Resensi Film Animasi Vivo: Petualangan Seekor Kinkajou dalam Musik Rancak Lin-Manuel Miranda

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Namanya Vivo. Bukan, ini bukan tentang merek ponsel pintar yang beredar di pasaran. Ini adalah film animasi yang berkisah tentang seekor kinkajou, mamalia dari hutan hujan tropis yang memiliki habitat asli di Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Vivo (Lin-Manuel Miranda) kecil diselamatkan pak tua Andres (Juan de Marcos González) saat tercecer dari peti ketika hendak diseludupkan. Bersama-sama, keduanya menjadi musikus jalanan yang dikenal di daerahnya di Kuba.

Semua berubah saat datang sepucuk surat dari Marta (Gloria Estefan), wanita yang diam-diam dicintai Andres. Marta telah lama berkarier di dunia tarik suara di Amerika Serikat, dan ia mengundang Andres di pertunjukan terakhirnya sebelum pensiun.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Andres dan Marta

Vivo. (Foto: Netflix)
Vivo. (Foto: Netflix)

Andres bungah. Ia meyakini ini adalah kesempatan untuk menyatakan isi hatinya kepada Marta lewat sebuah lagu yang ia ciptakan. Sebaliknya, Vivo ngambek. Ia merasa hidup mereka sudah sempurna tanpa harus meninggalkan Kuba dan bertemu Marta.

Pada akhirnya Vivo meleleh, ia bersedia ikut ke AS. Namun tragedi tak terduga membuat rencana ini gagal.

Gabi dan Vivo

Vivo. (Foto: Netflix)
Vivo. (Foto: Netflix)

Vivo menjadi satu-satunya harapan untuk menyerahkan lagu dari Andres kepada Marta. Ia bertekad untuk berangkat ke AS sendirian, dengan membonceng Gabi (Ynairaly Simo), gadis kecil saudara jauh Andres dari Amerika yang sempat datang ke Kuba.

Gabi yang tahu misi Vivo, ketularan bersemangat. Terlalu bersemangat malah, sampai membuat Vivo geregetan. Namun apa boleh buat, cuma bocah ceriwis ini satu-satunya tiketnya menemui Marta.

Berhasilkah keduanya menjalani misi ini?

Memperkenalkan Kinkajou

Vivo. (Foto: Netflix)
Vivo. (Foto: Netflix)

Premis Vivo sebenarnya sederhana, dan sudah berulang kali diangkat dalam film: dua orang yang awalnya tak klop dipertemukan dalam sebuah petualangan. Namun bukan berarti Vivo lantas jatuh menjadi membosankan. Kombinasi Vivo yang lucu tapi penggerutu dengan Gabi yang kelewat energik dan berjiwa nekat, terasa menyenangkan.

Belum lagi dengan sejumlah karakter tambahan yang unik, seperti trio gadis Dolar Pasir yang sangat bersemangat menjaga bumi dan kelestarian flora fauna.

Film ini juga bisa memberikan kesempatan untuk orangtua memperkenalkan spesies baru yang mungkin belum pernah dikenal anak-anak di Indonesia: kinkajou.

Kekuatan di Musik

Netflix akan merilis film animasi ini pada 6 Agustus mendatang, dan juga menyertakan versi dubbing berbahasa Indonesia untuk memudahkan para penonton cilik di Tanah Air. Sayang, di luar manfaat ini, ada satu ‘isu’ kecil dari versi dubbing berbahasa Indonesia—hal yang sebenarnya kerap menjadi tantangan dalam film musikal yang telah dialihbahasakan.

Kekuatan terbesar Vivo adalah dari segi musiknya yang dimotori Lin-Manuel Miranda, kreator musikal ikonis Hamilton. Masing-masing lagu memiliki identitas yang kuat, mulai lagu Gabi yang rancak, hingga lantunan suara merdu Gloria Estefan membawakan lagu Marta yang emosional.

Rima dalam lirik bahasa aslinya, memperkokoh ritme dan melodi dalam lagu. Begitu pula vokalisasi dan produksi audio yang begitu dinamis—ini terutama terdengar di lagu milik Gabi. Ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ada beberapa aspek yang tak semantap aslinya—walau tetap terdengar rancak.

Karena itu, bila menonton versi dubbing, jangan lupa mengecek versi aslinya untuk merasakan langsung sidik jari Lin-Manuel Miranda di lagu-lagu film ini, ya!

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel