Raperda Ponpes, F-PDIP Jatim Minta Masukan Pengasuh Pesantren

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Rancangan Peraturan Daerah Pengembangan Pondok Pesantren (Raperda Ponpes) kini tengah dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur. Untuk mengawal itu, Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP) melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren serta mengundang beberapa ulama dan pengasuh pesantren di Jatim, meminta pendapat mereka.

“Kita akan kawal dan ikut membahas dengan intens, bahkan juga melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur,” kata Ketua F-PDIP Sri Untari Bisowarno pada Rabu, 10 Maret 2021.

Untari mengatakan, PDIP selama ini memiliki kedekatan dengan dengan kalangan pondok pesantren. Bagi partai berlambang kepala banteng moncong putih itu, kedekatan dengan para ulama dan pesantren dibangun sebagai bagian dari amanah guru besar kader PDIP, yakni Bung Karno.

"Apalagi kami sadari bahwa pondok pesantren adalah salah satu pilar penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Maka sudah sangat wajar jika kami cukup serius turut andil dalam pembahasan Raperda Pondok Pesantren. Semoga Raperda ini nanti membawa kemaslahatan untuk kita semua," tutur Untari.

Tak hanya melakukan kunjungan ke beberapa pesantren, untuk menambah bekal dalam pembahasan Raperda Ponpes, F-PDIP juga mengundang ulama pengasuh ponpes. Di antaranya Pengasuh Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo, Muhammad Zakki.

Di depan anggota fraksi, Kiai Zakki, sapaan akrab Muhammad Zakki, banyak memberi masukan kepada anggota F-PDIP, khususnya bagi anggota fraksi yang masuk panitia khusus Raperda Ponpes, sebagai bahan pembahasan.

“Masukan dari Pak Kiai Zakki, tentu sangat berharga bagi kami sebagai bekal dalam pembahasan Raperda Ponpes. Sehingga nantinya perda ini benar-benar menyentuh pesantren, dan tepat sasaran,” ujar Untari.

Kiai Zakki mengatakan, Perda Ponpes nantinya akan menjadi ruh masa depan pesantren di Jatim. Untuk melakukan pengembangan pesantren menuju pesantren entrepreneur yang selaras dengan program Pemprov Jatim, yakni ‘one pesantren one product’ atau OPOP, tidak bisa dipukul rata satu pesantren dengan yang lainnya.

Menurutnya, langkah awal untuk membangun pondok pesantren berbasis entrepreneur adalah dengan membangun karakter santripreneur. Kalau karakter santri sudah terbentuk, maka akan muncul jihadpreneur, yakni jihad untuk bekerja dan itu bagian dari ibadah.

“Pesantrenpreneur ini pertama penguatan karakterpreneur. Kalau karakter ini tidak dibentuk di pesantren, apapun yang kita berikan pasti mubazir. Penguatan manajemen ini penting menurut saya dan sering saya sampaikan bahwa pesantren itu harus dikelola secara profesional, kemudian jangan memproduksi produk tapi kuasai pasar terlebih dahulu,” ujar Kiai Zakki.

Anggota Pansus Raperda Ponpes Erma Susanti mengaku terbantu dengan masukan para pengasuh pesantren yang dihadirkan oleh F-PDIP. "Ide ini bagus sekali dan ini coba kami laksanakan. Ternyata sangat bermanfaat karena memberi wawasan lebih luas lagi kepada kami. Nanti tradisi ini kami teruskan mengundang pakar-pakar sesuai dengan perda yang dibahas untuk berdiskusi di fraksi kami,” katanya.