Realitas maya bisa bantu ringankan rasa sakit saat melahirkan

Oleh Rob Goodier

(Reuters Health) - Sebuah studi kecil membuktikan bahwa imersi dalam realitas maya mungkin meringankan beberapa rasa sakit akibat kontraksi sebelum melahirkan.

Dalam tes setengah jam terhadap 40 wanita yang dirawat di rumah sakit dalam persalinan, mereka yang menggunakan headset VR yang memberikan adegan santai dan pesan melaporkan pengurangan rasa sakit dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan headset, kata para peneliti dalam sebuah presentasi dalam pertemuan tahunan Society for Maternal-Fetal Medicine di Grapevine, Texas.

Langkah selanjutnya adalah menguji teknologi tersebut untuk jangka waktu lebih lama pada wanita pekerja.

"Karena itulah tujuan sebenarnya, bukan?" kata ketua penelitian ini Dr. Melissa Wong, seorang dokter kandungan pada Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles, dalam satu wawancara telepon. "Jika kita akan mengatakan orang harus memiliki alat ini di rumah sakit, maka ini tak membuat mereka mengalami kontraksi selama 30 menit, ini membantu mereka dalam proses persalinan," kata Wong.

Untuk menguji headset-headset VR, Wong dan rekan-rekannya merekrut para wanita yang berada di rumah sakit yang akan memiliki anak pertama dan yang belum minum obat penghilang rasa sakit.

Semua peserta mengalami kontraksi paling tidak setiap lima menit dan mereka semua mencetak tingkat rasa sakit mereka antara 4 sampai 7 dalam skala 10 poin, dengan 10 sebagai rasa sakit paling buruk. Mereka yang menggunakan headset VR hingga 30 menit selama kontraksi melaporkan penurunan rata-rata tingkat rasa sakit 0,52 sampai akhir periode tes, sementara kelompok kontrol yang tak mendapatkan headset melaporkan peningkatan nyeri rata-rata 0,58.

Pasien-pasien dalam kelompok kontrol juga memiliki denyut jantung yang secara signifikan lebih tinggi setelah periode tes, yang merupakan salah satu hasil sekunder yang dilihat oleh tim Wong. Tak ada perbedaan berarti secara statistik antara kelompok dalam tekanan darah atau hasil pengiriman.

"Kami percaya studi ini memiliki kredibilitas besar," kata Dr. Michael Foley, ketua jurusan kebidanan dan kandungan pada University Arizona di Phoenix, yang tidak terlibat dalam penelitian ini namun yang juga telah mempelajari VR sebagai metode penghilang rasa sakit saat persalinan.

"Saya kira ini alternatif lain bagi pasien selain harus mengonsumsi narkotika, epidural, nitrogen oksida atau apa pun dalam hal pengobatan, jika pasien ingin lebih alamiah, ini adalah hal yang sungguh bisa menambah pengalaman itu," kata Foley kepada Reuters Health.

Penelitian pada masa depan akan mencakup headset yang sudah ditingkatkan dan kemungkinan juga software terbaru, kata Wong. Kelompok penelitian ini menggunakan headset Samsung Gear VR yang dipasangkan dengan ponsel pintar Samsung, namun para peneliti berencana menguji pasien dengan unit yang terintegrasi penuh yang disebut Pico VR. Itu lebih maju dan lebih nyaman untuk periode penggunaan yang lebih lama, kata Wong.

Visualisasi yang digunakan dalam tes ini disebut Labour Bliss oleh pengembang software Applied VR. Penelitian di masa depan harus menguji berbagai visualisasi dan tingkat interaksi pengguna, tegas Wong.

Sebuah teknologi yang ideal, dalam pandangannya, dapat mengintegrasikan pengalaman virtual mendalam dengan isyarat dari tubuh wanita saat dia mengalami kontraksi.

"Apa pun itu sinyal listrik dapat memicu hal ini. Saya kira akan sangat keren melihat apakah kita bisa menggunakan sinyal listrik dari kontraksi mereka untuk mengubah keadaan," kata Wong.