Rapor Seri 1 BRI Liga 1: Tragedi Kencangnya Rollercoaster Klaster DKI, Banten, dan Jabar

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Seri pertama BRI Liga 1 2021/2022 telah menyelesaikan 54 pertandingan dengan berbagai dinamika yang berubah cepat tiap pekan.

Para stakeholder sepakbola Nasional mulai PSSI, PT LIB, dan 18 kontestan telah sukses melewati ujian dari Pemerintah terkait pelaksanaan prokes COVID-19 dengan ketat.

Namun di luar keberhasilan itu, sebenarnya klaster DKI, Banten, dan Jabar bak sebuah rollercoaster yang sangat kencang larinya. Saking cepatnya semua organ di dalam tubuh seperti nyaris meloncat keluar.

Hampir tiap pekan adrenalin 18 pelatih klub diaduk-aduk dengan berbagai rasa. Mulai eforia, was-was, kecewa, hingga jantung yang berdegup lebih keras dari biasanya.

Belum stabilnya performa tiap tim membuat para arsitek dihantui keraguan. Jurutaktik yang saat ini menguasai the big five klasemen sementara seperti Paul Munster, Imran Nahumarury, Stefano Teco Cugurra, Angelo Alessio, dan Robert Rene Alberts tak luput dari kecamuk emosi tersebut.

Meski saat ini Persija dan Persib beriringan di urutan keempat dan kelima, Alessio dan Roberts belum bisa tidur nyenyak. Pasalnya raihan impresif tersebut masih dinilai miring para pendukungnya.

Bobotoh hingga menggeruduk dan mengirim karangan bunga duka cita ke Graha Persib. Mereka menuntut perbaikan tim yang hingga pekan keenam jadi spesialis imbang di BRI Liga 1.

Jalan Berliku Persebaya

Sama halnya dengan Bruno Moreira, Aji Santoso juga mempertahankan pemain Brasil tersebut untuk terus bermain. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Sama halnya dengan Bruno Moreira, Aji Santoso juga mempertahankan pemain Brasil tersebut untuk terus bermain. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Soal karangan bunga juga pernah dikirimkan Bonekmania kepada Persebaya yang dinilai bermain tanpa darah khas Suroboyoan. Namun sindiran Bonekmania ini berdampak positif pada performa anak asuh Aji Santoso pada laga berikutnya.

Tapi, Aji Santoso masih belum bisa tenang. Meski penampilan Rahmat Irianto dkk. meningkat cukup signifikan, namun posisi Persebaya berada di urutan ke-12 klasemen sementara.

Di papan bawah, dua sosok kondang yang sarat mahkota juara seperti Jacksen Tiago dan Djadjang Nurdjaman pun ketar-ketir. Karena Persipura dan Barito Putera terbenam di zona degradasi.

Kemenangan Persipura atas Persela dan sukses Barito Putera membekuk PSM hanya eforia sesaat yang tak mampu menutupi derita akibat jumlah kekalahan yang banyak dari dua klub tersebut.

Derita Mario Gomez, Joko Susilo, dan Paulo Gracia

Pelatih Borneo FC, Mario Gomez saat melawan Persebaya dalam laga pekan pertama BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (04/09/2021). Borneo FC menang 3-1. (Foto: Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Pelatih Borneo FC, Mario Gomez saat melawan Persebaya dalam laga pekan pertama BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (04/09/2021). Borneo FC menang 3-1. (Foto: Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Hingga berakhirnya seri pertama BRI Liga 1, untuk sementara 16 pelatih masih bisa menghirup udara bebas. Di antara para arsitek yang menarik kisah Mario Gomez dan Joko Susilo. Kebetulan mereka pernah berkolaborasi di Arema FC.

Dua jurutaktik ini terpaksa harus menyingkir dan turun panggung lebih cepat dari gebyarnya pesta BRI Liga 1 musim ini. Uniknya, Mario Gomez mundur teratur dari Borneo FC setelah tim ini dipermalukan Persik 0-1.

Bak sebuah hukum karma. Joko Susilo juga dipaksa manajemen Persik menepi usai laga pamungkas seri pertama kontra PSS.

PSS Sleman Panas

Selebrasi pemain Persebaya Surabaya, Ricky R. Kambuaya (dua kiri) usai menjebol gawang PSS Sleman saat laga pekan kelima BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Rabu (29/09/2021). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Selebrasi pemain Persebaya Surabaya, Ricky R. Kambuaya (dua kiri) usai menjebol gawang PSS Sleman saat laga pekan kelima BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Rabu (29/09/2021). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bicara PSS. Drama yang dilakoni klub berjuluk Super Elja ini tak kalah seru dibanding tragedi yang dialami Mario Gomez dan Joko Susilo. Episode PSS ini jadi puncak dan penutup tabir panggung seri pertama.

Posisi pelatih Dejan Antonic juga berada di ujung tanduk. Dia dituntut mundur fans fanatik PSS. Namun manajemen PSS masih 'melindungi' Dejan.

Sosok yang jadi korban malah sang Komisaris Paulo Gracia. Karena tekanan pendukung PSS yang sangat masif dan kuat, Paulo Gracia harus dilarikan ke rumah sakit akibat terkena serangan jantung. Peristiwa ini terjadi usai Paulo beraudiensi dengan perwakilan suporter dari Sleman yang sengaja menggeruduk ke Bandung.

Semoga korban kencangnya rollercoaster seri pembuka ini baik-baik saja. Mario Gomez dan Joko Susilo bisa kembali menikmati kehidupan normal dengan keluarga mereka. Dan, Paulo Gracia pulih seperti sedia kala.

Namun drama belum selesai. Seri kedua dengan klaster baru di DIY dan Jateng masih mungkin terjadi episode-episode baru yang menguras emosi dan memacu adrenalin.

Kita tunggu saja. Siapa akan jadi korban kerasnya rollercoaster Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang) nanti.

Intip Posisi Tim Favoritmu

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel