Rapor Chelsea di Final Liga Champions: Top Markotop! Bak Lulus UN dengan Nilai Nyaris Sempurna

·Bacaan 5 menit

Bola.com, Jakarta - Chelsea menjadi jawara Liga Champions musim 2020-2021. Pada laga final yang digelar di Estadio do Dragao, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB, The Blues menang dengan skor 1-0 atas Manchester City.

Pertandingan berlangsung intensitas tinggi sejak awal. Man City dominan, tapi Chelsea lebih efektif dalam memaksimalkan peluang.

Gol semata wayang Chelsea dicetak oleh Kai Havertz di menit ke-42. Setelahnya Man City terus menyerang, tapi tidak bisa mencetak gol balasan. Mereka kerepotan menghadapi strategi pertahanan berlapis The Blues.

Lantas, seperti apa rapor para pemain Chelsea? Pastinya mayoritas pemain Chelsea bisa dibilang punya rapor mentereng di sepanjang laga final. Jika diibaratkan siswa yang mengikuti Ujian Nasional (UN), nilai yang mereka kantongi mengamankan kelulusan. Simak analisisnya di bawah ini:

Kiper

Raheem Sterling dari Manchester City gagal melewati kiper Chelsea, Edouard Mendy pada pertandingan final Liga Champions di Stadion Dragao di Porto, Portugal, Sabtu, 29 Mei 2021. (AP Photo / Manu Fernandez , Pool)
Raheem Sterling dari Manchester City gagal melewati kiper Chelsea, Edouard Mendy pada pertandingan final Liga Champions di Stadion Dragao di Porto, Portugal, Sabtu, 29 Mei 2021. (AP Photo / Manu Fernandez , Pool)
  • Edouard Mendy (8)

Mendy sejatinya tidak punya banyak ancaman di laga final Liga Champions. Sebab, sepanjang laga, hanya ada satu shots on target yang dilepas pemain Man City.

Namun, secara umum aksi Mendy tetap gemilang. Pada akhir babak kedua, Mendy mampu menangkap bola sepakan Aguero yang bisa saja menyulitkan karena arahnya tidak terduga.

Belakang

Bek Chelsea, Cesar Azpilicueta (atas) berebut bola dengan gelandang Manchester City, Raheem Sterling dalam laga lanjutan Liga Inggris 2020/2021 pekan ke-35 di Etihad Stadium, Manchester, Sabtu (8/5/2021). Chelsea menang 2-1 atas Manchester City. (AP/Shaun Botterill/Pool)
Bek Chelsea, Cesar Azpilicueta (atas) berebut bola dengan gelandang Manchester City, Raheem Sterling dalam laga lanjutan Liga Inggris 2020/2021 pekan ke-35 di Etihad Stadium, Manchester, Sabtu (8/5/2021). Chelsea menang 2-1 atas Manchester City. (AP/Shaun Botterill/Pool)
  • Reece James (8)

Reece James kali ini tidak banyak melakukan aksi menyerang. Reece James nampaknya mendapat tugas untuk lebih banyak berada di area pertahanan. James menjalankan tugas ini dengan baik.

James membuat Raheem Sterling tidak banyak mendapat peluang. James menjadi pemain yang paling banyak melakukan tekel [7 kali] dan sapuan [5 kali]. Performa yang luar biasa.

  • Cesar Azpilicueta (9)

Azpilicueta patut bangga dengan aksi yang ditampilkan pada laga final Liga Champions. Azpi tampil sangat solid dan menentukan bagi Chelsea. Bukan hanya secara teknis, tapi juga sebagai kapten.

Salah satu aksi penting Azpi terjadi pada menit ke-67. Man City punya peluang emas dari Mahrez yang melepas umpan pada Gundogan. Namun, Azpi mampu melakukan sapuan penting dan membuang bola

  • Thiago Silva (7)

Silva menunjukkan pengalaman dan kematangan yang dibutuhkan Chelsea di laga final. Sebelum ditarik keluar pada menit ke-40 karena cedera, Silva tampil sangat bagus di lini belakang.

Ban kapten memang tidak ada di lengan Silva, tetapi dialah yang mengatur dan memberi komando di lini tengah. Hanya saja, aksinya berakhir prematur karena cedera.

  • Antonio Rudiger (9)

Rudiger bermain sangat solid. Dia melakukan blok penting pada peluang Phil Foden pada babak pertama. Tanpa blok dari Rudiger, mungkin Chelsea akan tertinggal lebih dulu pada duel ini.

Rudiger juga memainkan umpan panjang dengan baik ke depan untuk memulai serangan balik. Rudiger kemudian juga 'berjasa' mengeluarkan Kevin De Bruyne dari lapangan karena cedera usai benturan dengannya.

  • Ben Chilwell (9)

Chilwell bermain agresif saat menyerang. Kolaborasi dengan Mason Mount berjalan sangat baik. Namun, Chilwell juga tidak pernah lalai menjalankan tugas bertahan.

Chilwell melakukan sapuan yang sangat penting pada menit ke-74. Jika tidak ada bek 24 tahun, mungkin saja hasil akhir laga akan berbada pada momen penting tersebut.

Tengah

Para pemain Chelsea mengangkat N'golo Kante, saat merayakan gelar juara Liga Champions usai menaklukkan Manchester City pada laga final di Stadion Dragao, Minggu (30/5/2021). Chelsea menang dengan skor 1-0. (AP/Manu Fernandez, Pool)
Para pemain Chelsea mengangkat N'golo Kante, saat merayakan gelar juara Liga Champions usai menaklukkan Manchester City pada laga final di Stadion Dragao, Minggu (30/5/2021). Chelsea menang dengan skor 1-0. (AP/Manu Fernandez, Pool)
  • Jorginho (9)

Jorginho mungkin tidak banyak terlihat pada duel melawan Man City. Namun, jika dicermati, gelandang asal Italia itu punya tugas yang penting. Dia selalu berada di ruang antarlini dan menutup wilayah gerak Riyad Mahrez atau Bernardo Silva.

Jorginho acap kali melakukan pelanggaran untuk menghentikan serangan Man City. Hal itu sangat penting karena Man City punya serangan balik yang sangat berbahaya.

  • N'Glolo Kante (10)

Sempurna, Kante!

Sekali lagi Kante bukan hanya pemain berlari-lari keliling lapangan. Kante bergerak dengan sangat efektif. Kante tahu betul harus bergerak ke mana, kapan harus turun membantu lini belakang dan kapan bisa memulai serangan.

Kante membuat Kevin De Bruyne tidak berkutik. Pada babak pertama, Kante dua kali melakukan tekel yang menggagalkan upaya serangan balik Man City lewat De Bruyne. Aksi yang paripurna dari Kante.

  • Mason Mount (9)

Mount kembali membungkam semua keraguan atas potensi yang dimiliki. Mount tampil sangat apik pada babak pertama. Dia membuat 22 umpan dan semuanya sukses. Salah satu umpan Mount kemudian menjadi assist bagi gol Havertz.

Mount juga memainkan peran yang vital ketika Chelsea dalam fase bertahan. Mount memberi pressing yang ketat pada Ilkay Gundogan dan membuatnya tidak mampu mengalirkan bola dengan baik.

Depan

Penyerang Chelsea, Kai Havertz, mencetak gol ke gawang Manchester City pada laga final Liga Champions di Stadion Dragao, Minggu (30/5/2021). Chelsea sementara unggul 1-0 di babak pertama. (Jose Coelho/Pool via AP)
Penyerang Chelsea, Kai Havertz, mencetak gol ke gawang Manchester City pada laga final Liga Champions di Stadion Dragao, Minggu (30/5/2021). Chelsea sementara unggul 1-0 di babak pertama. (Jose Coelho/Pool via AP)
  • Kai Havertz (9)

Keputusan Tuchel memainkan Kai Havertz terbukti jitu. Havertz mampu memberi pergerakan yang tidak terduga di lini depan Chelsea. Salah satunya pada proses golnya. Havertz ada dalam posisi yang sangat bagus dan tidak terkawal.

Havertz sejatinya punya beberapa gerakan atau peluang emas lainnya. Namun, pemain asal Jerman belum cukup tajam untuk mengkoversinya menjadi gol. Termasuk saat menerima umpan Kante pada menit ke-37.

  • Timo Werner (6)

Timo Werner memainkan peran yang bagus untuk membuka ruang dan meregangkan pertahanan Man City. Salah satu contoh dari skema ini terjadi pada gol Kai Havertz di mana Ruben Dias terpancing untuk keluar dari areanya.

Namun, dari sisi konversi peluang, Timo Werner sangat buruk. Pemain asal Jerman itu punya empat shots pada babak pertama. Namun, hanya satu yang tepat sasaran dan itu tidak terlalu membahayakan.

Pemain Pengganti

Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel, merayakan kemenangan bersama Andreas Christensen usai mengalahkan Real Madrid pada leg kedua semifinal Liga Champions, di Stadion Stamford Bridge, Kamis (06/05/2021). Chelsea menang dengan skor 2-0. (AFP/Glyn Kirk)
Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel, merayakan kemenangan bersama Andreas Christensen usai mengalahkan Real Madrid pada leg kedua semifinal Liga Champions, di Stadion Stamford Bridge, Kamis (06/05/2021). Chelsea menang dengan skor 2-0. (AFP/Glyn Kirk)
  • Andreas Christensen (8)

Christensen tidak cukup bugar jelang laga final. Dia memulai dari bangku cadangan. Pemain asal Denmark menggantikan peran Thiago Silva yang mengalami cedera pada menit ke-40.

Christensen tampil solid dan membuat pemain Man City tidak punya banyak celah di dekat kotak penalti. Salah satu aksi impresif Christensen yakni saat memblok peluang Phil Foden pada menit ke-90.

  • Christian Pulisic (6)

Pulisic menggantikan Werner pada menit ke-66. Pemain asal Amerika Serikat itu punya satu peluang emas pada menit ke-72. Hanya saja, eksekusi Pulisic masih melebar dari gawang Ederson Moraes.

Andai Pulisic mencetak gol pada momen ini, mungkin Chelsea akan menjalani sisa laga dengan lebih mudah.

  • Mateo Kovacic (7)

Kovacic dimainkan pada menit ke-80. Dia menggantikan peran Mason Mount. Tidak banyak waktu yang dimiliki Kovacic di atas lapangan. Namun, dia mampu melakukan tugas dengan baik dan membantu Chelsea tidak kebobolan.

Pelatih

Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel mencium trofi Liga Champions saat merayakan juara usai mengalahkan Manchester City pada babak final Liga Champions di Stadion Dragao di Porto, Portugal, Minggu (30/5/2021).  Chelsea menang tipis atas City dengan skor 1-0. (Susana Vera/Pool via AP)
Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel mencium trofi Liga Champions saat merayakan juara usai mengalahkan Manchester City pada babak final Liga Champions di Stadion Dragao di Porto, Portugal, Minggu (30/5/2021). Chelsea menang tipis atas City dengan skor 1-0. (Susana Vera/Pool via AP)
  • Thomas Tuchel (10)

Tuchel layak mendapat kredit besar atas sukses yang diraih Chelsea. Sebab, sejak awal laga, dia punya rencana yang jelas. Tuchel punya strategi yang tepat dan memilih pemain yang tepat.

Salah satu keputusan penting yang dibuat Tuchel adalah dengan memainkan Azpilicueta sebagai fullback. Azpi tampil sangat baik. Dia bisa mematikan gerakan Raheem Sterling di sisi kanan.

Pergantian pemain yang dibuat Tuchel juga sangat apik.

Sumber asli: Bola

Disadur dari: Bola.net (Asad Arifin, Published 30/5/2021)

Video