Ratusan Ton per hari Sampah di Malang Bakal Diolah Jadi Listrik

Mohammad Arief Hidayat, Lucky Aditya (Malang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah Supit Urang di Kota Malang, Jawa Timur, menggunakan sistem sanitary landfill. Pengoperasian TPA dengan sistem itu akan meminimalkan dampak pencemaran air, tanah, hingga udara sehingga lebih ramah lingkungan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Malang Sutiaji meninjau langsung lokasi itu, Selasa, 16 Maret 2021. Pengembangan TPA Supit Urang merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia melalui Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR dengan pemerintah Jerman dalam Program Emission Reduction in Cities–Solid Waste Management (ERIC-SWM).

"Potensinya cukup besar. Kota Malang dapat mengolah 400 ton sampah per harinya. Insyallah sehari sudah bisa mengelola 400 ton sampah jadi kompos. Jadi dari proses sorting ini kita bisa mendapatkan suplai kompos yang jumlahnya signifikan," kata Khofifah.

Di TPA itu terdapat beberapa area seperti Sorting Plant, Composing Plant, serta area Landfill. Khofifah menganggap TPA Supit Urang dapat memberikan multiplier profit, antara lain menghasilkan kompos dari proses sorting plant.

TPA itu seluas 32 hektare, dan 16 hektare lahan di antaranya sedang dalam proyek sanitary landfill. TPA juga dapat mengolah sampah sekitar 400 ton per hari yang melayani 700 ribu jiwa selama 5-7 tahun.

"Kita bisa membayangkan terdekat saja dari Kota Malang seperti Kabupaten Malang dan Kota Batu, mereka bisa terbantu adanya kompos ini dan makin meningkatkan produk pertanian organik. Pertanian dengan pupuk organik ini sangat sehat, nilai jualnya lebih tinggi dan tentunya memberikan nilai tambah bagi petani," ujar Khofifah.

Selain itu, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta tidak membuang sampah sembarangan cukup penting. Edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan utamanya memilah sampah yang akan dibuang, seperti memisahkan sampah plastik, kaca, kertas, dan sampah basah yang bisa terurai.

"Rencananya dua tahun yang akan datang ini bisa menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), di mana proses ini sudah dimulai dengan menyiapkan landfill-nya," katanya.

Wali Kota Sutiaji mengatakan, TPA Supit Urang hanya mampu menampung hingga 5 tahun ke depan. Untuk itu dalam pelaksanaan operasionalnya mereka menunggu tenaga terampil yang sedang mengikuti pelatihan. Anggarannya pun sudah dialokasikan pada tahun 2021 untuk kegiatan sanitary land.

"Harapannya proses pemilahan sampah di TPA ini tidak memakan waktu lama karena sampah dari masyarakat sudah dipilah. Jadi kami ke depan mempunyai kebijakan tidak akan kami ambil sampahnya kalau masih campur. Nanti juga kami minta Pak RT dan Pak RW untuk menyosialisasikan kepada masyarakat,” katanya.