Ratusan Pertashop Jadi Penggerak Ekonomi Desa di Jateng dan Yogyakarta

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pertamina terus memperluas jangkauan pemerataan energi melalui Pertashop, yaitu outlet SPBU mini yang dihadirkan di pelosok pedesaan. Sejak pertama kali Pertashop dikenalkan setahun lalu, hingga saat ini Pertashop di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah hadir di 207 titik.

Unit Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Pemasaran Regional Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, mengatakan ratusan unit Pertashop tersebut telah beroperasi melayani kebutuhan bahan bakar di desa-desa Jateng dan DIY.

"Angka tersebut akan terus bertambah, mengingat masih banyak desa atau kecamatan yang belum tersedia SPBU," kata Brasto dalam keterangannya pada Rabu (28/4/2021).

Melalui program One Village One Outlet (OVOO) yang diusung Pertamina, setiap desa atau kecamatan akan memiliki Pertashop. Oleh karena itu, untuk mempercepat perluasan Pertashop di berbagai pelosok daerah, Pertamina telah memiliki skema kemitraan bagi pengusaha atau BUMDes yang berminat untuk menggeluti bisnis Pertashop.

"Kami telah membuka peluang investasi bagi para pengusaha untuk mengelola SPBU mini atau Pertashop. Walau nilai investasi lebih rendah dari SPBU reguler, prospek bisnisnya sangat menjanjikan," sambung Brasto.

Ia berharap akan lebih banyak pengusaha atau BUMDes yang berminat untuk berinvestasi demi perluasan pembangunan Pertashop yang lebih cepat lagi.

Melalui kehadiran Pertashop, kata Brasto, konsumen yang tinggal di pedesaan tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke SPBU reguler hanya untuk mengisi bahan bakar. Selain itu Pertashop juga bisa menjadi bisnis tersendiri yang memberikan keuntungan usaha, baik yang berbasis kelompok masyarakat seperti BUMDes maupun pengusaha swasta.

Brasto menambahkan syarat utamanya adalah badan usaha seperti CV, PT, Koperasi, Usaha Dagang (UD), maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Erick Thohir Larang Pertamina Punya Saham di Pertashop, Kenapa?

Satu unit Pertashop milik PT Pertamina (Persero) kini hadir di Gununghalu Raya, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu. (Dok. Pertamina)
Satu unit Pertashop milik PT Pertamina (Persero) kini hadir di Gununghalu Raya, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu. (Dok. Pertamina)

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir melarang PT Pertamina (Persero) untuk memiliki saham pada Petrashop atau pom bensin mini yang dibangun di banyak daerah. Seperti diketahui, belum lama ini Menteri Erick ikut langsung dalam meresmikan pembukaan pertashop di daerah.

"Itu saya putuskan bahwa Pertamina tidak boleh punya saham 1 persen pun," kata Menteri Erick dalam acara MilenialHub 2021, secara virtual, Sabtu (17/4).

Menteri Erick menyebut, Pertashop menjadi upaya pemerintah memberikan peluang usaha kepada para pengusaha daerah, bahkan pesantren. Dalam waktu dekat, Pertamina akan membuat gerakan 1.000 pesantren mendapat Pertashop.

"Pertashop harus diberi kepada pengusaha daerah ataupun pesantren. Saya menyaksikan sendiri di Cibodas kemarin, usianya masih 34 tahun, dia juga tadi membuka pertashop menjadi new income, hal ini yang saya harapkan, BUMN membangun ekosistem," ungkapnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mencanangkan program one village one outlet di mana tiap tahunnya mulai 2021 bisa terwujud 10.000 Pertashop. Pertamina berkomitmen memudahkan akses masyarakat dalam mendapatkan dan menggunakan produk Pertamina.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengungkapkan saat ini SPBU yang dimiliki Pertamina mencapai 7.000 unit. Jumlah ini dinilai belum cukup untuk menggapai 70.000 desa yang ada di Indonesia.

"Kita dengar juga bagaimana masyarakat desa untuk mendapatkan BBM, elpiji harus menempuh jarak 15 Km. Kita melihat inilah tantangan kita sebagai negara yang dengan 17.000 pulau," ungkapnya, Senin (21/12).

Menurutnya, tujuan pembangunan Pertashop mirip dengan program BBM satu harga. Beda terdapat pada jenis BBM yang dijual.

"Kalau BBM satu harga di daerah 3T adalah BBM subsidi. Kalau ini (Pertashop) non-subsidi. Jadi baik BBM maupun elpiji ini sama-sama non subsidi. Sekaligus kita memberikan edukasi agar masyarakat sampai ke desa juga menggunakan BBM yang ramah lingkungan," jelasnya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: