Rencana Pembukaan Sekolah, IDAI Sebut Risiko Penularan COVID-19 Meluas

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah merupakan hal yang sulit namun sangat perlu diterapkan, mengingat saat ini jumlah kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat. Satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun.

Beberapa waktu lalu, Pemerintah berencana mengubah kembali proses belajar dengan tatap muka langsung. Didapatkan berbagai laporan selama pandemi berlangsung tentang meningkatnya tingkat stres pada anak dan keluarga, perlakuan salah, pernikahan dini, ancaman putus sekolah, serta berbagai hal yang juga mengancam kesehatan dan kesejahteraan anak yang secara umum di alami di negara negara berkembang.

Pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka mengandung risiko tinggi terjadinya lonjakan kasus COVID-19 karena anak masih berada dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari, termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja maupun tidak, maka risiko penularan infeksi COVID-19 akan meningkat sangat tinggi.

"Peningkatan jumlah kasus yang signifikan pasca pembukaan sekolah telah dilaporkan di banyak negara sekalipun negara maju (Korea Selatan, Prancis, Amerika, Israel) termasuk di Indonesia. Penundaan sekolah dikatakan dapat menurunkan transmisi," tulis laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Berikut 4 Fakta terkait pernyataan IDAI untuk pembukaan sekolah kembali pada Januari mendatang.

Pengenalan cuci tangan

Pendidikan disiplin hidup bersih sehat serta penerapan protokol kesehatan dimulai dari rumah sebagai lingkungan terdekat anak, terlepas dari apakah anak menghadiri kegiatan belajar tatap muka atau tidak. Orangtua dan anggota keluarga dewasa diharapkan mulai memperkenalkan 3M, kebiasaan cuci tangan memakai masker dan menjaga jarak sejak dini.

"Pengenalan kebiasaan mencuci tangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana memberi Contoh secara rutin dan membersihkan tangan bayi sejak usia mulai MPASI, lalu ditingkatkan secara bertahap," tulis laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Memakai masker

Untuk pemakaian masker dengan cara yang benar dapat mulai dikenalkan sejak usia 2 tahun dengan durasi semampu anak kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar.

Kemudian terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan. Namun, berdasarkan data COVID-19 di Indonesia maka saat ini IDAI memandang bahwa pembelajaran melalui sistem jarak jauh (PJJ) lebih aman.

"Keputusan membuka sekolah untuk memulai kegiatan tatap muka dapat berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya di Indonesia, karena dipengaruhi berbagai faktor. Namun demikian, sedapatnya keputusan membuka dan menutup kembali sekolah dalam waktu singkat dihindari, karena berdampak pada rutinitas keseharian anak dan keluarga," tambahnya.

Sistem kesehatan di sekolah

Pihak sekolah hendaknya pertama-tama memenuhi standar protokol kesehatan dengan memastikan dukungan fasilitas yang memadai sesuai anjuran atau petunjuk teknis yang berlaku sebelum merencanakan mulainya pembelajaran tatap muka dan dipastikan dapat terpenuhi selama kegiatan berlangsung.

Perlu adanya mekanisme pemantauan pemenuhan standar protokol kesehatan. Pihak sekolah perlu memiliki standar prosedur operasional apabila terdapat murid, guru, dan/atau staf yang sakit dan konfirmasi COVID-19.

Risiko penularan

Pertimbangkan apakah partisipasi anak dalam kegiatan tatap muka lebih bermanfaat atau justru meningkatkan risiko penularan. Seperti, apakah anak sudah mampu melaksanakan kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dengan memadai?

Kemudian, apakah anak masih sangat memerlukan pendampingan orangtua saat sekolah? Bila masih, maka sebaiknya anak masih di rumah dulu saja. Serta apakah anak memiliki kondisi komorbid yang dapat meningkatkan risiko sakit parah apabila tertular COVID-19? Bila ada, sebaiknya anak belajar dari rumah.

Anak yang tidak bergejala atau bergejala ringan dapat menjadi sumber penularan kepada orang di sekitarnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak juga dapat mengalami gejala COVID-19 yang berat dan mengalami suatu penyakit peradangan hebat yang diakibatkan infeksi COVID-19 yang ringan yang dialami sebelumnya.

Seperti diketahui, jumlah kasus COVID-19 saat ini masih tinggi. Untuk itu, cara yang paling efektif dilakukan untuk mencegah penularan yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan jauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak