Rebricks: 2 perempuan reka ulang dunia konstruksi melalui daur ulang

Niki Bruce
·Contributor
·Bacaan 5 menit
Dua pendiri Rebricks, Ovy dan Novita.
Dua pendiri Rebricks, Ovy dan Novita.

Terpilih sebagai satu dari tiga perusahaan rintisan terbaik dalam Circular Innovation Jam (CIJ), yang diadakan oleh The Incubation Network, merupakan suatu penanda bahwa Rebricks dan co-foundernya, Ovy Sabrina dan Novita Tan, berada di jalur yang benar.

Rebricks adalah perusahaan yang berbasis di Indonesia. Perusahaan ini mendaur ulang plastik yang umumnya ditolak sistem daur konvensional, lalu mengubahnya menjadi material kuat yang ramah lingkungan. Plastik multilapisan seperti yang digunakan untuk botol sampo dan pembungkus makanan, misalnya, sulit sekali diuraikan untuk pendauran ulang.

Sabrina dan Tan (keduanya asal Singapura) bertemu saat menempuh pendidikan tinggi. Mereka menjadi teman baik serta rekan bisnis, lantas meluncurkan beberapa bisnis sukses bersama. Dari tahun ke tahun, mereka menjadi lebih peduli terhadap masalah lingkungan hidup. Keduanya lalu mulai berubah haluan ke bisnis yang ramah lingkungan.

“Mungkin karena kami berdua adalah ibu, kami lebih peduli dengan generasi mendatang. Perempuan merawat anak mereka dan tidak ingin anak mereka tumbuh dikelilingi sampah atau lingkungan yang rusak. Kami ingin menciptakan dunia yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” Sabrina dan Tan memaparkan.

Dengan bantuan dari keluarga Sabrina yang telah bergelut di industri konstruksi selama lebih dari 30 tahun, tercetuslah gagasan menciptakan material bangunan dari sampah plastik.

Selama hampir dua tahun, Tan dan Sabrina meneliti jenis material yang perlu dikelola, cara mengubah material tersebut untuk menjadi item seperti batu paving (paving blocks), dan jenis teknologi untuk pengerjaannya.

“Meski kami perlu waktu lebih dari setahun untuk pengembangan produk, kami tidak keberatan,” ungkap Sabrina.

“Kami ingin Rebricks dapat membawa dampak besar. Berulang kali kami menolak banyak kesempatan bisnis yang tidak sejalan dengan misi kami. Hal ini justru membuat kami menjadi jauh lebih fokus untuk mengembangkan produk Rebricks serta menciptakan dampak yang kami cita-citakan.”

Bentuk rebricks.
Bentuk rebricks.

Kini, Rebricks mampu mendaur ulang “sampah [plastik] dari 88.000 sachet per hari dan 33 juta sachet diubah menjadi material bangunan per tahun,” menurut para pendirinya.

Namun, keberhasilan awal ini tidak membuat Sabrina dan Tan berpuas diri.

“Kami masih menuju titik kesuksesan yang sesungguhnya. Kami tetap berpikir bahwa yang membuat kami berbeda adalah prinsip kuat kami untuk mendorong Rebricks menjadi bisnis daur ulang yang bertanggung jawab, yang bertujuan menyelesaikan masalah, bukannya menambah masalah baru.”

“Didorong oleh visi dan idealisme ini, kami selalu memprioritaskan kualitas produk dan dampak kami di atas segalanya,” ujar mereka.

Meskipun merek dagang ini telah berkembang membawa dampak besar dalam dunia daur ulang plastik dan membantu pelestarian lingkungan hidup, jalan yang mereka lewati tidak selalu mulus, ungkap Sabrina dan Tan.

Dua rekan ini menyampaikan bahwa mereka sebenarnya tidak mengalami persoalan negatif apa pun, tetapi mereka harus menghadapi sejumlah tantangan sebagai perempuan yang bekerja di industri yang didominasi laki-laki.

“Kami perlu bekerja dengan banyak pemulung dan pengepul sampah, yang sebagian besar adalah laki-laki. Dan, di Indonesia, membangun hubungan antara perempuan dan laki-laki yang tidak saling kenal memang agak sulit, terlebih ketika kita tidak memiliki hubungan yang saling menguntungkan.

“Tetapi, pada akhirnya, kami mampu melewati jembatan itu dan membangun hubungan yang erat dengan mereka,” Sabrina dan Tan menjelaskan.

“Muncul beberapa sentimen negatif terhadap perempuan yang bekerja di sektor ‘kotor’, tetapi kami tak pernah menganggapnya serius.

“Kami juga memimpin para pekerja – yang semuanya laki-laki – yang membuat batu paving. Pada awalnya, sedikit rumit untuk memberikan arahan kepada mereka. Ini dapat dimaklumi karena industri material bangunan adalah dunia laki-laki, tetapi sejauh ini kami mampu membuat mereka mendengarkan kami.”

Ovi dan Novita ingin Rebricks bawa dampak positif.
Ovi dan Novita ingin Rebricks bawa dampak positif.

Yang menarik dicatat adalah Tan dan Sabrina bukan satu-satunya tim yang seluruhnya beranggotakan perempuan dalam kegiatan inovasi CIJ.

Dari 400 peserta program tahun ini, lebih dari setengahnya perempuan, banyak di antara mereka berasal dari komunitas yang jauh seperti Aceh di Sumatra, Pulau Flores, Indonesia, serta dari ‘coffee land’ Chikmagalur, India – semuanya dapat terlibat dalam program ini karena pada tahun 2020 kegiatan CIJ untuk pertama kalinya diselenggarakan secara daring. Dari keseluruhan finalis tahun ini, 51% adalah perempuan.

“Menjadi bagian dari rangkaian kompetisi inovasi CIJ yang diselenggarakan The Incubation Network benar-benar membantu menguatkan fondasi kami dan membangun rasa percaya diri kami sebagai pelaku wirausaha,” tutur Tan dan Sabrina.

“Kami belajar dari banyak mentor yang luar biasa dan didorong untuk berpikir secara berbeda. Belum lagi, kami kini berteman baik dengan para peserta, yang lebih dari setengah jumlahnya adalah perempuan! Hanya persoalan waktu untuk para wirausahawan wanita mampu menguasai panggung, termasuk sebagai wirausahawan di bisnis lingkungan hidup.”

Seperti yang telah jelas ditunjukkan oleh Sabrina dan Tan, dunia membutuhkan lebih banyak wirausahawan wanita untuk memulai bisnis baru yang sangat dibutuhkan ini, yang mampu menciptakan hal berbeda dalam menangani persoalan lingkungan, seperti sampah plastik.

Disampaikan oleh Stephanie Arrowsmith, Kepala tim Circular Innovation Jam sekaligus Direktur The Incubation Network, “... 60 persen dari seluruh polusi plastik di laut berasal dari negara Asia. Masalah ini perlu solusi penanganan khusus yang mempertimbangkan kondisi ekonomi lokal, tantangan bisnis, dan nuansa kultural.”

Tan dan Sabrina terus melanjutkan ekspansi merek dagangnya di pasar serta merencanakan peningkatan kapasitas produksinya.

“Dukungan finansial dan teknis akan membantu mempercepat upaya tersebut, dengan hadiah dana dari CIJ yang akan kami alokasikan 85% untuk peralatan – mesin hollow block dan mixing, cetakan baru, papan, serta peralatan pemisah sampah – dan 15% untuk pemasaran,“ jelas Sabrina.

Dua rekan co-founder ini juga melanjutkan riset tentang cara membangun dan memperluas jangkauan material bangunan mereka, serta melihat kemungkinan lini produk baru seperti ubin, atap, dan hollow blocks untuk membangun dinding.

“Kami masih menuju titik kesuksesan yang sesungguhnya … [tetapi] dalam jangka panjang, kami memfokuskan diri untuk peningkatan jangkauan Rebricks ke seluruh Indonesia.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang Rebricks, silakan kunjungi rebricks.id, dan ikuti merek ini di Instagram di @rebricks.id

Untuk informasi lebih lanjut tentang Circular Innovation Jam (CIJ) yang diselenggarakan oleh The Incubation Network, kunjungi www.incubationnetwork.com/circular-innovation-jam-2020