RCEP suntikkan vitalitas bagi ekonomi global selama setahun terakhir

Permulaan 2023 telah menandai peringatan satu tahun berlakunya Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), serta peluncuran kawasan perdagangan bebas dengan populasi terbanyak, keanggotaan yang paling beragam, dan potensi pembangunan terbesar di dunia.

Setahun berjalan, perjanjian RCEP menunjukkan vitalitas yang luar biasa, yang secara efektif menggenjot perdagangan di antara negara-negara anggotanya dan menyejahterakan perekonomian regional.

Keanggotaan RCEP terdiri dari 10 negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) serta China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Perjanjian itu semakin memajukan pengembangan sistem perdagangan multilateral internasional.

Selama setahun terakhir, dalam menghadapi peningkatan sentimen antiglobalisasi dan lesunya perekonomian dunia, perjanjian RCEP, yang mencakup berbagai aturan yang luas untuk memfasilitasi liberalisasi perdagangan dan investasi, menyuntikkan dorongan yang kuat ke dalam integrasi industri dan pemulihan ekonomi regional.

RCEP berperan sebagai pertahanan kuat melawan proteksionisme dan unilateralisme serta pendorong praktis bagi perdagangan bebas dan kerja sama multilateral. Perjanjian itu menurunkan biaya perdagangan, memfasilitasi integrasi rantai industri, dan memberikan manfaat bagi kalangan konsumen di kawasan tersebut. Penerapan kemitraan juga telah membantu pemulihan ekonomi Asia-Pasifik, mengimbangi dampak negatif dari lesunya permintaan global dan faktor-faktor lainnya.

Perjanjian itu ikut mendorong pengembangan ekonomi regional yang terkoordinasi dan membantu membangun ekonomi dunia yang terbuka. Pertumbuhan investasi langsung di antara negara-negara anggotanya mengindikasikan peningkatan proses integrasi industri dan daya tahan serta stabilitas rantai industri, rantai pasokan, dan rantai nilai di kawasan tersebut yang semakin kuat.

Pasar terbuka dan stabil dalam kawasan perdagangan bebas ini menarik semakin banyak investasi asing dari seluruh dunia, yang membantu kawasan tersebut bertahan dari guncangan ekonomi eksternal.

China, melalui kerja sama yang erat dengan negara-negara anggota lainnya, berkomitmen untuk mendorong penerapan RCEP yang berkualitas tinggi lewat keterbukaan dan pembangunan negara itu guna mempromosikan integrasi ekonomi regional.

Data dari Kementerian Perdagangan China menunjukkan bahwa nilai perdagangan negara itu dengan para penanda tangan RCEP meningkat 7,9 persen secara tahunan (year on year) menjadi 11,8 triliun yuan (1 yuan = Rp2.242) dalam 11 bulan pertama 2022, menyumbang 30,7 persen dari total nilai perdagangan luar negeri China.

Di tahun baru ini, China akan lebih lanjut melepaskan potensi pembangunan yang dihadirkan oleh perjanjian RCEP dan berbagi dividen dari pertumbuhan ekonominya sendiri dengan negara-negara lain di kawasan itu dan sekitarnya, memberikan stabilitas dan kepastian bagi pemulihan ekonomi regional dan global.