Realisasi Investasi 2020 Lebih Rp 9 T dari Target, Kepala BKPM: Semua pada Tertawa

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan akumulasi realisasi investasi di Indonesia yang mencapai Rp 826,3 triliun selama satu tahun penuh pada periode 1 Januari-31 Desember 2020.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, jumlah tersebut naik 2,1 persen dari pencapaian di 2019, dan juga tembus 101,1 persen dari target awal yang sebesar Rp 817,2 triliun.

"Realisasi investasi kita itu mencapai Rp 826,3 triliun dari target investasi kita Rp 817,2 triliun. Artinya ada kenaikan kurang lebih sekitar Rp 9 triliun," kata Bahlil dalam sesi teleconference, Senin (25/1/2021).

Bahlil menceritakan, pencapaian tersebut sekaligus menjawab keraguan sejumlah pihak bahwa realisasi investasi di sepanjang 2020 akan tersungkur akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan.

"Dulu saya masih ingat ketika pandemi Covid-19 melanda negara kita di bulan Maret 2020, itu beberapa kelompok asosiasi yang mengatakan pada BKPM realisasi investasi enggak mungkin lebih dari Rp 700 triliun. Dan menurut kami itu stimulus terbaik bagi BKPM," tuturnya.

"Dan hari ini Alhamdulillah stimulus itu kemudian membuat BKPM semua pada tertawa, dan hasilnya Rp 826 triliun. Perlu saya sampaikan, hidup itu jangan terlalu pesimis. Ada masalah, tapi jangan dihadapi dengan pesimistis," imbuh dia.

Dijelaskan Bahlil, realisasi investasi Rp 826,3 triliun ini terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang sebesar 50,1 persen, dan Penanaman Modal Asing (PMA) senai 49,9 persen.

"Mungkin ini dalam sejarah belum pernah terjadi, sangat berimbang. Jadi sedikit saya katakan bahwa di era pandemi Covid-19, peran PMDN sangat luar biasa sekali," ujar dia

"Kemudian di PMA sendiri pasti kita tahu, kenapa PMA kok bisa sedikit turun. Kita tahu di beberapa lembaga keuangan dunia mengatakan bahwa Foreign Direct Investment turunnya sampai 30-40 persen. Indonesia itu tidak lebih dari 10 persen. Artinya kepercayaan ini ada," tandasnya.

BKPM Catat Realisasi Investasi Kuartal IV-2020 Naik, Capai Rp 214,7 Triliun

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meluncurkan Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi, Senin (23/3/2020). (Athika/Liputan6.com)
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meluncurkan Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi, Senin (23/3/2020). (Athika/Liputan6.com)

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyampaikan realisasi investasi pada kuartal IV (Q4) 2020, yang mengalami kenaikan baik secara kuartalan (Quartal to Quartal/QtQ) maupun secara tahunan (Year on Year/YoY).

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, realisasi investasi pada Q4 2020 sebesar Rp 214,7 triliun. Jumlah tersebut naik 2,7 persen secara QtQ dan 3,1 persen secara YoY.

Menurut dia, program vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan Pemerintah RI sejak akhir triwulan tahun lalu jadi kunci utama angka investasi melonjak naik, khususnya Penanaman Modal Asing (PMA).

"Kita tahu bahwa di kuartal keempat dimana kasus pandemi Covid-19 sudah ada vaksinasinya. Itu sudah meningkatkan rasa kepercayaan diri dari teman-teman investor asing yang ada di Indonesia," jelas Bahlil dalam sesi teleconference, Senin (25/1/2021).

Selain vaksinasi, Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang telah diundangkan ke dalam UU Nomor 11 Tahun 2020 juga turut memberikan rasa percaya diri bagi investor asing.

"Yang kedua adalah, pengesahan terhadap UU Cipta Kerja itu cukup memberikan pengaruh yang positif pada keberlangsungan investor asing yang ada di Indonesia," sambung Bahlil.

Bahlil pun menyoroti realisasi investasi yang berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) yang secara angka lebih besar ketimbang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Adapun jumlah PMA pada Q4 2020 sebesar Rp 111,1 triliun (51,7 persen), naik 4,6 persen secara QtQ dan 5,5 persen (YoY). Sementara PMDN sebesar Rp 103,6 triliun (48,3 persen), naik 0,8 persen (QtQ) am 0,7 persen (YoY).

"Yang menarik adalah, antara PMA dan PMDN kita lihat di kuartal keempat, PMA-nya lebih tinggi daripada PMDN-nya. Ini sudah barang tentu naik, baik dari kuartal ketiga maupun di kuartal sama pada tahun lalu," ungkap Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil juga menginformasikan terkait penyerapan jumlah tenaga kerja pada kuartal IV 2020, yang mencapai 294.780 orang.

"Ini kalau kita membandingkan dengan tahun yang lalu, kenaikannya tidak lebih dari 3 persen. Kemudian pada kuartal yang kemarin kenaikannya juga tidak lebih dari 3 persen," tutur Kepala BKPM.

SWF Berpotensi Genjot Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Pandemi COVID-19 membuat seluruh negara di dunia mencari cara agar lolos dari krisis yang mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyebut, sejumlah stimulus yang dilakukan beberapa negara di dunia.

"Negara di dunia menggelontorkan stimulus yang luar biasa, ada yang menggunakan penurunan suku bunga acuan hingga berhutang. Hasilnya, dunia pasca-COVID-19 akan kelebihan likuiditas dan kelebihan hutang. Hal ini menyebabkan suku bunga di beberapa negara menjadi sangat rendah, sehingga investasi bisa saja menuju Indonesia," ujar dia di acara 7th Indonesia Islamic Economic Forum, Jumat (22/1/2021).

Untuk Indonesia, Budi menyebut, Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Investment Authority (INA) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, terlebih dengan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat.

"SWF yang dibentuk di Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Apalagi ada faktor terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat akan melakukan normalisasi kebijakan domestik, dan hubugan internasional,” ujar Budi.

Selain itu, Budi memberikan contoh pada awal masa kepemimpinan Joko Widodo, pembangunan infrastruktur dipacu dengan kencang dengan menggandeng sejumlah perusahaan BUMN.

Oleh karena itu, BUMN dituntut untuk bisa melakukan recycle modal dengan cepat. Hadirnya, pandemi COVID-19 akhirnya membuat sejumlah utang yang dilakukan peeusahaan BUMN menumpuk dan berpotensi menyebabkan proyek infrastruktur akhirnya mangkrak.

"Saat ini terjadi kelebihan likuiditas di dunia, itu sebabnya inisiatif SWF sangat penting untuk mencegah tuir sebelum tajir, meningkatkan produktivitas, serta menyehatkan keuangan BUMN dan memperkuat ruang fiskal,” ujar dia.

Sebelum pandemi COVID-19, Budi mengatakan, 11 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disisihkan untuk membayar bunga pinjaman, dan akhirnya melonjak menjadi sekitar 21 persen saat ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: