Realisasi Pembangkit Listrik EBT Capai 10.467 MW di 2020

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kapasitas pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sepanjang 2020 tercatat realisasi pembangkit listrik EBT telah mencapai 10.467 megawatt (MW). Bertambah jika dibandingkan 2019 yang sebesar 10.292 MW.

"Kapasitas pemgbangkit listrik energi baru terbarukan terus meningkat," kata Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2020 Dan Rencana Kerja Tahun 2021 secara virtual, Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Adapun tambahan kapasitan pembangkit EBT berasal dari PLTA Poso sebesar 66 MW, PLTBm Merauke sebanyak 3,5 MW. PLTM Sion sebesar 12,1 MW dan 13,4 MW dari PLTS Atap. Di tahun 2021, Arifin menargetkan akan menambah pembangkit listrik EBT dengan kapasitas 12.009 MW.

Target ini dibuat pemerintah sebagai komitmen nasional dalam penurunan emisi sesuai UU No. 16 tahun 2016 tentang Pengesahan paris Agreement to UNFCCC. Termasuk dengan Perpres No. 61 tahun 2011 tentang RAN GRK, pemerintah menargetkan tahun 2024 mendatang target bauran penggunaan energi bersih mencapai 23 persen.

Emisi Gas Rumah Kaca Sektor ESDM Sebesar 64,4 Juta Ton Co2

Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Selain itu, selama tahun 2020 penurunan emisi gas rumah kaca yang dilakukan sektor ESDM sebesar 64,4 juta ton Co2 (karbondioksida). Capain ini dinilai telah melampaui target realisasi tahun 2020 sebesar 58 juta ton Co2.

"Tahun 2020 kita berhasil turunkan emisi sebesar 64,4 juta ton Co2 dari target 58 juta ton Co2," kata Arifin.

Pencapaian ini dilakukan dengan memanfaatkan EBT sebesar 53 persen dan penerapan efisiensi energi 20 persen. Lalu penggunaan bahan bakar fosil rendah karbon 13 persen. Pemanfaatan teknologi pembangkit bersih 9 persen dan kegiatan reklamasi pasca tambang 4 persen .

Meski tahun lalu berhasil melampaui capaian yang diinginkan, namun di tahun 2021 penurunan gas rumah kaca hanya ditargetkan sebesar 67 juta ton Co2.

"Kita targetkan tahun 2021 menjadi 67 juta ton Co2," kata Arifin mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan video pilihan berikut ini: