Realisasi Anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional Capai Rp 366 Triliun di 2 November 2020

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, program pemulihan ekonomi nasional hingga 2 November 2020 telah terealisasi sebesar Rp 366 triliun dari total anggaran Rp 695,2 triliun.

"Sampai dengan tanggal 2 November 2020, proses realisasi program ekonomi nasional sudah mencapai Rp 366 triliun. Satgas PEN telah berhasil menyalurkan lebih dari Rp 150 triliun di kuartal ketiga," jelas Budi dalam sesi teleconference, Rabu (4/11/2020).

Jumlah itu naik cukup tinggi dibandingkan laporan yang baru saja dikeluarkan Kementerian Keuangan. Dimana per 26 Oktober 2020, realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp 361,5 triliun, atau sekitar 52 persen dari total pagu anggaran.

Budi menyampaikan, Satgas PEN telah mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), bahwa penyaluran program stimulus tersebut harus dapat dimaksimalkan pada kuartal IV 2020.

"Kami berharap sisa anggaran PEN bisa kita serap semua. Minimal Rp 100 triliun bisa kita salurkan di kuartal keempat ini," ujar dia.

Dilaporkan Budi, angka penyaluran terbesar berasal dari stimulus yang berada di bawah Kementerian Sosial (Kemensos). Menjadi instansi dengan pagu anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) terbesar sekitar Rp 203,9 triliun, ia mengatakan, Kemensos jadi instansi dengan angka realisasi stimulus terbesar hingga 2 November.

"Alhamdulilah Kementerian Sosial sudah berhasil merealisasikan sampai tanggal 2 November sebesar Rp 176,38 triliun, atau 86,51 persen dari total pagu yang disediakan," ungkap dia.

"Kami juga melihat dari bulan ke bulan, program-program perlindungan sosial yang dipimpin pak Juliari Batubara ini memang penetrasinya paling baik, paling bagus," kata Budi.

Wapres Yakin Sistem Keuangan Syariah Bantu Pemulihan Ekonomi Nasional

Wapres Ma'ruf Amin (Istimewa)
Wapres Ma'ruf Amin (Istimewa)

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin sangat mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Alasannya, ekonomi dan keuangan syariah bisa jadi instrumen baru dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

"Saya memiliki keyakinan bahwa berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan pelaku usaha keuangan syariah, baik di di bidang ekonomi syariah maupun komersial finance dan sosial finance syariah memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi dan berperan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional," tegas dia dalam webinar bertajuk "Potensi Ekonomi Syariah Pasca Pandemi", Selasa (27/10/2020)

Ma'ruf Amin mencontohkan, potensi besar dalam bidang sosial finance yakni terkait zakat, infaq, dan sedekah (zis) juga wakaf sampai saat ini masih belum dioptimalkan. Alhasil potensi sektor social finance masih belum mampu dijadikan alternatif untuk menopang aspek fiskal dalam rangka akselerasi pemulihan ekonomi nasional.

"Maka dalam bidang zakat, infaq, sedekah, akan terus saya mengawal BAZNAS dan LAZ yang ada. Agar dapat mengambil terobosan, sehingga potensi ziz yang ada dapat di maksimalkan," jelas dia.

Kemudian, untuk memaksimalkan potensi wakaf pemerintah berencana membentuk Gerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT) untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam mengumpulkan dana sosial. Nantinya dana tersebut akan dipakai guna mendukung percepatan pembangunan nasional, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.

"Oleh karena itu, saya meyakini zis dan wakaf apabila dapat ditangani dengan serius akan menjadi pilar kuat dalam pelaksanaan program kesejahteraan umat Islam di indonesia. Serta dapat berperan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional," tutup Ma’ruf Amin.

Saksikan video pilihan berikut ini: