Rempah-rempah Hadir Kembali di Tengah Pandemi

Dian Lestari Ningsih
·Bacaan 5 menit

VIVA – Tak ada yang menyahut berkomentar ketika di grup terbuka media sosial, ada yang bertanya tentang riwayat secang, untuk nama salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu. Entah, tak ada anggota grup yang tahu atau tidak berminat merespons unggahan pertanyaan singkat tersebut. Tentu tak ada yang perlu dipertanggungjawabkan atau merasa bertanggung jawab, dirugikan atau merugikan atas pertanyaan itu. Namanya juga dunia media sosial.

Pertanyaan itu terkesan lewat begitu saja, sebagaimana secang sebagai salah satu tanaman rempah dan diduga menjadi jejak identitas nama wilayah setempat, yang seolah tak diketahui publik lagi. Grup itu pun terus lebih riuh bermandikan unggahan penawaran jualan aneka barang, kuliner, maupun jasa. Sekali-kali muncul uluk salam dan "reposting" materi dari tempat maya lain, baik bersifat serius maupun guyon, atau bahkan unggahan tentang kondisi terkini infrastruktur dan fasilitas publik setempat.

Kisah secang sebagai wilayah berjejak, apalagi catatan ingatan bersama masa lalu yang paling kuno, terkesan tak laku menghadirkan respons di grup itu. Pendiri Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana pun mengaku tak tahu banyak soal secang dalam kaitan dengan nama wilayah di antara 21 kecamatan di daerah administratif tetangganya itu.

Sejumlah jejak yang diketahui, terutama sejak zaman kolonial Belanda, antara lain jalur kereta api, stasiun, pasar telo (ketela), jaringan irigasi, dan pabrik tekstil. Ia simpan juga di gawainya dua peta masa kolonial yang mengarah kepada nama Secang.

Namun, ia memiliki dugaan kuat tentang julukan xecang untuk kawasan itu terkait masa lalu melimpahnya tanaman secang (Caesalpinia sappan), salah satu item rempah dengan segala khasiat dan manfaat, seperti ramuan tradisional, jamu, pewarna alam, aromatik, dan kosmetik.

Mesin pencarian digital maupun media daring memuat banyak informasi tentang khasiat secang sebagai bagian dari rempah. Secang sebagai tanaman rempah, seakan nyaris sirna di Kecamatan Secang saat ini. Padahal, dalam alam budaya masyarakat Jawa, suatu nama membawa arti atau isi penting, baik menyangkut jejak, keadaan masa itu, maupun suatu harapan. Hal demikian, juga terkait dengan nama wilayah.

Apalagi untuk pendatang di secang, akan terasa betapa tak mudah menjumpai tanaman secang. Nyaris tak terdengar pula kabar budi daya secang secara masif oleh masyarakat setempat. "Memang sulit menemukan tanaman secang di sini. Kalau di pasar ada, tapi tidak tahu dari mana," ucap Dewi Widyawati, warga setempat yang mengelola warung makan kecil di depan Terminal Secang di tepi Jalan Raya Magelang-Semarang.

Beberapa tahun lalu, seorang pemuka warga setempat, Sukardi, membuka rumah makan dengan salah satu menu, wedang secang. Bahan bakunya diperoleh dari Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Usaha rumah makan di tepi Jalan Raya Secang-Temanggung tersebut sudah tutup cukup lama.

Meskipun secang sebagai komoditas rempah terkesan tak populer di Kecamatan Secang, bukan berarti warga tak mengonsumsi jamu tradisional yang salah satu bahan bakunya ada dari tanaman itu.

Terlebih selama pandemi COVID-19 yang hampir menyentuh satu tahun terakhir ini, jamu dengan bahan baku rempah seakan beroleh medan dan daya jelajah konsumsi. Berbagai produk jamu, antara lain beras-kecur, cabai-puyang, uyup-uyup, dan kunir-asem.

Boleh dibilang, banyak orang menjadikan jamu bagian dari upaya menangkal penularan COVID-19. Presiden Joko Widodo juga menyatakan minum jamu sebagai kebiasaan sebelum melakukan aktivitas sehari-hari atau menjalani tugas-tugasnya, jauh waktu sebelum menjadi Kepala Negara.

Seorang warga di salah satu perumahaan di Secang, Eni Setyowati, yang semula berjualan aneka minuman instan untuk jajanan anak-anak, mengiprahkan usaha rumahannya dengan membuat jamu kunir-asem setelah menangkap peluang pasar jamu karena pandemi.

Jangkauan pemasarannya tak muluk-muluk. Ia memanfaatkan jejaring media sosial. Suaminya yang bekerja sebagai tukang bangunan, sering membantu layanan pesan-antar jamu kunir-asem di kawasan Secang. Sesekali pemasaran sampai Kota Magelang.

Satu-dua penjual jamu dari luar perumahan itu, baik gendongan maupun menggunakan sepeda motor, tetap beroleh pembeli setiap hari saat berkeliling kompleks, tempat Eny tinggal dan membuat produk serupa. Kalau di pasar-pasar, penjualan jamu tradisional dengan lebih mudah dijumpai.

Di tengah pandemi COVID-19, rempah sepertinya mendapatkan waktu penting hadir kembali, terutama dalam wujud aneka jamu tradisional. Khasiatnya dipercaya memperkuat daya tahan tubuh.

Oleh karena manfaat yang dipercaya turun-temurun itu, rempah seakan menempati medan usaha mempertahankan kekuatan tubuh dari penularan pandemi. Kekuatan warisan kebudayaan rempah seakan menjadi salah satu poin yang tak boleh dilewatkan dalam kaitan dengan usaha bersama seluruh komponen bangsa menangani virus corona jenis baru itu.

Dalam situasi pandemi, masyarakat seolah diajak menelusuri jejak rempah Nusantara yang sejak ribuan tahun menjadi warisan bangsa, dan menjadi komoditas penting perdagangan dunia pada 4,5 milenium silam.

Rempah yang berasal dari negeri dengan deretan pulau-pulau itu, bukan sebatas kondang karena khasiat dan manfaat, tetapi telah meninggalkan jejak peradaban nenek moyang bangsa Indonesia, komoditas penting perdagangan dunia, dan kekuatan bahari Nusantara atau poros maritim dunia pada masa lampau.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui berbagai upaya dan strategi, menargetkan Jalur Rempah memperoleh pengakuan Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai Warisan Dunia pada 2024.

Dalam kaitan dengan peringatan Hari Nusantara yang jatuh setiap 13 Desember, tahun lalu kementerian itu bersama Komite Jalur Rempah meluncurkan laman Jalur Rempah yang bisa diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id.

Selain mempersatukan berbagai gagasan, pemikiran, dan informasi, laman itu juga menjadi media pendidikan masyarakat Indonesia, antara lain menyangkut jejak peradaban rempah, potensinya yang unggul bagi kemajuan ekonomi, dan kekuatan diplomasi budaya bangsa.

"Jejak tersebut yang membentuk Jalur Rempah, sebuah jalur abstrak tetapi nyata, di laut dan di darat," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid.

Sebagai contoh, Pulau Banda di Maluku dan Siau di Sulawesi Utara dikenal sebagai penghasil pala, Maluku Utara penghasil cengkih, Sumatera Selatan dan Bangka Belitung penghasil lada. Rute perdagangan rempah dunia dari Nusantara itu, antara lain melewati selat Malaka, Afrika, Timur Tengah, sampai Eropa.

Kapal-kapal pedagang dari mancanegara pada masa lampau mendatangi daerah-daerah di Nusantara untuk mendapatkan rempah-rempah. Kehadiran mereka melalui Jalur Rempah melahirkan interaksi berbagai bangsa dan ajang pertukaran budaya.

Target Indonesia memperoleh pengakuan PBB untuk Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia, kiranya bukan semata-mata agar jejak sejarah bangsa itu terkait dengan peradaban rempah tak punah.

Pentingnya identitas negeri bernama Indonesia sebagai Jalur Rempah dunia tersebut, juga memperkuat mental budaya generasi sekarang yang sedang menghadapi pandemi dan pencapaian keunggulan baru Indonesia masa mendatang, yang tak lepas dari kekayaan tanah air.

Tentu saja, bolehlah kiranya kalau kelak jejak Jalur Rempah di Nusantara benderang lagi, rembetannya hingga Kecamatan Secang, di mana dengan mudah ditemukan polah budi daya tanaman secang di mana-mana. Selain sebagai satu daya identitas wilayah, rempah sekaligus keunggulan hidup bumi lokal yang hadir kembali karena pandemi.