Ramai Antigen Bekas, Ini 7 Cara Deteksi Alat Masih Baru dan Steril

Tasya Paramitha, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 3 menit

VIVA – Saat ini, ramai kabar terkait penyalahgunaan alat swab dengan cara mencuci ulang untuk digunakan kembali dalam pemeriksaan swab. Para tersangka pun meraup untung hingga puluhan juta dari hasil 'tipuannya' tersebut, sementara masyarakat masih berjibaku dengan krisis pandemi COVID-19.

Untuk itu, hal tersebut patut diwaspadai oleh kita semua. Lalu, bagaimana cara mengidentifikasi penggunaan alat swab yang memang masih baru dan aman digunakan? Berikut rangkumannya.

1. Alat swab tersegel

Ahli Patologi Klinik Laboratorium Primaya Hospital Karawang, dr. Hadian Widyatmojo, Sp.PK, mengimbau agar sebelum melakukan swab, baik antigen maupun PCR, masyarakat perlu memastikan bahwa alat swab yang digunakan masih berada di dalam kemasan dan tersegel.

Masyarakat dapat meminta petugas swab untuk memperlihatkan bahwa alat swab masih baru di dalam kemasan dan dibuka di depan pasien.

"Anda bisa mencurigai jika tidak melihat alat swab tersebut dibuka dari tempatnya di depan Anda," ujar dokter Hadian, dalam keterangan persnya, Selasa, 4 Mei 2021.

2. Membuka segel di depan pasien

Petugas juga akan menanyakan ulang nama pasien sebelum melakukan pemeriksaan untuk menghindari kesalahan identitas pasien. Sebelum dilakukan pemeriksaan, petugas perlu menunjukkan kepada pasien bahwa alat masih dalam kemasan sebelum dipakai.

"Petugas akan membuka bungkus plastiknya sesaat sebelum tindakan swab untuk menjaga agar alat tersebut tetap steril dan mencegah kontaminan," tambah dr. Dwi Fajaryani, Sp.PK, selaku Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Barat.

3. Perlekatan kemasan yang baik

Dokter Dwi Fajaryani memastikan bahwa seluruh alat swab tidak dapat digunakan kembali. Alat tersebut merupakan alat sekali pakai dan akan dibuang setelah digunakan. Penggunaan reusable alat swab sangat berisiko tinggi pada kesehatan dan penyebaran infeksi virus COVID-19 kepada pasien lainnya.

Pastikan alat swab tersebut masih baru dan perhatikan perlekatan kemasannya harus dalam keadaan sempurna seperti dari pabrik (bukan memakai lem atau double tape)," lanjut Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Makassar, dr. Selvi Josten, Sp.PK.

4. Permukaan stik swab

Selain ditunjukkan dengan alat swab yang tersegel di dalam kemasan, dokter Selvi Josten, menambahkan bahwa masyarakat juga dapat memperhatikan indikasi-indikasi lain untuk mendeteksi apakah alat swab tersebut adalah alat swab baru atau lama.

Seperti permukaan swab stik berwarna putih bersih, masih mulus atau tidak kelihatan bergerigi, serta tidak beraroma.

5. Masa kadaluwarsa yang lama

Dokter Hadian mengatakan bahwa selama pengambilanya betul dan aman serta menggunakan alat yang direkomendasi dan memiliki izin edar, maka hasil pemeriksaan swab tersebut bisa dipertanggungjawabkan.

Masyarakat bisa menanyakan izin edar tersebut pada faskes (fasilitas kesehatan) terkait merek atau tanggal kadaluarsa alat yang digunakan.

“Kadarluasa alat swab antar merek pun berbeda beda. Umumnya sebuah alat swab bisa bertahan bertahun tahun dari masa produksinya,” ujarnya.

6. Izin edar

Dokter Selvi menegaskan, alat swab Ag harus mempunyai Nomor Ijin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan. Pasien dapat meminta petugas untuk diperlihatkan Sertifikat NIE dari Vendor Alat.

7. Hasil akurat dan dipertanggungjawabkan

Dokter Selvi mengatakan bahwa selama pemeriksaan swab antigen atau PCR dilakukan oleh petugas yang telah terlatih, maka hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan karena para petugas telah memiliki sertifikat pelatihan.

Keakuratan hasil dapat diperoleh dari laboratorium yang terstandarisasi serta didukung oleh tenaga terampil dan terlatih. Disamping itu, terdapat Dokter Spesialis Patologi Klinik sebagai penanggung jawab hasil pemeriksaan swab, baik antigen maupun PCR,.

“Penggunaan alat swab harus dilakukan oleh tenaga terlatih dari laboratorium yang terstandar. Terdapat teknik dan perlakuan khusus mulai saat persiapan, pemeriksaan, hingga , hingga pengelolaan limbah infeksius,” pungkasnya.