Ratusan Warga Tangerang Ditipu Pengembang, DPRD Minta Satpol PP Segel Area Perumahan

Merdeka.com - Merdeka.com - Puluhan warga kabupaten Tangerang mengaku menjadi korban penipuan proyek pengembang perumahan Bhuvana Village Regency. Mereka mengadu ke kantor DPRD Kabupaten Tangerang, Kamis (1/9).

Mereka datang untuk mengadukan pembelian rumah dan toko yang mereka beli dari pengembang sejak tahun 2016. Rumah dan toko itu tak kunjung dibangun dan terindikasi ada tindak penipuan dan penggelapan.

"Kami meminta bantuan DPRD Tangerang, atas permasalahan yang kami hadapi. Sebab, dari 2016 sampai hari ini tidak ada realisasi pembangunan atas aset properti yang kami pesan dari pengembang," jelas Budiyanto, warga pembeli toko di Perumahan Bhuvana Village, di kantor DPRD Kabupaten Tangerang, Kamis (1/9).

Warga Belum Menggugat

Budiyanto dan rekannya mengaku mewakili 300 korban pengembang nakal itu. Mereka berharap adanya kejelasan terkait pembangunan rumah dan toko yang telah dijanjikan pengembang akan dibangun sejak tahun 2016 lalu.

Namun, hingga saat ini lokasi proyek perumahan di Jalan Terusan Stasiun Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, hanya berdiri satu rumah contoh dan pagar perumahan.

"Saya mewakili 300 teman-teman konsumen lain, belum melakukan gugatan hukum karena masih berharap ada pengembalian uang pembelian rumah atau ruko yang kami pesan atau pembangunan," ucap dia bersama puluhan warga lain.

Budi mengatakan, dirinya merasa kesal dan tidak percaya lagi dengan janji-janji pengembang yang selalu mengulur waktu untuk pengembalian uang konsumen atau pembangunan rumah dan ruko.

"Kita berproses meminta pengembalian uang atau pembangunan rumah. Tapi mereka hanya janji-janji dan selalu membuat perjanjian baru, sejak 2016 sampai hari ini tidak ada realisasinya," ungkap dia.

Pengembang Tak Indahkan Panggilan DPRD

Merespons laporan warga, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Aditya Wijaya meminta Satpol PP Kabupaten Tangerang untuk segera melakukan penyegelan terhadap area perumahan itu. Dengan penyegelan, dia berharap tidak ada lagi warga Tangerang yang menjadi korban pengembang nakal tersebut.

"Semua sudah saya dengarkan seluruh aspirasi para korban, kesimpulannya perumahan itu tidak mengantungi izin sama sekali. Pernah tahun 2019 untuk izin prinsip, tapi tidak diteruskan oleh pengembang ini. Maka saya minta Satpol PP, besok hari untuk melakukan penyegelan, ini jelas-jelas melanggar aturan dan merugikan masyarakat," Aditya Wijaya.

Dia mengaku telah memanggil pengembang perumahan untuk menengahi persoalan yang dialami para korban. Namun, pihak pengembang tidak memberikan tanggapan sama sekali.

"Maka tegas saja, saya perintahkan untuk disegel. Pelanggarannya sudah jelas, dan mereka tidak menaati aturan daerah serta merugikan banyak orang. Masa lahan 5.000 meter mau dibangun 600 rumah, ini enggak mungkin," ungkapnya.

[yan]