RCEP fasilitasi ekspor pertanian negara ASEAN ke China (Bagian 1)

Mulai dari beras Kamboja, kelapa pandan wangi Thailand hingga markisa dan durian Vietnam, semakin banyak produk pertanian dari negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) kini memiliki akses yang lebih mudah ke pasar China sejak implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).

Bagi banyak pemilik bisnis pertanian di negara-negara ASEAN, penerapan aturan RCEP secara bertahap secara signifikan mengurangi biaya perdagangan intraregional dan semakin memfasilitasi perdagangan, menghadirkan manfaat nyata bagi mereka.

FASILITASI PERDAGANGAN MENINGKAT PENGIRIMAN KARGO LINTAS PERBATASAN MENINGKAT
FASILITASI PERDAGANGAN MENINGKAT PENGIRIMAN KARGO LINTAS PERBATASAN MENINGKAT

Seiring mulai berlakunya RCEP pada awal tahun ini, bisnis pertanian di negara-negara ASEAN diuntungkan dengan biaya impor yang lebih rendah dan lebih banyak peluang ekspor berkat tarif yang lebih rendah.

Berdasarkan perjanjian tersebut, lebih dari 90 persen perdagangan barang di kawasan pada akhirnya akan bebas tarif, yang sangat mendongkrak perdagangan lintas perbatasan.

"Kami tidak lagi khawatir dengan pesanan ekspor seperti sebelumnya. Penyesuaian rantai industri yang dibawa oleh RCEP mendorong penjualan produk kami di pasar China," kata Narongsak Chuensuchon, ketua NC Coconut, sebuah perusahaan di Provinsi Ratchaburi, Thailand.

Perusahaan Narongsak memperoleh akses untuk produknya ke pasar China pada 2013, dan penjualan meningkat beberapa kali lipat hanya dalam beberapa tahun. China menjadi pasar ekspor utama bagi produk kelapa perusahaan tersebut, katanya.

Sejak awal tahun ini, markisa dan durian Vietnam telah disetujui untuk masuk ke pasar China.

"Ini kabar baik bagi Vietnam, yang kaya akan sumber daya buah," kata Do Thi Thu, seorang dosen di Akademi Perbankan Vietnam, berharap lebih banyak produk pertanian Vietnam dapat diekspor ke China di masa depan, sehingga dapat memberikan peran penuh bagi keunggulan sumber daya yang saling melengkapi antara kedua negara dan memanfaatkan sepenuhnya RCEP untuk mendorong hubungan perdagangan bilateral.

"Pemangkasan umum bea masuk di bawah RCEP adalah berita bagus untuk pembangunan pertanian Kamboja," tutur Chen Qisheng, manajer umum China Certification and Inspection Group (Cambodia) Co., Ltd.

PENGIRIMAN KARGO LINTAS PERBATASAN MENINGKAT
PENGIRIMAN KARGO LINTAS PERBATASAN MENINGKAT

Sejak akhir Oktober, padi melati Kamboja memasuki musim panen. Kapal kargo yang memuat beras harum tersebut berangkat dari Sihanoukville atau Phnom Penh, dan tiba di Pelabuhan Shekou di Kota Shenzhen, China, dalam kurun waktu sepekan.

Setelah melalui pemeriksaan dan karantina bea cukai di pelabuhan, beras ukuran 5 kg per karung dapat langsung masuk ke pasar ritel, sementara paket yang lebih besar ukuran 25 kilogram atau 50 kilogram per karung akan masuk ke jalur grosir untuk memasok konsumen beras dalam skala besar, atau dipasarkan setelah dikemas ulang menjadi ukuran yang lebih kecil oleh perusahaan pemrosesan beras.