Rampas harta koruptor, Kejagung belajar dari Belanda

MERDEKA.COM. Kejaksaan Agung akan merevitalisasi Pusat Perampasan Aset atau Asset Recovery Office (ARO) yang telah berdiri pada tahun 2010 dengan nama Satuan Tugas Khusus Barang Rampasan dan Sita Eksekusi. Untuk memaksimalkan kerjanya, kejaksaan Agung akan mengandeng Kejaksaan di Belanda.

"Kenapa Belanda, karena mereka punya lembaga perampasan aset terbaik di dunia, selain itu sistem hukum Indonesia dan Belanda sama,"imbuh Ketua Satgassus Barang Rampasan dan Sita Eksekusi dari Kejaksaan Agung, Chuck Suryosumpeno dalam jumpa pers di Kejagung, Senin (4/3)

Dia menceritakan awal mula kerjasama ini dari nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Belanda, Herman Bohlhaar dengan Jaksa Agung Indonesia, Basrief Arief pada 29 Oktober lalu. Isinya tak lain adalah ketersediaan Belanda akan membantu Indonesia membentuk Pusat Perampasan Aset (PPA).

Selain itu, Dosen Hukum Dosen Hukum Universitas Indonesia, Ferdinand T. Andi Lolo, optimis terhadap pembentukan PPA ini. Hal ini diharapkan bisa mengoptimalkan eksekusi aset yang selama ini terbengkalai.

"Jadi saat ini yang penting bukan cuma penjarakan pelaku kejahatan, tapi juga rampas duit hasil kejahatannya. Jika PPA itu sudah bekerja maksimal, maka penjahat pun akan mikir-mikir untuk melakukan tindak kejahatan" pungkas Ferdinand.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.