Realme Ikut Xiaomi soal Krisis Prosesor

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Krisis prosesor atau chipset yang melanda industri ponsel global tidak membuat dua raksasa teknologi China bergeming. Setelah Xiaomi menyatakan tidak berdampak, kini giliran Realme mengatakan hal yang sama.

"Kami tidak mengalami itu (kelangkaan chipset) karena (dipersiapkan) dengan matang. Dari pabrik sudah tersedia jadi stok aman," kata Public Relations Manager Realme Indonesia, Krisva Angnieszca, saat konferensi pers virtual peluncuran Realme C21 dan C25, Selasa, 23 Maret 2021.

Baca: Alasan Kenapa Realme dan Xiaomi Rela Perang demi Indonesia

Menurutnya, ketersediaan stok termasuk untuk model yang baru diluncurkan, yakni Realme C21 dan C25, maupun model yang lebih dahulu hadir di Indonesia. Pandemi COVID-19 menyebabkan rantai pasokan terganggu sehingga menyebabkan kekurangan prosesor di berbagai industri.

Krisis ini semula dialami industri otomotif, namun, belakangan meluas hingga ke industri ponsel secara global. Permintaan chipset naik beberapa bulan terakhir yang menyebabkan kepanikan sehingga membuat kapasitas semakin terdesak dan menaikkan biaya hingga ke komponen termurah untuk hampir semua chipset mikro.

Kekurangan rantai pasokan ini dipicu berbagai faktor. Selain pabrik yang sempat tutup akibat pandemi, kesalahan menghitung permintaan serta perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China juga berpengaruh besar.

Perusahaan penyedia prosesor asal AS, Qualcomm, mengaku takut tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Dikhawatirkan berimbas pada perlombaan penimbunan yang semakin memperburuk masalah lantaran permintaannya yang tinggi.

Qualcomm saat ini sedang berjuang untuk memenuhi permintaan chipset andalan yang baru saja mereka rilis, Snapdragon 888 dan versi kelas menengah. Salah satu ponsel yang menggunakan Snapdragon 888 adalah Xiaomi Mi 11.

Country Director Xiaomi Indonesia, Alvin Tse, memastikan unit premium terbarunya, Xiaomi Mi 11, untuk pasar di Tanah Air tercukupi di tengah kelangkaan prosesor untuk ponsel secara global.

"Kami terus berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat, termasuk masalah chipset. Secara global, industri ini punya tantangan karena ada beberapa industri baru yang membutuhkan chipset, sehingga butuh waktu untuk bisa memenuhi seluruh permintaan," ungkapnya, Selasa malam, 16 Maret 2021.