Rapid Test Negatif, Bukan Jaminan Aman Virus Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta- Pemerintah RI mulai menggelar Rapid Test untuk mengantisipasi penyebaran virus corona covid-19, sejak Jumat (23/3). Orang-orang yang berisiko dites melalui sample darah untuk mengetahui kondisi terkait virus corona covid-19.

Jika positif, orang yang diperiksa akan ditangani lebih lanjut untuk melalui tahapan tes selanjutnya. Namun, kalaupun negatif, bukan berarti dia benar-benar aman.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona Covid-19 Achmad Yurianto meminta agar masyarakat yang dinyatakan negatif Virus Corona menggunakan rapid test tetap waspada.

Sebab hasil negatif saat pemeriksaan dengan alat rapid test tidak menjadi jaminan jika seseorang dalam kondisi tidak sakit karena hanya untuk mengukur kadar antibodi.

"Perlu dipahami bersama, bahwa hasil negatif tidak memberikan jaminan bahwa yang bersangkutan tidak sedang sakit. Karena kita ketahui pemeriksaan rapid test ini adalah berbasis untuk mengukur kadar antibodi dari munculnya virus corona covid-19," kata Yurianto di akun BNPB, Jakarta Timur, Senin (23/3).

Butuh Beberapa Hari

Menurut Yurianto, diperlukan beberapa hari agar Covid-19 terdeteksi seusai pemeriksaan rapid test.

"Dibutuhkan waktu beberapa hari sejak infeksi itu terjadi agar antibodi muncul dan bisa terdeteksi. Oleh karena itu pada saat pemeriksaan memberikan hasil negatif, bisa pada sebenarnya antibodi belum terbentuk karena infeksinya baru berlangsung kurang dari 7 hari," katanya.

 

Pemeriksaan Ulang di Hari ke-7

Juru Bicara Indonesia untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto memberikan keterangan terkait corona di Kantor Presiden, Komplek Istana, Jakarta, Jumat (6/3/2020). 25 orang ini kita lakukan pemeriksaan virus karena tidak seluruhnya kontak dekat tapi event yang sama. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Untuk itu, lanjutnya, perlu ada pemeriksaan ulang setelah hari ketujuh sampai kesepuluh seusai pemeriksaan rapid test. Sehingga, hasil akhirnya akan diketahui.

"Oleh karena itu langkah yang harus dilakukan berikutnya adalah dilakukan pemeriksaan ulang setelah hari ke-7 sampai dengan hari kesepuluh, untuk kita ukur kembali antibodinya. Manakala hasil pemeriksaan kedua ini masih tetap negatif, kita bisa menyimpulkan bahwa saat ini sedang tidak terinfeksi. tetapi ingat, bahwa kita belum punya kekebalan untuk tidak terinfeksi," pungkasnya.

Siapkan Obat

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers saat meninjau Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool)

Selain menggelar Rapid Test, pemerintah melalui Presiden Joko Widodo juga menyiapkan obat dari hasil riset dan pengalaman beberapa negara agar bisa digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus SARS-Cov-2 tersebut.

"Obat pertama yang akan didatangkan adalah obat flu Avigan. Kita telah mendatangkan lima ribu, akan kita coba dan dalam proses pemesanan dua juta. Sementara itu, obat kedua adalah chloroquin yang telah disiapkan sebanyak tiga juta," katanya, saat temu media di Istana negara, Jumat (20/3/2020).

 

 

Siaga Penuh

Pemerintah memang benar-benar bersiaga penuh menghadapi serangan virus corona covid-19 ini. Sebab, penyebarannya memang benar-benar meresahkan di Indonesia.

Hingga Minggu (22/3), di Indonesia tercatat telah 579 orang positif terjangkit virus corona covid-19. Total, ada 49 orang meninggal.

(Merdeka.com/Ronald Chaniago)