Ratusan umat Buddha di Tanjung Selor gelar ritual Pradiksina

Ratusan umat Buddha di Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) memperingati Hari Raya Waisak 2555 BE (Buddhist Era) di Vihara Dharma Cakra, Jalan H Maskur, Senin.

"Hari ini kami umat Buddha bersuka cita memperingati Hari Raya Waisak, yang mengandung tiga peristiwa suci atau tri suci yang terjadi pada Buddha Gautama yakni kelahiran, pencerahan sempurna, dan wafatnya sang Buddha," kata Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Kaltara, Hiang Adhi Chandra Prasetyo di Tanjung Selor, Senin.

Peringatan Waisak kali ini cukup hikmat dan penuh suka cita. Sebab dua tahun sebelumnya digelar sederhana dan secara daring (dalam jaringan) karena pandemi COVID-19.

"Dua tahun ini tidak ada perayaan. Hanya sekadar menyambut detik-detik Waisak saja. Itu pun dibatasi secara online," ujarnya.

Sejak pukul 08.00 Wita, umat Buddha Tanjung Selor mulai berdatangan ke satu-satunya vihara di ibukota provinsi Kaltara ini. Mereka umumnya memakai atasan putih dan bawahan hitam.

"Tidak ada makna mendalam sebetulnya. Hanya agar terlihat bersih dan rapi," kata Hiang Adhi Chandra.

Ritual-ritual sembahan dipimpin oleh Pandita Romo Sutrimo. Usai menggelar puja bakti di Dammasala vihara, pandita diikuti pradiksina, dan serta umat melaksanakan ritual pradiksina.

Ritual ini dilaksanakan umat Buddha berjalan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali searah jarum jam sembari membawa dupa. Kala melewati patung Sang Buddha di halaman depan vihara yang sejajar dengan tangga utama, mereka membungkukkan badan memberi penghormatan.

"Ritual ini memiliki arti kebajikan yang tinggi. Khusus di bulan suci Waisak, apa yang dilakukan umat Buddha lakukan satu kali, akan mendapatkan kebijaksanaan yang berlipat ganda. Kiranya ada kesalahan, kesalahan itu bisa disucikan," ujarnya.

Ia mengatakan, ada tradisi umat Buddha di Tanjung Selor yang saat ini masih dipertahankan. Umat akan menikmati makanan secara bersama-sama setelah seluruh rangkaian peringatan tri suci Waisak dilaksanakan.

"Masing-masing umat membawa makanan ke sini untuk dinikmati bersama-sama," ujarnya.

Baca juga: Ribuan penganut Buddha ikut arak-arakan dari Candi Mendut ke Borobudur

Baca juga: Maha Vihara Duta Maitreya tidak adakan festival kesenian

Baca juga: Kanwil Kemenag Papua ajak umat Buddha melakukan moderasi beragama

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel