Reporters Without Borders sebut 50 jurnalis tewas pada 2020

·Bacaan 2 menit

Paris (AFP) - Lima puluh jurnalis dan pekerja media tewas sehubungan dengan pekerjaan mereka pada 2020 yang sebagian besar terjadi di negara-negara yang tidak sedang berperang, kata Reporters Without Borders (RSF), Selasa.

Angka itu menunjukkan kenaikan dalam penyasaran wartawan yang tengah menyelidiki kejahatan terorganisir, korupsi atau isu-isu lingkungan, kata badan pengawas tersebut.

RSF menyoroti pembunuhan yang terjadi di Meksiko, India dan Pakistan.

Delapan puluh empat persen dari mereka yang tewas tahun ini "sengaja dibidik" karena pekerjaan mereka, kata RSF dalam laporan tahunannya. Angka itu naik dibandingkan dengan 63 persen pada 2019.

"Selama beberapa tahun sampai sekarang, Reporters Without Borders telah mencatat bahwa para wartawan investigatif benar-benar menjadi sasaran negara atau kartel-kartel," kata Pauline Ades-Mevel, pemimpin redaksi RSF.

Meksiko adalah negara paling mematikan di mana delapan wartawan tewas. "Hubungan antara pengedar narkotika dan politisi tetap ada, dan jurnalis yang berani meliput ini atau masalah-masalah terkaitnya terus menjadi sasaran pembunuhan biadab," kata laporan itu.

Tidak satu pun dari kasus pembunuhan di Meksiko itu yang dihukum, tambah RSF yang mengumpulkan data tahunan tentang kekerasan terhadap wartawan di seluruh dunia sejak 1995.

Lima wartawan tewas di Afghanistan yang tengah diamuk perang, kata RSF, seraya mencatat bertambahnya serangan-serangan tersasar terhadap para pekerja media dalam beberapa bulan terakhir bahkan pada saat pembicaraan damai antara pemerintah dan Taliban sedang berlangsung.

RSF juga menyoroti kasus tokoh oposisi Iran Ruhollah Zam yang menjalankan sebuah saluran media sosial populer yang menyatukan para penentang rezim dan dieksekusi pada Desember.

Eksekusi dia "mengkonfirmasi catatan Iran sebagai negara yang secara resmi menghukum mati wartawan paling banyak dalam setengah abad terakhir," kata dia.

Ades-Mevel mengatakan RSF juga mencatat tren kekerasan yang terus meluas terhadap pekerja media yang meliput unjuk rasa, terutama di Amerika Serikat setelah pembunuhan George Floyd, dan di Prancis dalam menentang sebuah undang-undang keamanan baru yang kontroversial.

Jumlah jurnalis yang tewas pada 2020 lebih rendah dari 53 yang dilaporkan pada 2019, meskipun RSF mengatakan tahun ini lebih sedikit jurnalis yang bekerja di lapangan akibat pandemi Covid-19.

Pada bagian pertama laporan itu, yang diterbitkan bulan ini, RSF mengatakan prihatin bahwa tindakan yang diberlakukan oleh pemerintah dalam memerangi pandemi turut menyumbang pada "memuncak secara signifikannya pelanggaran kebebasan pers".

RSF menyusun daftar 387 wartawan s yang dipenjara yang disebut "jumlah yang luar biasa tinggi".

Empat belas dari wartawan-wartawan itu ditangkap karena kaitannya dengan liputan mereka tentang krisis virus corona, kata RSF.

Pada Senin, jurnalis warga China Zhang Zhan, yang mengirimkan berita dari Wuhan selama tahap-tahap awal wabah virus corona yang kacau balau, dipenjara selama empat tahun karena "memicu perselisihan dan memprovokasi masalah".

Otoritas China sejauh ini telah menghukum delapan whistleblower virus saat mereka membungkam kritik atas tanggapan pemerintah terhadap wabah tersebut.

bur-rma/axn