Ratusan Bobotoh Lepas Kepergian Rangga

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku M Guci Syaifudin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Satu diantara tiga suporter tewas usai menyaksikan laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (27/5/2012) sore, ternyata merupakan anggota Viking. Korban itu bernama Rangga Cipta Nugraha, putra pertama dari pasangan Aad Kosasih dan Iip Saripah.

Tak pelak, sejak pukul 10.00 pagi ratusan anggota Viking Persib Club yang mendengar kabar itu langsung berkumpul di rumah duka Rangga yang berada di Jalan Raden Edang Suanda, Kampung Pasir Leutik, Desa Padasuka, Kecamatan Cimeunyan Kabupaten Bandung, Rt 02/Rw 04.

Kedatangan mereka dalam rangka menyambut Rangga Cipta Nugraha yang menjadi salah satu korban kebiadaban oknum suporter usai pertandingan Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu (27/5/2012) sore.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, almarhum Rangga bekerja sehari-hari di jasa pengiriman DHL Jakarta Pusat. Kebetulan dia yang mendapatkan libur menyaksikan pertandingan laga Persib kontra Persija. Rangga dikabarkan duduk di Tribun Sektor Selatan Stadion GBK. Di mana tempat itu merupakan berdiamnya garis keras The Jakmania.

Tanpa disadari Rangga secara spontan girang di tengah para pendukung The Jakmania saat sang kapten Persib Bandung, Maman Abdurahman mampu menyamakan kedudukan skor menjadi 2-2.

Tak pelak, Rangga menjadi incaran oknum suporter lawan. Hingga pada akhirnya di luar stadion dia diseret dan dikeroyok hingga akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta Minggu (27/5/2012) malam.

Rangga tewas dengan tubuh penuh luka memar dan wajahnya rusak parah akibat pukulan benda tajam dan tumpul setelah dikeroyok massa suporter Persija usai pertandingan. Kabarnya, kepalanya pecah dan wajahnya rusak akibat sayatan benda tajam.

Jenazah Rangga baru diketahui keluarganya pada Senin (28/5/2012) pukul 18.00 WIB setelah mendapat telepon dari pihak RSCM. Kemudian, pihak keluarganya segera menuju Jakarta untuk memastikan jasad Rangga. Dan pihak keluarga, yakni Aad dan Iip membenarkan bahwa yang menjadi korban kebrutalan oknum suporter Persija adalah Rangga ketika melihat ciri-ciri dari anaknya.

Rangga pun tiba di Bandung pukul 16.10 WIB dengan menggunakan mobil jenazah nomor polisi B 1162 FFZ. Setibanya di rumah duka tangisan pun memecah disertai teriakan Allahu Akbar. Ibu korban Iip tak kuasa menahan tangis. Putra pertama dari pasangan dari Aad dan Iif dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cimuncang, Kabupaten Bandung.

Ratusan bobotoh yang menunggu sejak pagi pun turut mengumandangkan takbir saat keranda jenazah diusung menuju rumah duka. Setelah dimandikan ulang dan disalatkan di Masjid Al-Karimah yang tak jauh dari rumahnya, jenazah kemudian diusung lagi menuju TPU.

Tepat di bawah pohon Alpukat di TPU Cimuncang, Kabupaten Bandung, Selasa (29/5/2012) sore, jenazah Rangga Cipta Nugraha (22), secara perlahan diturunkan ke liang lahat.

Isak tangis keluarga almarhum pun mengiringi dan mewarnai suasana pemakaman yang begitu hening. Awan mendung dibarengi hujan gerimis tak menyurutkan niat para pelayat untuk tetap menyaksikan proses pemakaman. Hingga kemudian lantunan Surat Al Fatihah terdengar dan menggema sebagai tanda usainya proses pemakaman.

Tak ayal, ratusan pelayat yang menyaksikan dan mengantarkan Rangga hingga ke liang lahat pun berduyun-duyun meninggalkan TPU. Jam pun menunjukkan pukul 17.15 WIB namun hanya Aad, yang masih berdiri tepat di sebelah kiri makam anak tercintanya.

Aad pun terlihat tak bisa menyembunyikan kesedihannya kala melihat padung tertancap di atas pusara. Namun, dia tetap bersikap tegar atas nasib yang menimpa anaknya dengan tersenyum sembari menyalami para pelayat, termasuk Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB), Umuh Muchtar. "Sabar, sabar," demikian ucap para pelayat yang memeluk Aad.

