Redakan Ketegangan dengan Islam, Menlu Prancis Kunjungi Mesir

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengunjungi Kairo, Mesir, pada Minggu (08/11) untuk redakan ketegangan dengan dunia Arab, menyusul protes massa atas penerbitan kembali karikatur yang disebut menggambarkan Nabi Muhammad.

Le Drian bertemu dengan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry, dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb, yang merupakan otoritas muslim tertinggi di Mesir. Dalam kunjungan ini, Le Drian berbicara tentang "penghormatan mendalam" dari negaranya terhadap Islam.

Pertemuan Le Drian dengan Imam Besar Al-Azhar sangat dinanti-nantikan mengingat Al-Azhar adalah salah satu lembaga rujukan paling penting bagi muslim Sunni. Kunjungan tersebut membahas keputusan majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, yang mencetak ulang kartun kontroversial tersebut pada September silam.

Bulan lalu, Tayeb mengecam pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang "separatisme Islamis" sebagai pernyataan yang "rasis" dan menyebarkan "pidato kebencian".

Kontroversi kebebasan berekspresi

Pernyataan Macron ini muncul setelah seorang tersangka ekstremis Islam memenggal kepala seorang guru sekolah di pinggiran kota Paris pada bulan Oktober, setelah menunjukkan kartun tersebut kepada siswanya selama jam pelajaran tentang kebebasan berekspresi.

Separatisme Islam yang dimaksud Macron merujuk pada masyarakat paralel di kalangan minoritas muslim yang kian menjauhkan diri dari konstitusi negara, dan hidup di bawah payung Syariah.

Soal karikatur, posisi Tayeb tidak berubah pada hari Minggu ketika dia menegaskan kembali pembelaannya terhadap kesucian Islam. Menggambar Nabi Muhammad dilarang keras dalam Islam.

"Menghina Nabi kami sama sekali tidak dapat diterima, dan kami akan mengejar siapa pun yang tidak menghargai Nabi kami yang terhormat di pengadilan internasional, bahkan jika kami menghabiskan sisa hidup kami hanya untuk masalah ini," tegasnya dalam pernyataan yang dirilis oleh Al-Azhar.

"Saya orang pertama yang memprotes kebebasan berekspresi jika kebebasan ini melanggar agama apa pun, bukan hanya Islam," ujar Tayeb.

"Kami menolak untuk menggambarkan terorisme adalah Islami," tambahnya. "Al-Azhar mewakili suara hampir dua miliar muslim, dan saya katakan bahwa teroris tidak mewakili kami, dan kami tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan."

Fanatisme jadi musuh bersama

Ditugaskan untuk meredakan ketegangan, Le Drian berusaha menyampaikan pesan yang melunakkan setelah pertemuan tersebut.

"Saya mencatat banyak titik konvergensi dalam analisis kami masing-masing," ujar Le Drian kepada wartawan. "Imam Besar mengusulkan agar kita bekerja sama menuju konvergensi bersama ... karena kita harus bersama-sama melawan fanatisme."

Dalam konferensi pers bersama Menlu Mesir Sameh Shoukry pada hari Minggu, Le Drian juga telah memberikan pesan dengan nada damai.

"Saya telah menekankan, dan menekankan di sini rasa hormat mendalam yang kami miliki terhadap Islam," kata Le Drian. "Apa yang kita perangi adalah terorisme, ini adalah pembajakan agama, ini adalah ekstremisme."

Demonstrasi pecah di beberapa negara mayoritas muslim setelah Macron membela hak penerbitan karikatur yang dipandang oleh banyak orang sebagai penghinaan dan serangan terhadap Islam.

Presiden Al-Sisi sendiri telah mempertimbangkan kontroversi tersebut pada bulan lalu, dan mengatakan bahwa "menghina para nabi sama saja dengan meremehkan keyakinan agama banyak orang."

Selain meredakan tensi, kunjungan Le Drian juga termasuk untuk mendiskusikan negara tetangga Mesir yang dilanda konflik, yakni Libya. Le Drian juga dijadwalkan akan melakukan perjalanan ke Maroko untuk bertemu para pejabat di kerajaan itu pada hari Senin (09/11).

ae/rzn (AFP, Reuters)