Rekam jejak prestasi Indonesia sepanjang ASEAN Para Games

ASEAN Para Games (APG) memasuki edisi ke-11 dengan Indonesia sebagai tuan rumah pengganti Vietnam yang memutuskan mundur karena pandemi COVID-19.

Pesta olahraga untuk atlet disabilitas terbesar di Asia Tenggara ini secara resmi bakal bergulir pada 30 Juli hingga 6 Agustus 2022. Lebih dari seribu atlet dari 11 negara bersaing dalam 14 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Berdasarkan data dari penyelenggara, Indonesia sebagai tuan rumah menjadi negara dengan atlet terbanyak yakni 324 atlet. Kemudian Thailand mengirim 303 wakil.

Baca juga: Menpora apresiasi persiapan arena tenis meja untuk APG 2022

Sisanya, Vietnam (119 atlet), Kamboja (112), Filipina (144), Malaysia (70), Myanmar (69), Singapura (37 atlet), Laos (37), Timor Leste (15 atlet), dan Brunei Darussalam dengan kontingen paling sedikit yakni 13 atlet.

Indonesia bakal menurunkan atlet terbaik. Para-atletik menjadi yang terbanyak dengan 78 atlet, para-renang (47), para-tenis meja (41), para-bulu tangkis (25), para-catur (18), bola voli duduk (16), CP Football (14), para-angkat berat (13), para-panahan (12), boccia (12) , dan goalball (12), bola basket kursi roda (10), blind judo (18), dan tenis kursi roda (8).

Dengan skuad tersebut, Merah Putih menargetkan juara umum dengan minimal mengemas 104 medali emas. Target tersebut terbilang realistis. Selain karena berstatus tuan rumah, rekam jejak prestasi Indonesia juga cenderung mengalami peningkatan sepanjang berlangsungnya ASEAN Para Games.

Tercatat, Indonesia dua kali menjadi juara umum masing-masing pada 2014 ketika bergulir di Myanmar dan terakhir di Malaysia pada 2017.

Sedangkan negara paling mendominasi sepanjang berlangsungnya APG adalah Thailand dengan enam kali menjadi juara umum. Sisanya Malaysia satu kali ketika menjadi tuan rumah pada edisi pertama pada 2001.

Untuk mengetahui lebih rinci pencapaian Indonesia sepanjang gelaran ASEAN Para Games, berikut uraiannya.

Baca juga: Fadli optimistis tatap Paris 2024 meski paracycling absen di APG 2022

APG I/2001

Sejak kali pertama ASEAN Para Games bergulir di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2021, Indonesia tak pernah absen berpartisipasi.

Berdasarkan laman resmi APG 2022, pada edisi pertama sekitar 600 atlet dari 10 negara turut bersaing dalam dua cabang olahraga yakni para-atletik dan para-renang.

Kala itu, Malaysia sebagai tuan rumah meraih medali terbanyak yakni 371 keping dengan rincian 143 emas, 136 perak, dan 92 perunggu. Posisi kedua ditempati Thailand dengan 119 emas, 65 perak, 20 perunggu.

Lalu Myanmar di urutan ketiga dengan 36 emas, 18 perak, 17 perunggu. Singapura di bawahnya dengan 16 emas, 9 perak, 12 perunggu. Posisi kelima adalah Vietnam dengan 11 emas, 5 perak, 6 perunggu.

Kemudian Indonesia berada di urutan keenam dengan mengantongi 6 emas, 5 perak, dan tujuh perunggu. Disusul Filipina (5 emas, 6 perak, 10 perunggu), Brunei Darussalam (4 emas, 2 perak, 7 perunggu), Kamboja (1 emas, 1 perak, 1 perunggu), dan Laos yang pulang tanpa medali.

Baca juga: Fadli Imammuddin siap nyalakan kaldron ASEAN Para Games 2022

II/2003

Dua tahun kemudian, prestasi Indonesia di ASEAN Para Games yang bergulir di Hanoi, Vietnam meningkat dibanding sebelumnya.

Skuad Merah Putih naik satu peringkat dengan menempati posisi kelima dalam klasemen akhir perolehan medali dengan 10 emas, 11 perak, 18 perunggu.

Sedangkan Thailand menjadi juara umum dengan menorehkan 101 emas, 61 perak, 31 perunggu. Lalu Vietnam dengan 81 emas, 80 perak, 86 perunggu. Posisi ketiga ada Malaysia dengan 54 emas, 40 perak, 46 perunggu.

Vietnam berada satu tingkat di atas Indonesia dengan meraih 24 medali emas, 12 perak, dan 12 perunggu.

Pada edisi kedua, cabang olahraga yang dipertandingkan pada ASEAN Para Games bertambah. Selain para-renang dan para-atletik, ada para-bulu tangkis, para-tenis meja, dan para-powerlifting.

Klasemen akhir APG II/2003: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (101, 61, 31)
2. Vietnam (81, 80, 86)
3. Malaysia (54, 40, 46)
4. Myanmar (24, 12, 12)
5. Indonesia (10, 11, 18)
6. Singapura (10, 8, 1)
7. Brunei Darussalam (4, 10, 5)
8. Filipina (2, 15, 24)
9. Kamboja (1, 5, 3)
10. Laos (0, 3, 1)
11. Timor Leste (0, 0, 1,)

Baca juga: Menpora: persiapan opening ceremony APG 2022 rampung

III/2005

Perlahan tapi pasti, Indonesia mulai unjuk gigi dengan terus mengalami peningkatan prestasi. Pada APG edisi ketiga di Manila, Filipina, posisi skuad Merah Putih naik lagi satu tingkat dari sebelumnya menjadi keempat.

Dari 10 cabang olahraga yang dipertandingkan, skuad Merah Putih membawa pulang 76 keping medali dengan rincian 30 emas, 26 perak, 20 perunggu.

Thailand masih mendominasi pada 2005 dengan kembali menjadi juara umum usai mengoleksi 139 emas, 64 perak, 28 perunggu.

Kemudian Vietnam di bawahnya dengan 80 emas, 36 perak, 22 perunggu. Malaysia finis ketiga dengan 75 emas, 40 perak, 26 perunggu.

Dalam edisi ini, sekitar seribu atlet dari 11 negara berpartisipasi dalam pertandingan yang menampilkan 394 nomor dari 10 cabang olahraga yakni blind judo, para-atletik, para-renang, tenis kursi roda, para-powerlifting, bola basket kursi roda, para-bulu tangkis, para-tenis meja, para-catur, dan goalball.

Klasemen akhir APG III/2005: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (139, 64, 28)
2. Vietnam (80, 36, 22)
3. Malaysia (75, 40, 26)
4. Indonesia (30, 26, 20)
5. Myanmar (29, 12, 4)
6. Filipina (19, 39, 37)
7. Singapura (15, 9, 9)
8. Brunei (7, 5, 5)
9. Kamboja (0, 3, 2)
10. Laos (0, 2, 1)
11. Timor Leste (0, 0, 0)

Baca juga: Lagu tema APG 2022 versi bahasa Inggris resmi diluncurkan

IV/2008

Memasuki edisi keempat, APG bergulir di Nakhon Ratchasima, Thailand pada 2008 dengan mempertandingkan 488 nomor dari 14 cabang olahraga.

Jumlah cabang bertambah dari edisi sebelumnya setelah anggar kursi roda, para-menembak, dan boccia turut dipertandingkan.

Indonesia kembali menempati posisi keempat dengan meraih 33 emas, 25 perak, dan 18 perunggu.

Thailand selaku tuan rumah digdaya di urutan teratas dengan mengoleksi medali terbanyak 257 emas, 109 perak, 84 perunggu.

Klasemen akhir APG IV/2008: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (257 109 84)
2. Malaysia (82, 74, 46)
3. Vietnam (78, 66, 43)
4. Indonesia (33, 25, 18)
5. Filipina (17, 21, 21)
6. Myanmar (12, 11, 12)
7. Singapura (6, 8, 5)
8. Brunei (3, 4, 10)
9. Laos (0, 1, 3)
10. Kamboja (0, 1, 0)
11. Timor Leste (0, 0, 2)

Baca juga: Inaspoc sulap tribun Stadion Manahan jadi panggung wayang besar

V/2009

Satu tahun berselang, ASEAN Para Games edisi kelima kembali bergulir dan Kuala Lumpur, Malaysia untuk kali kedua sejak 2001.

Sebenarnya APG edisi kelima ini bergulir di Laos. Namun kala itu Laos belum memiliki fasilitas yang ramah disabilitas, hingga akhirnya Malaysia sebagai pengganti.

Dengan mengusung tema ASEAN Moving Together, sebanyak 11 negara kembali bersaing dalam 11 cabang olahraga dengan memperebutkan 936 keping medali dengan rincian 409 emas, 288 perak, dan 239 perunggu.

Thailand melanjutkan dominasi dengan kembali menjadi juara umum dengan menyabet 157 emas, 75 perak, dan 57 perunggu.

Sedangkan Indonesia kembali menempati urutan keempat dengan 29 emas, 25 perak, 19 perunggu.

Klasemen akhir APG V/2009: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (157, 75, 57)
2. Malaysia (94, 81, 71)
3. Vietnam (73, 57, 45)
4. Indonesia (29, 25, 19)
5. Filipina (24, 24, 26)
6. Singapura (14, 5, 3)
7. Brunei (9, 5, 8)
8. Myanmar (8, 13, 5)
9. Kamboja (1, 2, 4)
10. Laos (0, 1, 1)

Baca juga: Stadion Manahan Solo untuk upacara pembukaan dan atletik APG 2022

VI/2011

Dua tahun selanjutnya, Indonesia mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah, tepatnya di Solo, Jawa Tengah.

Sekitar 870 atlet dari 11 negara berpartisipasi dalam ajang yang mempertandingkan 380 nomor 11 cabang olahraga tersebut.

Dalam kesempatan ini, Wakil Presiden periode 2009–2014, Boediono, menjadi sosok yang membuka APG 2011 di Stadion Manahan.

