Rektor dan Turbulensi Ekonomi Kampus

·Bacaan 3 menit

VIVA – “Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa” (Soewardi, 1945). Itulah penggalan kalimat gagah berani Raden Mas Soewardi Surjaningrat. Penggalan kalimat yang dilontarkan dalam peristiwa rapat akbar bangsa Indonesia di lapangan Ikada.

Peristiwa bersejarah pada 19 September 1945 yang menarik jadi pembelajaran. Khususnya komitmen bangsa yang menolak segala bentuk penjajahan. Soewardi tidak sendiri. Hadir bersama dua rekan lainnya, Mr. Achmad Soebardjo dan Mr. Iwa Koesoemasoemantri. Ketiganya adalah para menteri negara era pemerintah Soekarno. Mereka sengaja hadir lebih awal untuk menentramkan ratusan ribu peserta rapat akbar.

Kala itu kegentingan sangat terasa. Rapat akbar yang dibayang-bayangi pembantai massal dari tentara Jepang. Karena sejak jauh hari Jepang telah beri ultimatum, agar tidak melaksanakan rapat akbar tersebut.

Namun ketiga menteri negara itu tak surut nyali. Memberanikan diri hadir paling pertama di lapangan Ikada. Demi menguatkan barisan pemuda Indonesia. Karena rapat akbar ini punya agenda strategis mengamankan kemerdekaan RI.

Lagi-lagi Soewardi sebagai Menteri Pengajaran – kini lebih dikenal sebagai Menteri Pendidikan – berdiri gagah berani. Naluri sebagai pemimpin menonjol kuat. Berupaya memastikan rapat akbar yang dihadiri 300 ribu jiwa berlangsung sesuai harapan.

Nyalakan Api Juang Soewardi di Kampus

Siapakah Soewardi itu? Dia tidak lain adalah Ki Hajar Dewantara. Tokoh pendidikan nasional yang menjadi pendiri Taman Siswa. Sekaligus sebagai peletak dasar-dasar pendidikan pada semua jenjang pendidikan.

Dari pemikirannya lah muncul rumusan terminologi guru sebagai digugu dan ditiru. Seorang pendidik harus mampu menujukan kemampuan digugu dan ditiru. Kemampuan untuk digugu dan ditiru bagi peseta didiknya.

Apakah konsep itu relevan di kampus? Rasanya tak ada yang menyangkal. Sosok dosen pun harus mampu digugu dan ditiru. Terlebih lagi seorang rektor yang menjadi pucuk tertinggi lembaga pendidkan kampus.

Gagasan pendidkan berkarakter dalam pandangan Soewardi tidaklah rumit. Karakter yang santun, tulus, jujur dan bersahaja, namun berani, teguh dan setia memperjuangkan kemerdekaan, kebenaran dan keadilan.

Personifikasi karakter itulah yang ditunjukan saat rapat akbar di lapangan Ikada. Soewardi memberanikan diri tampil di tengah kepungan bayonet Jepang dan senjata otomatis. Bahkan dengan ringan mengatakan ”Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa”.

Sepenggal jawaban Soewardi saat mendapat pesan dari Sekretaris Negara Abdul Gofur Pringgodigdo. Sekretaris Negara ini mencoba mengingatkan Soewardi yang ingin hadir lebih awal ke lapangan Ikada.

Semangat Soewardi yang dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara adalah semangat menegakan kebenaran. Kiranya kampus pun mewarisi semangat serupa. Semangat menegakan kebenaran, bukan sebaliknya. Diam dan bersembunyi melihat kebrutalan.

Rektor dan Turbulensi Ekonomi Kampus

Kini persoalan serupa pun hadir di kampus-kampus. Situasi pandemi nyaris meluluhkan kampus-kampus. Terutama kampus swasta. Keterhambatan operasional kampus kian genting.

Catatan APTISI tidak mengingkari keterhambatan tersebut. Kampus-kampus swasta berada pada turbulensi ekonomi yang berat. Kondisinya bisa berdampak domino terhadap masa depan perguruan tinggi.

Dalam situasi itulah sosok rektor harus berani ambil peran optimal. Turbulensi kampus sebagai dampak pandemi, tak bisa keluar tanpa nahkoda yang berani. Nahkoda yang piawai melihat berbagai peluang dan kesempatan di tengah keterhimpitan.

Rektor harus berdiri paling depan. Berbekal kompas dan peta alam, mengarahkan kapal bermanuver. Menumbuhkan semangat tarung dalam diri awak kapal. Mengukur segala potensi dan matang mengambil keputusan.

Tentu saja, tanpa sosok rektor yang kuat, kampus apapun akan karam dan kandas melewati badai pandemi ini. Namun berbekal semangat Soewardi yang santun, tulus, jujur dan bersahaja, namun berani, teguh dan setia memperjuangkan kemerdekaan, kebenaran dan keadilan jujur, tulus, niscaya bisa menjadi titik cahaya yang mengantarkan kapal keluar dari tubulensinya. Semoga rektor-rektor sungguh mewarisi semangat Soewardi itu.

*Penulis adalah peneliti kebijakan publik IDP-LP