Ramadanku, tentang Segenap Doa dan Segenggam Rindu

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Mawza Syarif

Ramadan tahun ini akhirnya aku kembali dapat berpuasa lagi setelah dua tahun lalu, aku melahirkan tepat di bulan Ramadan. Sedangkan tahun lalu aku masih menyusui dan memilih tak berpuasa. Ramadan tahun lalu, kami masih di Kabupaten Yahukimo, Papua, menanti suami yang berangkat ke pedalaman untuk melakukan pendataan. Sekembalinya dari distrik tempat bertugas, kami kehabisan tiket mudik kelas ekonomi. Alhasil, Jayapura-Makassar terbeli dengan tiket belasan juta demi berjumpa dengan keluarga.

Ramadan tahun lalu, masih ada kakek mertua yang baru kukunjungi setelah dua tahun menikah. Dan beberapa hari sebelum puasa kemarin, kakek dipanggil Illahi. Genap sudah, semua kakek dan nenek, kini sedang berbahagia kembali Sang Maha Pencipta.

Ramadan kemarin masih ramai lantunan merdu bacaan Al-Quran di surau-surau, masih ramai jamaah tarawih di masjid-masjid, masih ramai anak-anak mengikuti pesantren Ramadan. Namun tahun ini, semua menjadi sunyi, karena sebuah pandemi, yang menimpa seluruh negeri. Benarlah titah Dewi Lestari, "Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak, dan saling menyayang bila ada ruang?" Dengan adanya jeda dan jarak, barulah kita sadar dan rindu pada keluarga yang jarang dihubungi, juga pada rutinitas yang biasa kita keluhkan. Setelah ada covid-19, hati juga tergerak untuk lebih peka terhadap tetangga kanan kiri, adakah yang masih butuh bantuan dan bersusah hati?

Menjaga Rindu

Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Tuhan memang Maha Bijaksana, menyadarkan manusia dengan rencana indah-Nya. Tahun lalu, Ramadan terlihat biasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Terlewati begitu saja, sebagai bagian dari tradisi. Tahun ini dengan semua perbedaan yang ada, Ramadan jauh lebih bermakna. Belum jua berakhir, terbesit rindu dan ragu, akankah tahun mendatang bisa menikmati kembali Ramadan yang syahdu?

Ramadan tahun ini memberikan begitu banyak hikmah. Betapa kita harus bersyukur, bersabar, dan senantiasa melakukan semua yang terbaik dalam hidup seolah-olah tak ada lagi waktu esok atau bahkan lusa. Berbeda dengan belajar di bangku sekolah, kita belajar untuk menghadapi ujian; dalam hidup kita mendapat ujian agar belajar. Sungguh berharganya waktu, sungguh beruntungnya mendapat kesempatan, namun tak semua orang mau dan bisa memanfaatkan.

Impian untuk berkumpul di hari fitri pun pupus sudah, hanya bisa memandangi layar handphone untuk menyambung silaturahmi, dan berharap masih ada umur panjang di lebaran tahun depan. Ya Allah, semoga pandemi ini segera berlalu. Semoga bulan Ramadan yang penuh berkah ini menjadi awal yang baru. Amin. Inilah Ramadanku, tentang segenap doa, tentang segenggam rindu.

#ChangeMaker