Rata-rata pendidikan orang Indonesia 5,8 tahun atau tak lulus SD

MERDEKA.COM. Indonesia kini menghadapi ancaman besar di bidang kependudukan. Selain laju pertumbuhan yang tinggi yakni di kisaran 1,49% atau 4-4,5 juta jiwa per tahun, kualitas penduduk di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Rata-rata pendidikan penduduk Indonesia adalah 5,8 tahun atau tidak lulus Sekolah Dasar (SD).

Untuk kualitas penduduk, saat ini Indonesia berada di peringkat 124 dunia dari 187 negara.

"Jumlah penduduk kita saat ini 250 juta, menempati urutan ke-4 dunia. Akan tetapi kualitas penduduk kita berada di urutan 124 dari 187 negara," ujar Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wendy Hartanto, di Solo, Jawa Tengah, Senin (20/5).

Dengan tingkat pendidikan yang masih rendah, lanjut Wendy, dikhawatirkan warga Indonesia akan jadi buruh di negara sendiri. Meskipun jumlah penduduknya besar tetapi kualitasnya rendah.

Selain masalah laju pertumbuhan dan kualitas, persoalan serius lainnya adalah penyebaran yang belum merata, serta data dan informasi kependudukan yang minim.

"Saat ini 59% penduduk Indonesia masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, ini kondisi yang kurang menguntungkan untuk pembangunan," tandasnya.

Wendy melanjutkan, dalam hal ketersediaan data, antara daerah yang satu dengan yang lain belum sama. Hal itu merupakan imbas dari desentralisasi urusan kependudukan dan keluarga berencana yang diterapkan sejak tahun 2000.

"Kami tidak menyalahkan otonomi daerah, tapi harus diakui sejak itu penggarapan dan penganggaran menjadi kurang," kata Wendy.

Untuk mengatasi hal BKKBN kini memperluas kerja sama kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Salah satunya adalah UNS melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang akan dimulai Agustus tahun ini.

"Ada 5.000 mahasiswa yang akan diterjunkan untuk membantu menyosialisasikan soal kependudukan dan keluarga berencana itu," jelas Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Darsono.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.