Ramai Kasus Dino Patti Djalal, Kapolda Metro Bentuk Satgas Mafia Tanah

Agus Rahmat, Foe Peace Simbolon
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus menyebut pihaknya telah membentuk tim khusus guna memberangus sindikat mafia tanah.

Baru-baru ini, persoalan mafia tanah menyasar ibu mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal. Yusri menyebut tim khusus yang dibentuk merupakan tim gabungan. Bukan hanya beranggotakan polisi, Polda Metro Jaya juga menggandeng pihak dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam tim tersebut.

"Yang pertama dari penyidik Ditkrimum Polda Metro Jaya kemudian melibatkan tim Satgas Mafia Tanah Pusat dan BPN Pusat," ujar Kombes Yusri Yunus, di Markas Polda Metro Jaya, Selasa 16 Februari 2021.

Baca juga: Polres Binaan Irjen Fadil Tak Ada yang Dapat Predikat A

Kata Yusri, tim ini adalah gagasan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Fadli Imran. Fadil memberikan perhatian khusus terhadap kasus mafia tanah di Ibu Kota dan daerah penyangga. Mantan Kapolda Jawa Timur tersebut mau praktik seperti ini tidak terjadi lagi.

"Ini memang jadi bahan perhatian Pak Kapolda untuk segera membentuk tim dan tim ini sudah bergerak," ucap Yusri.

Dalam kasus Dino Patti Djalal, sebelumnya diungkap kasus pencurian sertifikat rumah keluarganya. Dino mengatakan pencurian sertifikat rumah sangat terencana dan sistematis.

Melalui akun twitter pribadinya, Dino berbagi cerita soal aksi penjarahan oleh para komplotan pencuri sertifikat rumah milik ibunya di kawasan Antasari, Jakarta Selatan. Hingga rumah ibunya tersebut tiba-tiba beralih kepemilikan.

"Tahu2 sertifikat rumah milik Ibu saya telah beralih nama di BPN padahal tidak ada AJB, tidak ada transaksi, bahkan tidak ada pertemuan apa pun dgn Ibu saya," tulis Dino melalui akun twitter pribadinya, Selasa malam, 9 Februari 2021.

Dia menyebut modus komplotan pencuri sertifikat rumah itu adalah mengincar target, membuat KTP palsu, berkolusi dengan broker hitam dan notaris bodong, memasang figur-figur mirip foto di KTP yang dibayar untuk berperan sebagai pemilik KTP palsu.

"Komplotan ini sudah secara terencana menargetkan sejumlah rumah ibu saya yang sudah tua," ujarnya.