Red Bull Sudah Lama Abaikan Program Pembalap Muda

Roberto Chinchero
·Bacaan 2 menit

Pada akhir 2004, setelah sembilan tahun di McLaren, David Coulthard mencoba memulai karier dan tantangan baru dengan bergabung ke tim yang baru dibentuk, Red Bull Racing.

Pada 2005 dan 2006, DC – begitu Coulthard biasa disapa – adalah pengasuh dari tiga pembalap muda yang sedang dibesarkan Helmut Marko: Christian Klein, Vitantonio Liuzzi, dan Robert Doornbos.

Menjelang F1 2006, Red Bull mengembangkan sayap dengan mengakuisisi Tim Minardi F1 dan mengubah namanya menjadi Scuderia Toro Rosso. Tim ini menjadi tempat para pembalap muda berlatih atau mereka yang tidak mendapatkan posisi di Red Bull, seperti Liuzzi.

Pada 2007, datanglah Mark Webber yang sebelumnya memperkuat Williams dua musim. Negosiasi Red Bull dengan pembalap Australia itu diresmikan pada musim gugur 2006 atau 14 tahun lalu.

Setelah Webber bergabung, yang bertahan hingga tujuh tahun, pembalap yang masuk Red Bull adalah mereka yang sebelumnya matang di Toro Rosso (sejak 2020 berganti nama menjadi AlphaTauri).

Tradisi sekalaigus program tersebut baru berhenti saat Sergio Perez masuk, beberapa hari lalu, untuk menjadi rekan setim Max Verstappen pada Kejuaraan Dunia Formula 1 2021. Perez menggantikan Alex Albon yang notabene pembalap binaan Red Bull.

“Kami sangat sulit saat membuat keputusan. Kami ingin melihat Albon berkembang dan tetap bertahan. Namun, kami juga harus mengevaluasi hasil kedua pembalap kami musim lalu (F1 2020). Dari situlah keputusan kami ambil,” ucap Christian Horner, Prinsipal Red Bull.

Max Verstappen, Red Bull Racing, membawa trofi kemenangan GP Abu Dhabi 2020.

Max Verstappen, Red Bull Racing, membawa trofi kemenangan GP Abu Dhabi 2020. <span class="copyright">Glenn Dunbar / Motorsport Images</span>
Max Verstappen, Red Bull Racing, membawa trofi kemenangan GP Abu Dhabi 2020. Glenn Dunbar / Motorsport Images

Glenn Dunbar / Motorsport Images

Rangkaian hasil bagus Verstappen menyebabkan kerugian yang tidak hanya dirasakan oleh Gasly dan Albon. Sebelumnya, karier Carlos Sainz Jr dan Daniel Ricciardo untuk berkembang lebih jauh di Red Bull juga tertutup.

Sejak saat itu, Marko dan Red Bull hanya memikirkan satu misi: mencari pembalap seperti Verstappen lainnya. Misi ini jelas meremehkan – bahkan bisa dibilang membunuh – program pencarian dan pengembangan pembalap muda.

Semua pencari bakat memimpikan bisa mendapatkan pembalap seperti Verstappen. Namun, banyak juga pembalap yang hanya membutuhkan waktu tepat untuk matang. George Russell menjadi contoh paling nyata saat ini.

Jadi jika sejak 2015 hingga kini banyak pembalap berbakat datang ke Formula 1 bersama McLaren, Ferrari, dan Mercedes, Red Bull justru tetap mencari pembalap seperti Max Verstappen.

Red Bull sangat beruntung musim 2020 ini karena pembalap sekaliber Sergio Perez bisa tidak mendapatkan tim usai memutus kontrak dari Racing Point.

Pembalap asal Meksiko itu dikontrak untuk musim 2021. Jika mampu memenuhi target yang diharapkan, masa tinggal Sergio Perez di Red Bull dapat berlanjut. Setidaknya, untuk saat ini impian Red Bull mendapatkan pembalap sekelas Max Verstappen sudah terwujud.