Rampungkan Tol Trans Sumatera Tahap I, Hutama Karya Butuh Rp 80,5 Triliun

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Hutama Karya (Persero) membutuhkan dana Rp 80,5 triliun untuk pembangunan proyek Tol Trans Sumatera tahap pertama agar kondisi keuangan BUMN ini dalam keadaan sehat.

“Kekurangannya adalah Rp80,5 triliun. Ini kami harap bisa kami terima awal 2023 karena fisiknya 2022 akhir akan selesai,” kata Direktur Utama HK Budi Harto ketika rapat virtual dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (17/11/2020).

Dalam pemaparannya, Budi menjelaskan kekurangan pendananaan itu dengan asumsi BUMN Karya ini mendapatkan dukungan Badan Layanan Umum (BLU) yang akan dibentuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebesar Rp19 triliun dalam empat tahun.

Adapun kebutuhan pendanaan Tol Trans Sumatera tahap I, kata dia, baik di lima ruas tol sudah beroperasi sepanjang 513 kilometer dan delapan ruas tol dalam proses konstruksi sepanjang 643 kilometer itu mencapai Rp152 triliun.

Kemudian, lanjut dia, ada dukungan konstruksi Rp15 triliun sehingga total seluruhnya untuk tahap I mencapai Rp168,24 triliun.

“Kebutuhan likuiditas yang kami perlukan Rp120 triliun, sudah tersedia sampai tahun 2020 Rp39,7 triliun, di mana Rp27 triliun adalah PMN. Kami juga melakukan pinjaman Rp31 triliun, jadi kami masih perlukan PMN Rp80,5 triliun,” imbuhnya.

Budi melanjutkan agar aliran kas BUMN ini aman hingga 2023, pihaknya setidaknya membutuhkan Rp3 triliun namun dengan catatan proyeksi keuangan merugi karena depresiasi hingga tahun 2029.

Ia memproyeksi pendapatan korporasi setelah pajak (EAT) 2021-2029 akan minus dan baru akan positif diperkirakan tahun 2030.

“Kekurangan cashflow ini akan ditutup dengan CDS (Cash Deficiency Support/fasilitas pinjaman), dari beberapa bank sudah menyampaikan kesanggupan untuk mendukung CDS ini sampai Rp18 triliun,” katanya.

Dukungan CDS itu, kata dia, akan didapatkan dari Bank Mega dan PT Sarana Multi Infastruktur (SMI).

Pemerintah menggelontorkan Penyertaan Modal Negara (PMN) 2020 sebesar Rp3,5 triliun yang sudah cair dan Rp7,5 triliun dari alokasi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang masih ditunggu.

Rencannya, tahun 2021 HK akan mendapatkan PMN sebesar Rp6,2 triliun namun dinilai masih belum menutupi kekurangan pendanaan proyek tol Trans Sumatera tahap pertama sebesar Rp80,5 triliun.

“Jadi kalau Rp6,2 triliun ini terlalu kecil, mohon dukungan bapak ibu Komisi XI sehingga aktivitas kami di lapangan bisa kontiyu dan kalau PMN ini terlambat, kami harus menggunakan bridging dari bank,” katanya.

Hutama Karya Bangun Koridor Pendukung Tol Trans Sumatera

Mobil melintasi jalan tol ruas Banda Aceh- Sigli seksi 4 Indrapuri - Blang Bintang di Aceh, Jumat (21/2/2020). Ruas jalan tol Sigli - Banda Aceh sepanjang 74 km itu merupakan tol pertama di Aceh dan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)
Mobil melintasi jalan tol ruas Banda Aceh- Sigli seksi 4 Indrapuri - Blang Bintang di Aceh, Jumat (21/2/2020). Ruas jalan tol Sigli - Banda Aceh sepanjang 74 km itu merupakan tol pertama di Aceh dan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). (Photo by CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

PT Hutama Karya (Persero) terus membangun ruas-ruas feeder atau koridor pendukung Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.765 km. Salah satu ruas koridor pendukung yang saat ini tengah dalam proses konstruksi adalah koridor Palembang – Bengkulu.

Pada ruas tol koridor pendukung Palembang–Bengkulu terdiri dari tiga ruas, yakni ruas Simpang Indralaya – Muara Enim (119 km) yang terbagi menjadi 2 (dua) seksi. Yaitu seksi 1 Indralaya – Prabumulih (65 km) dan seksi 2 Prabumulih – Muara Enim (54 km).

Kedua, ruas Muara Enim – Lubuk Linggau (115 km).

Dan ketiga ruas Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (96 km) yang terbagi menjadi 3 (tiga) seksi. Yakni seksi 1 Bengkulu – Taba Penanjung (18 km), seksi 2 Taba Penanjung – Kepahiang (28 km) dan seksi 3 Kepahiang – Lubuk Linggau (54 km).

Ketiga ruas ini merupakan perluasan dari ruas Palembang – Simpang Indralaya sepanjang 22 km yang telah beroperasi penuh sejak 2018 silam.

Direktur Operasi I Hutama Karya Suroto menjelaskan, di tengah situasi pandemi, proyek pembangunan masing-masing ruas terus berjalan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat bagi seluruh karyawan dan pekerja.

"Ruas Sp Indralaya – Muara Enim sepanjang 119 km dan ruas Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu sepanjang 96 km telah dimulai konstruksinya, sedangkan ruas Muara Enim – Lubuk Linggau sepanjang 115 km masih dalam proses persiapan konstruksi,” kata Suroto dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2020).

Secara teknis, hingga saat ini progres pembangunan pada koridor pendukung Palembang – Bengkulu oleh Hutama Karya, yakni Ruas Sp Indralaya – Muara Enim (119 km) seksi 1 Indralaya – Prabumulih (65 km) telah mencapai 17 persen progres konstruksi. Dan seksi 2 Prabumulih – Muara Enim (54 km) telah mencapai 4 persen progres konstruksi.

“Sedangkan ruas Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu (96 km) yang saat ini telah dimulai konstruksinya yakni sesi 1 Bengkulu – Taba Penanjung (18 km) termasuk pesat dalam pembangunannya dengan progres konstruksi mencapai 51 persen dan progres pembebasan lahan mencapai 70 persen,” jelas dia.

Dapat Dukungan

Jalan Tol Sigli Banda Aceh (Sibanceh) Seksi 4 (Indrapuri–Blang Bintang) yang menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.765 km. (Dok Hutama Karya)
Jalan Tol Sigli Banda Aceh (Sibanceh) Seksi 4 (Indrapuri–Blang Bintang) yang menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.765 km. (Dok Hutama Karya)

Keberadaan jalan tol di sepanjang koridor Palembang – Bengkulu didukung penuh oleh komponen masyarakat dan pihak-pihak terkait.

Untuk ruas Sp Indralaya – Muara Enim, Hutama Karya mengucapkan terima kasih kepada PT Perkebunan Nusantara VII, karena konstruksi yang saat ini sedang berjalan dan pesat progresnya berada di atas lahan milik PTPN VII.

"Sedangkan di ruas Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu seksi Bengkulu – Taba Penanjung, progress pembangunan cukup pesat karena masyarakat menilai pembangunan tol ini positif," kata Suroto.

Berkat dukungan masyarakat, proses pembebasan lahan bisa bergerak secara maksimal dan konstruksi terus berjalan.

"Kami berharap kedepannya, proses percepatan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak terkait, sehingga minim kendala dan kami dapat terus menghubungkan kebaikan untuk masyarakat Indonesia.” tutup dia.

Infografis 4 Ruas Jalan Tol Trans Sumatera Siap Beroperasi Pertengahan 2019.
Infografis 4 Ruas Jalan Tol Trans Sumatera Siap Beroperasi Pertengahan 2019.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: