Ramah Lingkungan, Produsen Minuman Ini Sepakat Gunakan Botol Kertas

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Produsen minuman internasinoal sepakat untuk menggunakan botol yang berbahan kertas. Perusahaan tersebut adalah Diageo yang merupakan produsen Johnnie Walker, Smirnoff dan Guinness. Botol kertas tersebut akan digunakan pertama kalinya pada merek Johnnie Walker, wiski Skotlandia nomor satu di dunia, pada awal 2021.

Chief Sustainability Officer Diageo PLC Ewan Andrew menjelaskan, Diageo meluncurkan kemitraan baru dengan Pilot Lite, sebuah perusahaan manajemen ventura, untuk meluncurkan Pulpex Limited. Ini merupakan perusahaan teknologi kemasan berkelanjutan terkemuka di dunia.

Pulpex Limited telah membentuk konsorsium mitra perusahaan FMCG terkemuka di dunia dalam kategori yang tidak bersaing seperti Unilever dan PepsiCo, dan juga dengan mitra tambahan yang diharapkan dapat diumumkan pada akhir tahun ini. Masing-masing mitra konsorsium mengharapkan untuk dapat meluncurkan botol kertas mereka sendiri berdasarkan desain dan teknologi Pulpex Limited pada tahun 2021.

Pulpex Limited telah mengembangkan botol berbahan dasar kertas pertama yang dirancang dan dikembangkan menjadi 100 persen bebas plastik dan diharapkan dapat didaur ulang dengan sempurna.

Botol ini dibuat dari bubur kertas yang sumbernya berkelanjutan untuk memenuhi standar keamanan pangan dan sepenuhnya dapat didaur ulang di siklus limbah standar. Teknologi ini akan memungkinkan untuk mendesain kemasan mereka atau memindahkan desain yang ada ke dalam kemasan yang baru dengan tidak mengorbankan kualitas produk.

“Kami bangga telah menciptakan produk ini terlebih dahulu. Kami terus berupaya untuk mendorong batas-batas dalam kemasan berkelanjutan dan botol ini berpotensi menjadi pelopor. Rasanya pas kalau kita meluncurkannya dengan Johnnie Walker, merek yang sering memimpin inovasi selama 200 tahun keberadaannya.” kata Evan seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (24/7/2020).

Teknologi Pulpex Limited memungkinkan untuk memproduksi berbagai botol cetakan tunggal bebas plastik yang dapat digunakan di berbagai produk untuk konsumen. Kemasan ini telah dirancang untuk dapat menampung berbagai produk cair dan akan menjadi bagian dari komitmen Diageo terhadap Tujuan No. 12 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB yaitu ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’.

Kurangi penggunaan botol plastik

Chief R&D Officer Unilever Richard Slater mengatakan, perusahaan percaya dengan menangani limbah plastik melalui inovasi dan kolaborasi, Unilever dapat mengurangi separuh penggunaan plastik sekali pakai dan mengurangi penggunaan kemasan plastik kami lebih dari 100.000 ton dalam lima tahun ke depan.

"Bergabung untuk mengembangkan dan menguji botol kertas adalah langkah maju yang sangat menarik dan kami sangat senang dapat bekerja sama untuk mengatasi salah satu tantangan lingkungan terbesar di zaman kita." kata dia.

Simon Lowden Chief Sustainability Officer PepsiCo mengatakan, solusi inovatif dan kemitraan sangat penting untuk mendorong kemajuan yang berarti menuju ekonomi sirkular. "Konsorsium Pulpex berada pada posisi yang tepat untuk menghasilkan kemasan berkelanjutan dengan skala dan lintas industri yang memiliki dampak yang dapat dicapai oleh organisasi mana pun secara sendirian. Kami bangga menjadi bagian dari itu," kata dia.

Di Indonesia, Diageo Indonesia berkontribusi dalam upaya Bali bebas sampah plastik yaitu dengan mengganti seluruh gelas plastik dengan gelas kertas untuk minuman Smirnoff yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, dari sisi produksi Diageo juga berupaya untuk menekan “zero plastic waste”. Diageo Indonesia juga bekerja sama dengan Rumah Sanur dan komunitas “Malu Dong” Bali untuk mengumpulkan ribuan mahasiswa menjawab tantangan online yaitu TrashTag dan membersihkan 5 pantai di sepanjang Timur Bali pada Hari Bumi 2019.

Selain itu, Diageo Indonesia juga berkontribusi untuk mendorong Masyarakat Desa Nyambu, dimana perusahaan beroperasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Program ini telah memberikan manfaat bagi sebanyak 3.000 orang, dimana 5 persen adalah perempuan.