Sebagai tuan rumah, Indonesia belum mampu menjadi juara umum. Namun prestasi meningkat dari sebelumnya dengan menempati runner-up dalam klasemen medali dengan meraih 113 emas, 108 perak, dan 89 perunggu.

Sedangkan Thailand masih mendominasi dengan kembali meraih medali terbanyak yakni 126 emas, 96 perak, 73 perunggu.

Klasemen akhir APG VI/2011: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (126, 96, 73)
2. Indonesia (113, 108, 89)
3. Malaysia (51, 36, 45)
4. Vietnam (44, 44, 72)
5. Filipina (23, 23, 18)
6. Myanmar (11, 8, 12)
7. Singapura (9, 10, 9)
8. Brunei (3, 5, 8)
9. Kamboja (0, 5, 2)
10. Timor Timur (0, 2, 4)
11. Laos (0, 1, 1)

Baca juga: Inaspoc: Penginapan peserta APG 2022 dibagi sesuai cabang olahraga

VII/2014

Menjadi tuan rumah pada 2011 nyatanya menjadi titik balik dari prestasi Indonesia. Dua tahun berselang, Kontingen Merah Putih untuk kali pertama menghentikan dominasi Thailand dengan menjadi juara umum saat APG 2014 bergulir di Naypyidaw, Myanmar.

Kontingen Indonesia sukses menyabet medali terbanyak yakni 99 emas, 69 perak, dan 49 perunggu. Sedangkan Thailand berada di urutan kedua dengan 96 emas, 82 perak, dan 70 perunggu.

Kala itu, peserta berjumlah 10 negara setelah Timor Leste absen. APG 2014 memperebutkan 1.000 medali dengan rincian 359 emas, 330 perak, 311 perunggu dalam 359 nomor pertandingan dari 12 cabang olahraga.

Klasemen akhir APG VII/2014: (emas, perak, perunggu)
1. Indonesia (99, 69, 49)
2. Thailand (96, 82, 70)
3. Malaysia (50, 49, 41)
4. Vietnam (48, 65, 72)
5. Myanmar (34, 26, 36)
6. Filipina (20, 19, 21)
7. Singapura (7, 10, 10)
8. Kamboja (3, 4, 2)
9. Brunei (2, 3, 7)
10. Laos (0, 3, 3)

Baca juga: Bendera seluruh negara peserta APG 2022 berkibar di Stadion Manahan

VIII/2015

Satu tahun berselang, APG edisi kedelapan pada 2015 bergulir di Singapura. Secara keseluruhan Indonesia kembali harus kalah dari Thailand dari segi perolehan medali.

Skuad Merah Putih berada di urutan kedua dengan 81 emas, 74 perak, 63 perunggu. Sedangkan Thailand di posisi teratas dengan 95 emas, 76 perak, dan 79 perunggu.

Total 1.811 atlet dari 10 negara bersaing dalam 336 nomor pertandingan dari 15 cabang olahraga.

Singapura sebagai tuan rumah mencapai prestasi terbaiknya dengan menempati posisi kelima usai meraih 24 emas, 17 perak, 22 perunggu.

Klasemen akhir APG VIII/2015: (emas, perak, perunggu)
1. Thailand (95, 76, 79)
2. Indonesia (81, 74, 63)
3. Malaysia (52, 58, 37)
4. Vietnam (48, 58, 50)
5. Singapura (24, 17, 22)
6. Myanmar (16, 17, 29)
7. Filipina (16, 17, 26)
8. Brunei (3, 3, 6)
9. Kamboja (1, 2, 6)
10. Laos (0, 2, 3)

Baca juga: INASPOC pastikan kesiapan Stadion Manahan untuk pembukaan APG 2022
X/2017

Edisi kesepuluh APG bergulir di Kuala Lumpur, Malaysia. Ini merupakan kali ketiga Negeri Jiran menjadi tuan rumah pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Sekitar 1.452 atlet dari 11 negara bersaing dalam 369 nomor dari 16 cabang olahraga. Prestasi Indonesia kembali meningkat dengan menjadi juara umum.

Secara keseluruhan, Kontingen Merah Putih mengoleksi 126 emas, 75 perak, 50 perunggu.

Sementara tuan rumah Malaysia juga tampil impresif dengan berada di urutan kedua dengan 90 emas, 85 perak, 83 perak. Thailand berada di bawahnya dengan 68 emas, 73 perak, 95 perunggu.

Klasemen akhir APG IX/2017: (emas, perak, perunggu)
1. Indonesia (126, 75, 50)
2. Malaysia (90, 85, 83)
3. Thailand (68, 73, 95)
4. Vietnam (40, 61, 60)
5. Filipina (20, 20, 29)
6. Myanmar (11, 15, 17)
7. Singapura (10, 18, 24)
8. Brunei (2, 6, 6)
9. Timor Leste (2, 0, 1)
10. Kamboja (0, 5, 5)
11. Laos (0, 4, 4)

Baca juga: NPC optimistis Indonesia raih juara umum APG 2022
X/2020

APG edisi X pada 2022 batal bergulir di Filipina karena berbagai alasan seperti kendala keuangan dan logistik di tengah kondisi pandemi COVID-19.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel