REI: Properti Harus Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

1 / 1

REI: Properti Harus Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

RumahCom – Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) siap memacu penjualan properti anggotanya lebih gencar lagi seusai virus corona atau Covid-19 mereda di Indonesia.

Hal tersebut dilakukan sebagai respon Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) terhadap hasil survei Bank Indonesia yang memaparkan anjloknya penjualan properti residensial di pasar primer.

Adapun BI memaparkan penurunan penjualan ini terjadi pada segala jenis dan tipe rumah. Mulai dari tipe rumah besar yang mengalami penurunan sebesar 41.01 persen, tipe rumah menengah sebesar -34.39 persen, dan tipe rumah kecil sebesar -26.09 persen.

Tidak hanya itu, dalam hasil survei Bank Indonesia (BI) tersebut tercatat penjualan rumah di pasar primer selama 3 bulan pertama tahun 2020 telah mengalami penurunan sebesar 30.52 persen atau lebih dari kuartal sebelumnya, yaitu sebesar -16.33 persen dan kuartal yang sama tahun lalu sebesar 23.77 persen.

Sementara itu, secara tahunan, BI juga mencatat bahwa penjualan rumah mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar -43.19 persen dari kuartal sebelumnya yang sebesar 1.19 persen.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida pun menyampaikan bahwa sentimen corona yang timbul pada akhir tahun lalu di Wuhan, China, dan meluas ke beberapa negara termasuk Indonesia telah membawa dampak yang cukup besar terhadap tingkat permintaan properti.

“Semua sektor menurun. Memang kalau berdasarkan laporan Bank Indonesia itu disebutkan faktor utamanya kan karena suku bunga KPR dan Covid-19. Namun, untuk kuartal pertama ini, saya rasa memang karena Covid-19,” katanya, Rabu (13/5/2020).

Totok juga menyatakan bahwa tanda-tanda adanya penurunan penjualan mulai terlihat pada bulan Februari dan mulai berdampak pada bulan Maret atau dikala kasus virus corona pertama mulai diumumkan di Indonesia. Dan pada saat yang bersamaan, ruang gerak pemasaran juga semakin terbatas.

Tidak hanya itu, Totok pun telah menduga bahwa sebenarnya beberapa orang telah memprediksi bahwa virus corona sudah masuk ke Indonesia jauh-jauh hari. Jadi, sebagai wujud antisipasi, masyarakat kemudian menahan daya belinya, sehingga berdampak juga pada realisasi pembelian rumah. Lalu, alasan dibalik penurunan yang juga terjadi di rumah sederhana, katanya, itu karena jumlah kuota yang sedikit dan juga pihak perbankan yang terlihat seperti menahan realisasinya.

Untuk saat ini, Totok belum dapat memprediksi lebih jauh soal penjualan rumah pada kuartal II/2020 seiring kasus corona yang juga belum dapat diselesaikan. Ia hanya menyampaikan bahwa hal tersebut kembali lagi tergantung dari kebijakan apa yang akan diberikan oleh pemerintah.

Namun di tengah kesulitan seperti ini, Totok mengaku bahwa pihaknya siap memacu penjualan rumah di semua segmen. Menurutnya, bagaimanapun dan apapun kondisinya, yang terpenting adalah tetap bertahan dan terus meningkatkan penjualan rumah sederhana. Lalu, memikirkan bagaimana caranya agar sektor properti bisa bertahan, sehingga saat wabah virus corona atau Covid-19 ini selesai, penjualan pun dapat berakselerasi.

Sumber:Bisnis

Temukan lebih banyak pilihan rumah terlengkap di Daftar Properti dan Panduan Referensi seputar properti dari Rumah.com

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.