Reinveksi COVID-19 Usai Vaksin, Ini Penjelasan Ahli

·Bacaan 4 menit

VIVA – Setiap orang melaporkan reaksi yang berbeda-beda usai melakukan vaksin COVID-19, mulai dari mengalami gejala ringan hingga berat. Namun yang menjadi sorotan adalah, mereka yang mengalami gejala berat.

Beberapa orang ada yang dikabarkan kulitnya melepuh, jatuh pingsan hingga kembali terinfeksi COVID-19 usai melakukan vaksin. Hal ini membuat banyak orang meragukan tingkat keamanan vaksin hingga enggan melakukannya.

Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH, mengatakan, pada dasarnya vaksin COVID-19 mekanismenya sama seperti obat-obatan atau yang lainnya.

"Maksudnya dia mekanismenya sama kalau masuk ke dalam tubuh dia dianggap sebagai benda asing. Nah, kalau sesuatu benda asing masuk ke dalam tubuh, pastinya ada reaksi. Tubuh akan menolak pada saat pertama kali," kata dia saat live di Instagram @vivacoid, Jumat 25 Juni 2021.

Nah, reaksi penolakan tersebut lah yang dinamakan dengan reaksi alergi. Dokter Mahesa menjelaskan, reaksi alergi memiliki empat tingkatan dan yang paling parah adalah anafilaksis. Apa itu?

"Tiba-tiba habis disuntik, dia drop, jatuh pingsan, gak tertolong karena jantungnya sulit memompa karena tensinya drop, akhirnya meninggal. Reaksi lainnya adalah kulitnya melepuh. Ada yang melepuhnya cuma sedikit, tapi ada juga yang melepuh seluruh tubuh, bahkan sampai ke kelopak mata, hidung, mulut, jadi kaya orang terbakar. Nah, itu reaksi," ungkap dia.

Menurut Mahesa, setiap orang akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda usai melakukan vaksin. Jadi, reaksi atau gejala yang dirasakan sifatnya individual.

"Biasanya pada saat penyuntikan atau mau dikasih obat tertentu, itu petugas selalu nanya, ada riwayat alergi gak? Di formulir yang kita tulis sebelum vaksinasi biasanya ditanya, pernah mengalami alergi gak. Klo alergi, ditanya alerginya apa," tutur dia.

Kata Mahesa, hal itu penting dilakukan untuk mencegah potensi yang akan dihadapi ketika mendapatkan suntikan atau obat tertentu.

"Belum lagi reaksi-reaksi yang lain, itu individual sifatnya. Jadi kita gak bisa bilang bahwa kalau suntikan vaksin A, pasti semuanya akan demam, gak juga. Terus kemarin ada yang bilang habis disuntik bawaannya ngantuk, lapar, itu individual, gak semuanya akan mengalami seperti itu," ujar dia.

Oleh karena itu, Mahesa mengimbau agar jangan takut untuk divaksin. Karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah menjamin tingkat keamanannya.

"Yang pasti prinsip pertamanya adalah kalau vaksin sudah dikasih izin sama BPOM, menggunakan Use Emergency-nya itu, maka BPOM sudah menjamin bahwa itu aman," tegas dia.

"Nah, persoalan lama ini sifatnya tadi, kalau ada reaksi, reaksinya individual. Jadi gak bisa bilang kita, katanya aman kok ada yang lumpuh misalnya. Itu individual, kita gak tahu. Bisa jadi dia ada penyakit sebelumnya," kata dr. Mahesa.

orang melaporkan reaksi yang berbeda-beda usai melakukan vaksin COVID-19, mulai dari mengalami gejala ringan hingga berat. Namun yang menjadi sorotan adalah, mereka yang mengalami gejala berat.

Beberapa orang ada yang dikabarkan kulitnya melepuh, jatuh pingsan hingga kembali terinfeksi COVID-19 usai melakukan vaksin. Hal ini membuat banyak orang meragukan tingkat keamanan vaksin hingga enggan melakukannya.

Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH, mengatakan, pada dasarnya vaksin COVID-19 mekanismenya sama seperti obat-obatan atau yang lainnya.

"Maksudnya dia mekanismenya sama kalau masuk ke dalam tubuh dia dianggap sebagai benda asing. Nah, kalau sesuatu benda asing masuk ke dalam tubuh, pastinya ada reaksi. Tubuh akan menolak pada saat pertama kali," kata dia saat live di Instagram @vivacoid, Jumat 25 Juni 2021.

Nah, reaksi penolakan tersebut lah yang dinamakan dengan reaksi alergi. Dokter Mahesa menjelaskan, reaksi alergi memiliki empat tingkatan dan yang paling parah adalah anafilaksis. Apa itu?

"Tiba-tiba habis disuntik, dia drop, jatuh pingsan, gak tertolong karena jantungnya sulit memompa karena tensinya drop, akhirnya meninggal. Reaksi lainnya adalah kulitnya melepuh. Ada yang melepuhnya cuma sedikit, tapi ada juga yang melepuh seluruh tubuh, bahkan sampai ke kelopak mata, hidung, mulut, jadi kaya orang terbakar. Nah, itu reaksi," ungkap dia.

Menurut Mahesa, setiap orang akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda usai melakukan vaksin. Jadi, reaksi atau gejala yang dirasakan sifatnya individual.

"Biasanya pada saat penyuntikan atau mau dikasih obat tertentu, itu petugas selalu nanya, ada riwayat alergi gak? Di formulir yang kita tulis sebelum vaksinasi biasanya ditanya, pernah mengalami alergi gak. Klo alergi, ditanya alerginya apa," tutur dia.

Kata Mahesa, hal itu penting dilakukan untuk mencegah potensi yang akan dihadapi ketika mendapatkan suntikan atau obat tertentu.

"Belum lagi reaksi-reaksi yang lain, itu individual sifatnya. Jadi kita gak bisa bilang bahwa kalau suntikan vaksin A, pasti semuanya akan demam, gak juga. Terus kemarin ada yang bilang habis disuntik bawaannya ngantuk, lapar, itu individual, gak semuanya akan mengalami seperti itu," ujar dia.

Oleh karena itu, Mahesa mengimbau agar jangan takut untuk divaksin. Karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah menjamin tingkat keamanannya.

"Yang pasti prinsip pertamanya adalah kalau vaksin sudah dikasih izin sama BPOM, menggunakan Use Emergency-nya itu, maka BPOM sudah menjamin bahwa itu aman," tegas dia.

"Nah, persoalan lama ini sifatnya tadi, kalau ada reaksi, reaksinya individual. Jadi gak bisa bilang kita, katanya aman kok ada yang lumpuh misalnya. Itu individual, kita gak tahu. Bisa jadi dia ada penyakit sebelumnya," kata dr. Mahesa.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel