Rekomendasi New Normal Sehat di Penerbangan dari Para Dokter Spesialis

Ezra Sihite, Wahyu Firmansyah

VIVA – Perhimpunan Dokter Spesialis Penerbangan Indonesia (Perdospi) memberikan rekomendasi kepada dunia penerbangan terkait penerapan new normal atau tatanan baru. Tatanan baru diterapkan oleh seluruh masyarakat yang sudah beberapa bulan ini harus berdiam diri di rumah, untuk kembali produktif, melakukan berbagai aktivitas dengan menerapkan protokol kesehatan yang dapat meminimalisir penularan Corona COVID-19.

Dunia penerbangan Indonesia juga harus terus bergerak dan menyiapkan diri untuk menyongsong penerapan new normal di bidang penerbangan. Untuk itu ada beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh Ketua Perdospi Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS(K), SpKP, AAK.

Perdospi merekomendasikan adanya upaya-upaya terorganisir, sistematis dan terukur dalam penerapan new normal di dunia penerbangan. Pertama agar pemerintah pusat menjadi pengendali utama dalam pengawasan kekarantinaan kesehatan dan kebijakan screening kesehatan calon penumpang pesawat komersial terkait COVID-19.  

Lanjutnya ia mengingatkan tidak boleh ada penafsiran yang berbeda di lapangan akibat kebijakan pemerintah daerah yang diambil terkait screening kesehatan calon penumpang di keberangkatan atau pun penumpang di kedatangan di bandara.

"Untuk bandara-bandara di daerah tertentu yang dianggap belum bisa melaksanakan screening dapat diberikan kelonggaran terkait screening kesehatan penumpang pesawat, yang harus berdasarkan kebijakan pusat yang terlebih dahulu berkonsultasi dengan pemerintah daerah. Secara umum, screening mandiri yang cukup efektif dengan  biaya lebih terjangkau seperti rapid test antigen COVID-19 hendaknya dapat lebih dikedepankan," ujar Wawan dalam keterangan yang diterima VIVA, Senin, 8 Juni 2020.

Wawan juga mengingatkan agar  semua pemangku kepentingan di dunia penerbangan melakukan upaya-upaya maksimal untuk meningkatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat pengguna jasa penerbangan dalam menerapkan protokol kesehatan dan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, maupun rekomendasi para ahli melalui organisasi profesi dalam pencegahan dan pengendalian COVID-19.

"Perdospi merekomendasikan agar seluruh dokumen screening kesehatan calon penumpang diselesaikan di luar proses check in (dapat di area tertentu bandara atau bahkan  lebih baik di luar bandara) dengan memaksimalkan teknologi internet sebagai sarana  pengumpulan dokumen tersebut (misalnya saat pembelian tiket), sehingga tidak terjadi penumpukan orang atau kerumunan saat check in," katanya.

Penerapan jarak antar calon penumpang juga tetap direkomedasikan diterapkan dalam era New Normal. Perdospi juga meminta pada badan usaha atau penyelenggara bandara untuk menyediakan desain interior yang lebih ramah terhadap konsep physical distancing dan memaksimalkan sistem non-kontak dalam berbagai proses check in dan boarding. Demikian juga hand sanitizer gel selalu tersedia di berbagai tempat di bandara.

Selanjutnya, penggunaan masker saat di bandara dan di dalam pesawat agar dinaikkan levelnya dari penggunaan masker kain menjadi masker bedah 3 lapis. Pihak keamanan bandara, aparat lainnya di bawah otoritas bandara dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) serta awak kabin, agar diberikan wewenang untuk melakukan teguran dan penindakan sesuai aturan yang berlaku, termasuk penundaan pemberangkatan, pelaksanaan tindakan kekarantinaan oleh KKP, maupun pengkarantinaan di kursi belakang.

"Perdospi merekomendasikan tidak dilakukannya pengurangan jumlah kursi pesawat yang digunakan penumpang (misalnya menjadi hanya 50 persen dari kapasitas) berdasarkan konsep physical distancing di era new normal ini, karena tidak meyakini hal ini merupakan satu-satunya cara untuk mengurangi penularan COVID-19. Cara lain pengurangan resiko penularan adalah dengan menaikkan level proteksi APD (alat pelindung diri), seperti penggunaan masker bedah 3-ply , penggunaan face shield dan pembatasan pergerakan di dalam kabin," katanya.

Dalam mengelola dan mencegah penularan COVID-19 di kabin pesawat diberlakukan optimalisasi proteksi atau perlindungan diri dibandingkan penerapan konsep physical distancing.

"Perdospi merekomendasikan pengadaan health passenger kit untuk setiap penumpang pesawat yang berisikan 1 buah surgical mask 3-ply, 1 botol mini hand sanitizer gel, dan 1 sachet tisu desinfektan utk melap permukaan , dengan menggunakan bahan yang sesuai dengan standar ICAO/IATA, yang tidak merusak atau korosif terhadap pesawat. Passenger kit ini sudah dimasukkan dalam komponen harga tiket pesawat," sambungnya.

Khusus untuk awak kabin, penggunaan alat pelindung diri sama seperti untuk penumpang namun ditambahkan sarung tangan dan, dapat dipertimbangkan face shield dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan penerbangan.

"Dalam tatanan baru new normal ini, Perdospi menganggap wajar jika proses check in dan boarding akan berjalan lebih lama, namun setidaknya maksimal waktu yang dapat ditoleransi adalah batas check in 2 jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat domestik dan 3 jam sebelum keberangkatan pesawat internasional. Sedangkan untuk kedatangan maksimal lama penumpang tertahan di bandara karena proses skrining adalah 2 jam," pungkasnya.

Baca juga: Siapa Edward Colston, Mengapa Patungnya Dirobohkan Demonstran Inggris