Ratusan Guru Madrasah Belum Terima Tunjangan Fungsional, Kok Bisa?

REPUBLIKA.CO.ID,  MALANG -- Sebanyak 569 guru madrasah di Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum menerima uang tunjangan fungsional guru Madrasah tahun 2011. Kepala Seksi (Kasi) Madrasah Pendidikan Agama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, H Abdur Rahman, mengatakan, ratusan guru yang tidak terima tunjangan itu disebabkan nomor rekening yang diajukan kedaluarsa, sehingga tidak bisa melakukan transaksi.

"Sebagian besar memang nomor rekeningnya kedaluarsa, sehingga pengajuan untuk mendapatkan uang tunjangan fungsional terhambat, dan kini uang itu masih ada di Kementerian Keuangan," katanya.

Rahman mengatakan, total uang tunjangan fungsional yang diterima setiap guru Madrasah di Kabupaten Malang mencapai Rp 3 juta. "Hingga kini total guru yang belum menerima sebanyak 569 guru, oleh karena itu pihak Kementerian keuangan masih menunda pencairannya hingga menunggu perbaikan nomor rekening dari para guru tersebut," katanya.

Rahman mengaku, selain nomor rekening yang kedaluarsa, jumlah saldo yang ada di setiap rekening para guru minus atau tak ada dananya. Ia mengatakan, selama ini setiap ada program tunjangan dari pemerintah pusat untuk guru Madrasah, pihak Kementerian keuangan langsung mentransfer uang melalui rekening setiap guru bersangkutan.

Sementara, tugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang hanya mendata jumlah guru serta melakukan pengecekan administrasi, kemudian dikirim ke pusat. Rahman mengharapkan, para guru itu segera melapor perbaikan nomor rekening ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang, sehingga bisa ditindaklanjuti dan dilakukan pembenahan.

"Bagi guru Madrasah yang belum menerima tunjangan fungsional diminta untuk segera melapor ke Kantor Kemenag Kabupaten Malang, agar segera diakomodasi untuk dilakukan pembenahan. Dan selanjutnya diusulkan kembali secara kolektif," katanya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.