Relawan Vaksin Nusantara: ARB, Gatot Nurmantyo Hingga Anggota DPR

Dedy Priatmojo
·Bacaan 4 menit

VIVA – Sejumlah tokoh dan anggota DPR RI menjadi relawan dalam penelitian vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto. Para anggota dewan itu telah diambil sampel darahnya untuk dipisahkan sel dendritiknya dan akan disuntikkan kembali ke tubuh pasien dalam bentuk vaksin.

Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Letnan Jenderal TNI dr. Albertus Budi Sulistya mengatakan sejumlah anggota DPR menjadi sampel penelitian vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu, 14 April 2021.

"Mereka menjalani penelitian sesuai dengan protokol penelitian," kata Budi ketika dikonfirmasi di Jakarta.

Menurut Budi, bila hasil penelitian membuktikan ada perolehan imunitas terhadap COVID-19, baik seluler maupun humoral dengan pemberian vaksin Nusantara, akan menjadi penemuan baru. "Ini menjadi penemuan yang luar biasa dan aman," ujar Budi.

Jika bangsa Indonesia memiliki vaksin nasional, apapun mereknya, baik vaksin Nusantara, Merah Putih, maupun lainnya, Indonesia akan sejajar dengan negara besar.

"Indonesia akan sejajar dengan negara-negara besar dan memiliki harga diri bangsa sekaligus akan membantu perekonomian nasional," katanya. Saat ini, tambah Budi, Indonesia masih bergantung pada vaksin negara lain.

Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengungkapkan alasan dirinya ikut dalam vaksinasi COVID-19 dengan menggunakan vaksin Nusantara, salah satunya vaksin tersebut efektif dalam rangka meningkatkan imunitas.

"Rabu pagi, saya bersama puluhan teman lainnya mendatangi RSPAD, tujuannya adalah untuk mengikuti vaksinasi dengan menggunakan vaksin Nusantara. Minat terhadap vaksin Nusantara ini ternyata sangat tinggi, terbukti dengan antrean panjang yang ada," kata Saleh di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan alasan dirinya mau ikut vaksinasi itu, antara lain telah berdiskusi dengan para peneliti vaksin tersebut asal Indonesia maupun Amerika Serikat (AS).

Saleh mendapatkan penjelasan utuh terkait dengan vaksin Nusantara dan percaya bahwa vaksinasi tersebut sangat baik dan efektif dalam rangka meningkatkan imunitas.

Kedua, katanya lagi, sudah berbicara dengan orang-orang yang pernah divaksin dengan vaksin Nusantara. Vaksin tersebut tidak memiliki efek samping dan efektivitasnya sangat baik.

"Setelah divaksin, mereka mengukur tingkat imunitas mereka. Terbukti, tingkat imunitas mereka naik cukup tinggi. Mereka lalu merekomendasikan vaksin ini kepada orang lain, termasuk kepada saya," katanya pula.

Anggota Komisi IX DPR RI itu menyebutkan alasan ketiga, yakni vaksin Nusantara sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, terutama Presiden Jokowi sudah meminta agar Indonesia mengutamakan produk dalam negeri.

Oleh karena itu, Saleh menilai vaksin Nusantara harus menjadi salah satu contoh produk dalam negeri yang perlu mendapatkan dukungan dan perhatian pemerintah. Ia berharap kedaulatan dan kemandirian Indonesia dapat terjamin dalam bidang kesehatan dan pengobatan.

Dukung Vaksin Nusantara

Senada, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Gatot Nurmantyo juga mengikuti pengambilan sampel darah untuk uji klinis tahap II Vaksin Nusantara yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan dokter Terawan. Gatot sendiri mengaku senang dengan adanya vaksin yang dibuat oleh Indonesia ini.

Ada hasil karya putra Indonesia yang terbaik kemudian uji klinik, kenapa tidak. Apa pun saya lakukan untuk bangsa dan negara ini," ujar Gatot kepada wartawan di RSPAD, Jakarta Pusat, Rabu 14 April 2021.

Terkait vaksin Nusantara ini yang belum mendapat izin dari BPOM pun ditanggapi Gatoto. Menurutnya, ia siap menyukseskan Vaksin Nusantara, meski belum ada izinnya.

Begitu pun dengan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie. Ia bahkan menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Nusantara. Meskipun vaksin Nusantara belum mendapat izin dari Badan POM, ARB yakin dengan efektivitasnya.

“Ini vaksin nusantara. Saya pertama kali. Insya Allah berhasil,” kata Aburizal melalui video yang diterima VIVA pada Selasa, 13 April 2021.

Vaksin Nusantara diinisiasi Dokter Terawan bekerja sama dengan Litbangkes Universitas Diponegoro, tim laboratorium RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan Aivita Biomedical Corporation dari Amerika Serikat, dan Rama Pharma.

Vaksin Nusantara sangat berbeda dengan vaksin COVID-19 yang sudah ada. Jika vaksin yang sudah dipakai saat ini ada yang dibuat dengan memakai virus yang dimatikan seperti buatan Sinovac misalnya, atau ada juga yang terbuat dari materi mRNA seperti buatan Pfizer Biontech, maka Vaksin Nusantara dibuat dengan materi sel dendritik.

Sel dendritik merupakan komponen dari sel darah putih yang diambil dari darah subyek pasien yang sehat. Kemudian sel tersebut dipaparkan dengan antigen protein S dari SARS-CoV-2. Sel dendritik yang telah mengenal antigen akan diinjeksikan kedalam tubuh subyek kembali.

"Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap SARS-CoV-2, sehingga diharapkan mampu melindungi penerima vaksin dari infeksi COVID-19 di masa yang akan datang," kata pneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang yang ikut ambil bagian dalam pembuatan Vaksin Nusantara, dr. Yetty Movieta Nency, Sp.A (K), IBCLC.