Realisasi Pendapatan Negara 2020 Turun 15,9 Persen Jadi Rp 1.647,7 T

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan realisasi Pendapatan Negara pada Tahun Anggaran (TA) 2020 sebesar Rp 1.647,7 triliun.

Perolehan ini 96,9 persen dari APBN TA 2020. Pendapatan Negara tersebut menurun Rp 312,8 triliun atau 15,9 persen dibandingkan dengan realisasi TA 2019.

"Realisasi Pendapatan Negara pada TA 2020 sebesar Rp 1.647,7 triliun atau 96,9 persen dari APBN TA 2020," kata Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR-RI, Jakarta, Kamis (15/7).

Realisasi tersebut terdiri dari Penerimaan Perpajakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan Penerimaan Hibah. Lebih rinci dia menjelaskan Penerimaan Perpajakan TA 2020 mencapai Rp 1.285,1 triliun. Artinya 91,5 persen dari target APBN TA 2020.

Penerimaan Perpajakan ini terdiri dari Pajak Dalam Negeri sebesar Rp 1.248,4 triliun dan Pajak Perdagangan Internasional sebesar Rp 36,7 triliun. Realisasi Penerimaan Perpajakan TA 2020 tersebut menurun Rp 261 triliun atau 16,8 persen dibandingkan dengan realisasi TA 2019.

Dia mengatakan kinerja pendapatan negara tersebut juga menunjukkan Pemerintah menggunakan penerimaan negara sebagai instrumen fiskal yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dan daya saing ekonomi nasional. Caranya dengan pemberian insentif, penyesuaian tarif, dan kebijakan percepatan restitusi pada dunia usaha.

Realisasi PNBP dalam TA 2020 berjumlah Rp 343,8 triliun, yang berarti 116,8 persen dari target APBN TA 2020. PNBP ini terdiri dari Penerimaan Sumber Daya Alam (SDA) sebesar Rp 97,2 triliun, Pendapatan dari Kekayaan Negara Dipisahkan sebesar Rp 66,1 triliun, PNBP Lainnya sebesar R p111,2 triliun, dan Pendapatan BLU sebesar Rp 69,3 triliun.

"Realisasi pendapatan PNBP 2020 tumbuh negatif 15,9 persen terhadap realisasi tahun 2019 pada periode yang sama," kata dia.

PNBP

Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang
Tumpukan uang kertas pecahan rupiah di ruang penyimpanan uang

Kontribusi terbesar realisasi pendapatan dari PNBP berasal dari PNBP Lainnya yang mencapai Rp 111,2 triliun atau 32,3 persen dari total realisasi PNBP pada tahun 2020. Selanjutnya, PNBP SDA mencapai Rp 97,2 triliun berkontribusi 28,2 persen terhadap total realisasi PNBP.

Realisasi PNBP SDA adalah 122,9 persen dibandingkan target. Namun secara nominal lebih rendah dibandingkan realisasi periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan pelemahan harga komoditas SDA seiring dengan ketidakpastian ekonomi global dan lifting minyak bumi yang lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Lalu, realisasi Penerimaan Hibah dalam TA 2020 berjumlah Rp 18,8 triliun. Ini berarti naik sebesar Rp 13,4 triliun dibandingkan dengan realisasi tahun 2019.

Tingginya realisasi penerimaan hibah antara lain disebabkan oleh adanya hibah langsung yang diterima tidak direncanakan dalam APBN TA 2020. Termasuk juga meningkatnya kesadaran Kementerian Negara/Lembaga untuk melaporkan hibah langsung kepada Bendahara Umum Negara.

Dengan demikian, Sri Mulyani menyebut kinerja pendapatan negara masih tetap terjaga di tengah perlambatan ekonomi global dan menurunnya harga ICP serta beberapa komoditas pertambangan di pasar internasional. Selain itu menunjukkan juga bahwa Pemerintah menggunakan penerimaan negara sebagai instrumen fiskal yang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan dan daya saing ekonomi nasional. Misalnya melalui pemberian insentif, penyesuaian tarif, dan kebijakan percepatan restitusi pada dunia usaha.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel