Rayakan Harlah ke-95 NU, PDIP Buktikan Partainya Mendukung Islam

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan bahwa partai politiknya itu sangat menghargai Islam melalui kebijakan dan pendidikan di internalnya. Hal ini disampaikannya saat merayakan Harlah ke-95 Nahdlatul Ulama (NU).

Dia menuturkan, menghargai Islam merupakan ajaran dari Proklamator RI Bung Karno dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, kami diajarkan politik itu membangun peradaban, politik itu membangun persahabatan. Makanya, di PDI Perjuangan, politik itu tidak hanya ngurusi pemilih. Pohon-pohon saja kami urusi. Kemarin, kami menanam, membersihkan sungai, menjaga kebersihan, itu juga kan nilai-nilai Islam," kata Hasto, Minggu (31/1/2021).

Hasto juga menyampaikan Bung Karno dan Ketua Umum Megawati saat menjabat sebagai presiden, selalu berkonsultasi dengan ulama sebelum mengambil keputusan penting. Bahkan, Bung Karno dan Megawati turut mengangkat para ulama Islam terdahulu.

Bung Karno mencarikan makam Imam Bukhari serta merehabilitasi Masjid Biru di Uni Soviet. Megawati juga membangunkan masjid di makam Syekh Yusuf di Makassar.

"Bu Mega dulu saat menjadi presiden, dilobi kanan kiri agar kita memerangi terorisme, akar terorisme karena ketidakadilan masalah Palestina. Kita dukung kemerdekaan Palestina sesungguhnya," ungkap Hasto.

Atas ajaran Bung Karno dan Megawati itu, lanjut Hasto, PDIP sangat menghargai para muslim, termasuk warga nahdiyin. Karena itu, partainya ikut merayakan Harlah Ke-95 NU pada hari ini.

"Apapun semangat persatuan menjadi mimpi dan terus diperjuangkan oleh Bung Karno. jadi kami diajarkan dalam kaderisasi, kesadaran akan sejarah," kata Hasto.

Bukan Anti Ulama

Hasto juga membantah bahwa PDIP anti ulama. Awalnya Gus Miftah mempertanyakan bagaimana PDIP melihat soal hadirnya kelompok intoleran.

Hasto menjawab bahwa Ketua Umum Megawati Soekarnoputri selalu mengajarkan kader partai untuk berpolitik dengan keyakinan, menebar kebaikan, dan santun. Maka terhadap kelompok intoleran, PDIP memilih bahwa peran negara yang harus benar-benar muncul. Dan negara Indonesia, sejak awal dibangun untuk semua.

"Bagaimana negara kita dibangun untuk semua. Dan itu diatur jelas di sila ketiga persatuan indonesia. Yang intinya adalah kebangsaan. Kebangsaan itu intinya semua sama, punya hak dan kewajiban yang sama," kata Hasto.

"Ketika Indonesia merdeka, tak ada itu dibeda-bedakan, apa sukumu, apa agamamu, apa status sosialmu, apa jenis kelaminmu. Setiap warga negara sama. Semua sama. Maka itulah yang dikembangkan oleh PDI Perjuangan, sikap toleran sebagai penjaga Pancasila," tambah Hasto.

"Tapi kan selama ini PDI Perjuangan disebut antiulama?" tanya Gus Miftah.

"Tak ada itu. Buktinya banyak kepala daerah kami dari elemen keagamaan seperti NU. Tak ada kebenaran istilah PDI Perjuangan itu anti Islam atau pelaku kriminalisasi ulama," jawab Hasto.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: