Rendang Minang yang meneroka jalan ke Jerman

Rendang, barangkali itu yang ada di benak banyak orang bila ditanyakan mengenai kuliner yang paling dikenal dari Ranah Minang.

Rendang itu sendiri merupakan kuliner khas Minangkabau berbahan dasar daging dengan beragam rempah yang dimasak dalam waktu 4-6 jam menggunakan api kecil.

Saking terkenalnya hidangan dari Provinsi Sumatera Barat tersebut, rendang pernah menjadi peringkat pertama daftar 50 Hidangan Terlezat Dunia versi CNN International pada tahun 2011.

Kuliner rendang, menurut sejarawan Unand Prof. Dr Gusti Asnan telah ada sejak pertengahan abad 16 itu. Rendang juga telah ditetapkan sebagai satu dari lima hidangan nasional Indonesia pada 2018.

Hadirnya masakan rendang itu diyakini berkaitan dengan budaya merantau yang telah menjadi kultur orang Minang. Rendang yang dimasak hingga hitam dan tanpa kuah bisa tahan berbulan-bulan tanpa pengawet atau penyimpanan khusus hingga cocok menjadi bekal merantau.

Rendang menurut Bundo Kanduang Sumbar, Prof. Dr. Ir. Raudha Thaib, M.P juga tidak ujug-ujug ada. Kehadirannya dipengaruhi oleh budaya kuliner masyarakat India yang datang mencari rempah ke Ranah Minang. Karena itulah ada kemiripan antara rendang dengan kari.

Leluhur masyarakat Minang mempelajarinya, memodifikasi dan menciptakan sesuatu yang baru bernama rendang.

Dengan aromanya yang wangi menggugah selera selaras dengan rasa kenikmatannya yang tidak akan pernah terlupakan, tidak heran bila ada pelancong yang berdatangan ke Ranah Minang guna mencari kuliner khas ini.

Soal rasa rendang itu, menurut Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi berbeda tergantung ragam bumbu yang digunakan dan tempat pembuatannya. Rasa rendang yang dibuat orang Padang akan berbeda dengan rendang yang dibuat oleh orang Payakumbuh, Tanah Datar atau Solok.

Secara garis besar, garis pemisahnya adalah pesisir dan darek (darat). Pesisir adalah daerah yang berada di pesisir pantai, sementara darek adalah daerah yang berada di dataran tinggi Minang.

Baca juga: Mencicip rendang daging kerbau India di FHI 2022

Perbedaan bumbu

Konon perbedaan itu terjadi karena ada perbedaan bumbu atau takaran bumbu yang digunakan. Bumbu utama tetap sama, tetapi ada perbedaan di penggunaan bumbu pelengkap sehingga ada perbedaan cita rasa, meski secara umum tetap menyuguhkan kelezatan khas rendang.

Maka tidak heran bila rasa rendang yang dibuat di luar Ranah Minang juga berbeda. Banyak Rumah Makan Padang yang tersebar di penjuru dunia namun rasa masakan rendangnya tidak lagi sama dengan citarasa aslinya, bahkan ada yang rasanya jauh melenceng dari rasa Rendang Minang.

Mahyeldi menduga hal itu disebabkan perbedaan asal rempah yang digunakan. Meskipun jenis rempahnya relatif sama, namun karena tidak berasal dari Ranah Minang, maka keotentikan rasanya menjadi berkurang, bahkan hilang.

Beberapa pemilik Rumah Makan Padang di perantauan sebenarnya sudah mengetahui "rahasia" itu. Karena itu, banyak yang mencari bumbu dan rempah rendang dari Ranah Minang dalam jumlah banyak untuk stok di tempat usaha mereka di perantauan, semata untuk keotentikan rasa.

Perwakilan Diaspora Minang di Hamburg, Jerman, Budi Indra mengamini hal itu. Menurutnya cukup banyak perantau Minang yang ada di Jerman. Hampir semua bisa memasak rendang. Namun saat dicoba memasak menggunakan bumbu dan rempah yang tersedia di sana, rasanya jauh berbeda dengan Rendang Minang.

Karena itu, merasakan nikmatnya rendang di perantauan bagi keturunan Minang, apalagi yang merantau hingga jauh di benua yang berbeda menjadi sebuah kemewahan tersendiri.

Ekspor produk rendang kemasan yang awalnya diharapkan bisa menjadi solusi ternyata terbentur regulasi negara tujuan. Banyak negara di Eropa, salah satunya Jerman, tidak membolehkan produk daging dan turunan dari luar negara untuk dijual di negara itu.

Regulasi itu mementahkan harapan untuk bisa mengekspor rendang secara luas. Namun, Budi Indra dan beberapa sepuh warga Indonesia di Jerman tidak patah arang. Mereka membaca kendala itu sebagai sebuah tantangan yang harus dicarikan solusinya.

Mereka berpikir, kalau produk daging tidak boleh masuk dan dijual di Jerman, bagaimana kalau hanya bumbunya saja yang dibawa masuk sehingga tidak melanggar regulasi? Nanti biar masyarakat Indonesia di Jerman yang membuat rendang sendiri.

Baca juga: Pemkot Jakbar latih ratusan ibu rumah tangga olah jamur jadi rendang

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, pemilik usaha Dapur Mutiara, Febrianti Takarina dan perantau Minang Hamburg Budi Indra (batik biru) saat melepas ekspor bumbu rendang ke Jerman. (ANTARA/Miko Elfisha)
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, pemilik usaha Dapur Mutiara, Febrianti Takarina dan perantau Minang Hamburg Budi Indra (batik biru) saat melepas ekspor bumbu rendang ke Jerman. (ANTARA/Miko Elfisha)


Titik nol

Kendalanya, ekspor bumbu rendang belum pernah dilakukan sebelumnya, serta produk itu juga belum banyak dibuat di Ranah Minang, sehingga ekspor bumbu rendang itu, adalah solusi yang maha berat karena harus benar-benar dimulai dari titik nol.

Harus dicari pihak yang bersedia untuk bereksperimen membuat bumbu rendang dalam kemasan yang baik. Pihak itu juga harus bersedia untuk mengurus semua persyaratan regulasi produk sesuai aturan hukum di Indonesia agar bisa dikirimkan ke Jerman.

Perlu banyak usaha dan pengorbanan untuk semua itu, apalagi yang mendasarinya baru berupa komitmen perantau Minang di Jerman untuk membantu pemasaran sehingga belum ada pasar besar yang benar-benar jelas.

Budi memahami benar beratnya tantangan yang harus dilewati. Apalagi ia tidak mengenal pengusaha rendang yang ada di Sumbar yang bisa dibawa untuk bekerja sama.

"Saya coba menghubungi sahabat di Padang. Mencoba menjajaki kemungkinan. Saya jelaskan bahwa ini akan butuh perjuangan panjang. Di luar perkiraan ternyata sahabat di Padang, Hendri Agung Indrianto yang saat itu menjabat sebagai salah seorang Kepala Bidang di Dinas Pariwisata Sumbar menyambut dengan semangat yang tidak kalah menggebu," kisah Budi.

Dalam beberapa diskusi Agung menyarankan untuk bekerja sama dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), bukan dengan pengusaha rendang yang telah mapan dalam hal penjualan. Agung kemudian berpeluh-peluh mencarikan UMKM yang mau sama-sama berjuang dari nol.

Ternyata mencari orang yang mau menjalankan konsep itu dari nol bukan perkara mudah. Hitung-hitungan bisnis yang belum pasti membuat banyak pihak yang angkat tangan.

Baca juga: Jamaah haji Indonesia dapat menu rendang hingga nasi kuning

Semangat UMKM

Tapi Tuhan memang Maha Adil dan tidak menyia-nyiakan umat-Nya yang mau berusaha. Agung akhirnya menemukan UMKM yang memiliki semangat yang luar biasa untuk maju dalam hal itu, yaitu UMKM Dapur Mutiara yang ada di Kota Payakumbuh.

Pemiliknya Febrianti Takarina bersemangat untuk melakukan eksperimen membuat produk bumbu kemasan yang diharapkan bisa menjadi peneroka jalan untuk rendang bisa lebih dikenal di Eropa.

Maka dimulailah eksperimen yang membutuhkan waktu hingga satu tahun guna mendapatkan produk yang diinginkan. Kesulitan utama dari eksperimen itu adalah menyesuaikan rasa dengan "lidah" orang Eropa.

Berkali-kali bumbu hasil eksperimen itu dikirimkan ke Jerman, namun hasilnya belum menggembirakan karena bumbunya dinilai terlalu pedas bagi lidah orang Jerman.

Setelah melakukan pengiriman berkali-kali, akhirnya, bumbu yang dinilai cocok bagi orang Jerman adalah bumbu rendang tanpa cabai. Namun karena khawatir keotentikan rasa menjadi hilang, maka dibuatlah tiga varian bumbu berdasarkan tingkat kepedasan (tidak pedas, agak pedas dan pedas).

Satu ton bumbu rendang itu akhirnya dikirimkan secara resmi ke Jerman pada Rabu (27/7/2022). Dilepas langsung oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi.

Baca juga: Cara baru makan rendang khas Padang

Dukungan pemerintah

Pengiriman satu ton bumbu rendang ke Jerman itu menurut Gubernur Sumbar adalah pintu awal memperkenalkan rendang ke Eropa. Sebelumnya memang ada pengiriman rendang tetapi sifatnya pribadi dan bukan bisnis.

Maka jalan yang dirintis Dapur Mutiara bersama perantau Minang di Hamburg, Jerman itu sangat penting artinya untuk mengembangkan industri rendang di Sumbar dan memperkenalkan budaya Minang ke seluruh dunia.

Apresiasi itu ia tunjukkan dengan mengganti semua biaya pengiriman produk ke Jerman yang mencapai Rp50 juta dan menjanjikan bantuan dana bagi produk UMKM lain asal Sumbar yang bisa menembus pasar ekspor.

Ia menyebut nilai Rp50 juta itu kecil jika dibandingkan dengan efek domino yang bisa diciptakan jika usaha itu berhasil. Akan banyak muncul usaha baru untuk mendukung ketersediaan stok.

Ia mencontohkan, bumbu rendang kaya akan rempah sehingga akan menghidupkan kembali perkebunan rempah. Belum lagi usaha lain seperti pabrik pengolahan santan yang juga dibutuhkan untuk membuat rendang.

"Nanti, kalau bumbunya dari Minang, dagingnya juga dari peternakan orang Minang di luar negeri dan yang memasak rendangnya orang Minang pula, maka sah lah rendang itu disebut Rendang Minang," ujarnya.

Baca juga: Marandang tradisi sambut Ramadhan yang tak lekang di Ranah Minang

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi melepas ekspor bumbu rendang ke Jerman. (ANTARA/Miko Elfisha)
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi melepas ekspor bumbu rendang ke Jerman. (ANTARA/Miko Elfisha)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel