Red Bull Dipercaya Mampu Melanjutkan Program Honda

Jonathan Noble
·Bacaan 2 menit

Keputusan Honda menarik diri dari Kejuaraan Dunia Grand Prix Formula 1 (GP F1) pada akhir 2021 membuat dua tim, Red Bull Racing dan AlphaTauri, harus mencari pemasok power unit (nama lain mesin di F1) baru untuk musim 2022.

Red Bull dikabarkan memiliki banyak opsi, salah satunya kembali bekerja sama dengan Renault. Tetapi, Red Bull sepertinya memilih mengambil alih program Honda di F1 untuk kemudian melanjutkan program pengembangan power unit-nya.

Namun begitu, rencana Red Bull tersebut baru bisa mulus bila F1 menghapus aturan pembekuan mesin (engine freeze). Bila itu tidak terjadi, Red Bull takkan bisa mengembangkan power unit seperti yang bisa dilakukan pabrikan lain.

Peluang untuk engine freeze sendiri mengecil karena Ferrari dan Renault sangat menentangnya. Namun, Mercedes-Benz justru mendukung rencana (engine freeze) tersebut.

Prinsipal Tim Mercedes-AMG Petronas, Toto Wolff, juga yakin dengan pengalaman sebagai ahli rekayasa teknologi (engineering), Red Bull mampu mengambil alih program F1 milik Honda sekaligus menjadikan power unit pabrikan sal Jepang itu lebih kompetitif di lintasan.

“Red Bull bukan sekadar tim balap hebat dan sangat sukses di F1 tetapi juga perusahaan engineering yang luar biasa,” ucap Wolff mengacu tim yang merebut gelar juara dunia pembalap dan konstruktor F1 empat kali beruntun pada 2010-2013 itu.

Pria yang memimpin Tim Mercedes merebut tujuh gelar juara dunia konstruktor (2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019, 2020) dan tengah menatap titel ketujuh pembalap pada musim ini (setelah 2014, 2015, 2016, 2017, 2018, 2019) itu juga menyebut Honda terbilang sukses mengembangkan power unit di F1 musim ini.

Honda juga masih akan turun musim depan bersama Red Bull. Waktu semusim itu dinilai masih bisa dipakai untuk mengembangkan power unit.

Baca Juga:

Verstappen Yakin F1 2021 Lebih Sulit bagi Red Bull Hamilton Ingin Bottas Dapat Lebih Banyak Kredit

“Itulah mengapa saya yakin Red Bull akan bisa sukses melanjutkan program Honda di F1 sekaligus mengembangkan mesinnya,” tutur Wolff.

“Setelah itu, semua pabrikan harus melakukan inovasi untuk konsep mesin yang baru dan akan dikenalkan secepatnya pada awal 2024 atau 2025. Inilah sebabnya semua perhatian harus difokuskan ke sana.”

Wolff juga menilai F1 tetap bisa sehat dengan hanya tiga pemasok mesin (Mercedes, Ferrari, dan Renault) jika Honda pergi. Tetapi, otoritas F1 juga harus melihat kondisi secara global dan paham betul pentingnya bila lebih banyak pabrikan mesin yang turun.

Pria asal Austria tersebut juga menegaskan pentingnya Red Bull bertahan di F1. Wolff sangat yakin Honda sudah melakukan pekerjaan sangat bagus sehingga mampu memberikan arah pengembangan yang tepat agar Red Bull lebih percaya diri (menjadi pengembang mesin).

“Tetapi saya juga paham bila Red Bull tidak mau ikut-ikutan mengeluarkan bujet fantastis seperti pabrikan lain, dalam mengembangkan mesin,” kata Wolff.

“Saya hanya ingin bilang Red Bull merk yang sangat penting di F1. Semua wajib mempertahankan kedua tim mereka (lainnya AlphaTauri) di F1 dan membantunya karena mereka memiliki kapasitas seperti tim pabrikan yang mampu mengembangkan mesin (works team).”