Rekam Jejak Robert Alberts di Indonesia: Minim Trofi, Konsisten Orbitkan Pemain Muda

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Robert Alberts masuk kategori pelatih papan atas sejak pertama kali berkarier di Indonesia. Bahkan, dia berhasil membuat Arema FC jadi juara ISL 2009/2010.

Namun sejak itu juga tidak ada lagi trofi yang berhasil dimenanginya, baik saat menangani PSM Makassar hingga kini di Persib Bandung. Meski demikian, Robert Alberts punya satu catatan positif di klub Indonesia, yaitu tidak pernah dipecat.

Kini, Robert berhasil membawa Persib Bandung ke final Piala Menpora 2021. Meski di final pertama Persib kalah 0-2 dari Persija Jakarta di Stadion Maguwoharjo, Sleman 22 April, dia masih punya kesempatan mempersembahkan trofi. Ada final kedua yang digelar Minggu (25/4/2021), di Stadion Manahan, Solo.

Artinya, Robert juga berpeluang merengkuh trofi kedua di Indonesia, meskipun misi itu tidak mudah. Maung Bandung tak butuh sekadar menang, tapi juga mengejar defisit dua gol.

Apa pun hasilnya di final kedua, diprediksi posisi Robert di Persib tetap aman. Dia selalu punya alasan yang logis dan bisa diterima oleh manajemen dan fans.

Di luar itu, Robert termasuk pelatih yang bisa mengorbitkan pemain berkualitas. Seperti saat menangani Arema musim 2009/2010, dia menyulap tim yang sebenarnya biasa saja jadi juara.

Pemain seperti Ahmad Bustomi, Beny Wahyudi, Dendi Santoso dan lainnya diorbitkan. Mereka bisa menembus skuad Timnas Indonesia setelah itu.

Di PSM, Robert Alberts juga mengorbitkan sederet pemain periode 2016-2019, terutama legun asing dari negaranya, Belanda. Dia membuat Wiljan Pluim dan Marc Klok jadi pemain asing papan atas di Indonesia. Pemain pribumi diwakili M. Arfan Ridwan Tawainella dan lainnya.

Filosofi Berbeda di Persib

Pelatih Persib Bandung, Robert Alberts. (Erwin Snaz/Bola.com)
Pelatih Persib Bandung, Robert Alberts. (Erwin Snaz/Bola.com)

Sementara di Persib Bandung, sudah mulai terlihat pemain-pemain bakat yang akan muncul. Satu di antaranya Beckham Putra yang mulai bisa memperlihatkan kepercayaan dirinya.

Selain itu, ada Bayu Fikri dan Kakang Rudianto juga tinggal menunggu waktu untuk dapat kesempatan. Bagi pemain muda, Robert bisa menempatkan diri seperti seorang bapak. Dia terlihat tegas saat mendampingi tim dalam pertandingan. Namun di luar lapangan, dia dekat secara personal dengan pemainnya.

Gara-gara sering mengorbitkan pemain, Robert seperti termaafkan meski tidak mendapat gelar setelah hampir 11 tahun berlalu. Sebenarnya, pelatih berusia 64 tahun ini sempat membawa Arema ke final Copa Indonesia pada 2010. Sayang waktu itu Arema kalah dari Sriwijaya FC di partai puncak.

Harusnya, musim 2020 dia kembali ke trek juara dengan Persib. Sayang setelah meraih kemenangan di tiga laga awal, kompetisi terhenti. Padahal Persib kukuh di puncak klasemen waktu itu.

Tapi ada sebuah filosofi beda yang dibuat Robert di Persib. Di samping mempersiapkan pemain muda, dia mendatangkan banyak pemain berpengalaman sebagai kerangka timnya.

Di Piala Menpora, Persib punya tiga pemain asing dan tiga naturalisasi, yaitu Wander Luiz, Farshad Noor, Nick Kuipers, Victor Igbonefo, Estaban Vizcarra dan Ezra Walian. Selain itu ada pemain lokal seperti Febri Hariyadi, Ferdinand Sinaga, Dedi Kusnandar dan lainnya. Harusnya dengan materi seperti itu, Robert bisa mengakhiri puasa gelarnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini