Ratusan Prajurit Marinir TNI Habisi Pemberontak di Gunung Gede

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setiap prajurit Korps Marinir Tentara Nasional Angkatan Laut (TNI AL) saat ini, tentu mendengar kehebatan sepak terjang pasukan elite saat menumpas kelompok pemberontak Darul Islam/Tentara Nasional Indonesia (DI/TII) di Gunung Gede, Jawa Barat, Maret 1957.

Kala itu, Korps Marinir TNI Angkatan Laut masih bernama Korps Komando (KKO) di bawah pimpinan Mayjen KKO (Purn.) R. Soehadi. Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Korps Marinir, pada 19 Maret 1957 dibentuklah susunan Organisasi Tempur KKO-AL dalam satu kompi yang terdiri dari dua pleton untuk melakukan Operasi Gunung Gede.

Operasi tersebut ditunjukkan untuk menumpas kelompok separatis DI/TII, yang diketahui bersembunyi di Gunung Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat.

Posisi Komandan Kompi (Danki) Operasi Gunung Gede, ditempati oleh Kapten KKO Boy Abidin. Boy memimpin dua pleton dengan jumlah prajurit sebanyak 200 personel. Pleton I dipimpin oleh Letnan Muda KKO Pratowo Soedibyo, sementara Pleton II berada di bawah kendali Letnan Muda KKO Soegito.

Setelah tiba di Sukabumi, pasukan KKO-AL tersebut langsung memberikan laporan kepada Komandan Resimen Infanteri 8 Tentara Teritorium (TT) III Siliwangi dan Batalyon TNI Angkatan Darat 311 untuk melaksanakan tugas operasi di wilayahnya.

Pasukan KKO-AL yang bergerak dari Cipanas dan Cibodas, sempat menemukan sejumlah gubuk yang pernah ditempati oleh kelompok separatis DI/TII dan sudah dalam keadaan kosong. Setelah itu, tepatnya pada 21 Maret 1957 pasukan KKO-AL ini terlibat baku tembak dengan para anggota Tentara Islam Indonesia (TII).

Dengan kemampuan tinggi yang dimiliki, pasukan KKO-AL ini berhasil mematahkan serangan pasukan pemberontak. Setelah itu, pasukan KKO-AL mengamankan sejumlah dokumen DI/TII.

Pertempuran kembali terjadi tiga hari kemudian, setelah ratusan prajurit KKO-AL berhasil mencapai wilayah Curug Ciheuleng. Lagi-lagi pasukan KKO-AL ini berhasil memenangkan kontak senjata, hanya dalam waktu 10 menit pertempuran. Kemenangan ini membuat gerombolan separatis DI/TII terpukul dan mundur ke arah utara.

Sesuai dengan perintah yang dikeluarkan Resimen Infanteri 8 TT III Siliwangi, pasca keberhasilan dalam pertempuran di Curug Ciheuleng, pasukan KKO-AL tersebut ditarik mundur kembali ke Sukabumi, dan kembali dengan selamat ke Jakarta pada 24 Maret 2020.