Ayah tiri Korban, Teguh Rianto (42), ketika ditemui wartawan berharap, kedepan tidak ada lagi korban seperti anaknya ketika menyaksikan pertandingan sepak bola di Indonesia.

"Semoga Rangga menjadi korban terakhir dalam kekerasan suporter," ujarnya di Jalan Raden Edang Suwanda, Terusan Cimuncang, Kabupaten Bandung, Selasa (29/5/2012) sore.

Teguh pun ingin kasus kekerasan yang menimpa anaknya diusut tuntas oleh pihak kepolisian yang berwenang. Bahkan, Teguh mengancam nama suporter yang digunakan oknum pembunuh anaknya dilarang menginjakkan kaki di Kota Bandung. "Sebelum kasus selesai jangan ada The Jakmania menginjakkan kaki di tatar sunda," ujar Teguh.

Sementara itu, Umuh yang juga datang ke rumah duka sejak pukul 16.00 WIB menyatakan hal yang sama. Menggunakan kaos biru bercelana jeans biru dia pun merasakan kehilangan. Hal itu dikatakannya ketika ditemui wartawan di rumah duka. "Ini mengenaskan saya sangat mengutuk dengan kejadian ini," ujar Umuh.

Umuh sangat menyesalkan kinerja pihak Panpel Persija. Pasalnya, panpel sempat menjamin keamanan jika pertandingan akan berlangsung dengan aman. Namun kenyataannya tetap ada korban dari pihak suporter. Bahkan, satu korban tersebut adalah Rangga.

Karena itu, Umuh menegaskan pihak penyelenggara pertandingan harus bertanggung jawab karena sebelumnya pihak panpel menjamin bahwa pelaksanaan pertandingan akan berjalan aman.

"Saya harap pihak panpel Persija bisa menyelesaikan hingga tuntas karena ini sudah keterlaluan dan biadab," katanya.

Meski begitu, Umuh yang datang juga mewakili PT PBB akan memberikan santunan kepada keluarga korban. Dia pun berharap tidak ada kejadian lagi serupa kedepannya. "Saya dapat merasakan bagaimana sedihnya keluarga korban, apalagi saya juga dulu sebagai bobotoh," katanya.

Menurut Ketua Viking Persib Club, Herru Joko, mengenal betul sosok Rangga. Dia pun membenarkan Rangga merupakan anggota Viking Kampus Poltekspos Bandung.

Karena itu, Heru terkejut ketika mendengar kabar tersebut. Apalagi, Heru mendengar status Blackberry-nya berubah berganti dengan judul dan bertuliskan kapital "Ini Jakarta bukan Bandung".

"Dia (Rangga) adalah orang yang aktif ketika Viking mengadakan rapat saya begitu mengenal dia dan saya kaget ketika melihat fotonya," ujar Herru ketika ditemui wartawan di Jalan Banda, Kota Bandung, Selasa (29/5/2012).

Herru pun mengatakan, pihaknya sebelumnya sempat bertemu dengan Ketua The Jakmania, Ferry Indra Syarif untuk menyerukan perdamaian antara Viking dan The Jak di Kota Bandung.

Itu mengapa, kata Herru, spanduk bertuliskan The Jak - Viking Bersatulah sebelum pertandingan Persib Bandung kontra Persija dimulai menjadi tak berarti. Pasalnya, korban tetap berjatuhan di kubu Persib. Meski begitu, Herru mengatakan tetap terus menyerukan perdamaian antara Viking dan The Jakmania.

"Kami akan tetap berdamai. Dan kami berharap Rangga adalah korban terakhir," katanya.

Sebagai bentuk keprihatinan, Herru meminta kepada pengelola dan penanggung jawab kompetisi Liga Super Indonesia (LSI) musim 2011/2012 untuk melarang setiap pertandingan dihadiri penonton hingga kompetisi usai. Tujuannya, menjadi pelajaran bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Semua yang terlibat dalam persepakbolaan bisa berfikir dewasa, termasuk penonton dan panpelnya sendiri," kata Herru.

Di kalangan teman-temannya, Rangga dikenal sebagai eks anggota Viking sejak duduk di bangku SMA. Namun, setelah lulus dari Politekpos Bandung, Rangga memutuskan bekerja di Jakarta hingga akhirnya ia harus meninggal secara mengenaskan di tangan oknum suporter yang tak bertanggung jawab. (dna/ff)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.