Rencana Pembunuhan Petugas Dishub Makassar sejak 2020, Pernah Sewa Dukun

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Satu per satu fakta kasus pembunuhan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar, Najamuddin Sewang mulai terungkap. Salah satu fakta adalah pembunuhan terhadap Najamuddin ternyata sudah direncanakan sejak tahun 2020.

Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar, Komisaris Besar Budhi Haryanto mengatakan rencana pembunuhan terhadap Najamuddin Sewang telah direncanakan oleh mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Makassar, Muh Iqbal Asnan sejak tahun 2020. Hanya saja, pembunuhan tersebut baru terjadi pada 3 April 2022.

"Perkara ini sudah direncanakan dari tahun 2020 dan baru tahun 2022 baru terlaksana," ujarnya saat jumpa pers di Mapolrestabes Makassar, Senin (18/4).

Budhi mengungkapkan pada tahun 2020, Iqbal Asnan sudah pernah mencoba melakukan pembunuhan dengan menyewa seorang dukun. Meski demikian, cara klenik tersebut tidak berhasil.

"Adapun cara otak pelaku melakukan pembunuhan berencana ini mulai dari mencari dukun. Ada orang yang disuruh melempar sesuatu ke rumah korban, tapi tidak meninggal," ungkapnya.

Setelah cara klenik tidak berhasil, usaha Iqbal Asnan untuk membunuh Najamuddin Sewang tak berhenti di situ. Aksi pembunuhan berhasil, setelah Iqbal menemukan seseorang yang merupakan anggota polisi berinisial SL.

"Akhirnya dia berusaha untuk mencari siapa yang bisa membunuh korban ini. Setelah ketemu terjadilah peristiwa penembakan tersebut," kata dia.

Budhi mengungkapkan hubungan Iqbal Asnan dan SL adalah teman satu daerah. Ia mengungkapkan SL berani membantu Iqbal Asnan menghabisi nyawa Najamuddin Sewang karena ikut merasa sakit hati.

"Merasa ikut sakit hati kalau otak pelaku ini disakiti oleh korban, disakiti perasaannya. Dia merasa ikut sakit hati juga sehingga mau melakukan hal tersebut," sebutnya.

Untuk menghabisi nyawa Najamuddin Sewang, Iqbal Asnan diduga sampai merogoh kocek Rp85 juta. Uang tersebut kini telah disita kepolisian.

"Uang Rp85 juta sebagai ucapan terima kasih," sebutnya.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Kota Besar mengungkapkan sosok eksekutor petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar, Najamuddin Sewang merupakan anggota kepolisian berinisial SL. Bahkan senjata api didapatkan dari online dan ternyata dari jaringan teroris.

Kapolrestabes Makassar, Komisaris Besar Budhi Haryanto mengatakan satu orang pelaku yang berperan sebagai eksekutor merupakan personel Polri berinisial SL. Ia menegaskan akan menindak tegas personel tersebut.

"Untuk pelaku yang perannya sebagai eksekutor, kita akan sampaikan bahwa dia anggota kita, oknum anggota polri. Kita akan proses bahkan mendapatkan sanksi lebih berat," ujarnya saat jumpa pers di Mapolrestabes Makassar, Senin (18/4).

Selain ancaman hukuman pidana, SL juga akan menjalani proses kode etik. Sesuai perintah Kapolda Sulsel, Irjen Nana Sudjana akan menindak tegas.

"Kita tidak ada ditutupi. Kita tindak sesuai dengan aturan yang ada," kata dia.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Komang Suartana mengatakan setelah melakukan penyelidikan, tim gabungan reserse kriminal menangkap lima orang tersangka. Lima orang tersebut S, MIA (Muh Iqbal Asnan), AKM, A dan SL.

"Barang bukti ada uang Rp 85 juta di dalam tas hitam, 2 motor, CCTV, senpi serta 53 peluru kaliber 38 mm dan kaliber 32 mm dan tiga selongsong peluru airsoft serta satu proyektil yang ditemukan di tubuh korban," ucapnya.

Suartana menyebut tersangka MIA sebagai otak pembunuhan berencana dikenakan pasal 55 angka 1 dan 2 jo 340 KUHP dan 336 KUHP ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara 20 tahun.

"Kedua tersangka SL yang ikut membantu pembunuhan dikenakan pasal 56 jo 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati, atau penjara seumur hidup atau penjara 20 tahun. Tersangka ketiga tersangka A dikenakan pasal 340 KUHP dengan ancaman seumur hidup paling lama 20 tahun penjara," sebutnya.

Sementara tersangka keempat AKM yang membantu melakukan pembunuhan dikenakan pasal 56 jo 340 KUHP ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup, dan paling lama 20 tahun penjara. Tersangka kelima S yang melakukan pengancaman dikenakan pasal 340 KUHP dan 336 KUHP penjara seumur hidup dan paling lama 20 tahun penjara.

"Saksi diperiksa 25 orang. Kalau ada anggota terlibat, perintah bapak kapolda ambil tindakan tegas dengan hukuman pidana dan kode etik," ucapnya. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel