menggaruk kepala yang tak gatal. Bukan hanya sekali kejadian sahur dengan mata terpejam dan ibu harus menyuapiku agar aku tetap bisa kuat puasa esok hari.

Ada lagi kejadian konyol pas telat sahur yang masih kuingat. Saat sudah terdengar imsak, ibu memintaku dan adik yang masih belajar puasa bersembunyi di kolong tempat tidur yang gelap dengan mengatakan, "Belum azan, masih bisa sahur."

Terima kasih ibu, kini Ramadanku tak lagi sama. Engkau telah pergi selamanya menghadap kembali kepada Sang Pencipta.

#ElevateWomen