Resensi Film Chaos Walking: Petualangan Tom Holland dan Daisy Ridley di Planet Baru dengan Chemistry Pulen

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Terbiasa melihat Tom Holland sebagai manusia laba-laba bisa jadi membuat kita lupa bahwa sang aktor di layar lebar sesungguhnya bisa jadi apa saja. Chaos Walking salah satu buktinya.

Chaos Walking yang merupakan adaptasi novel The Knife of Never Letting Go karya Patrick Ness diproyeksikan ke layar lebar dengan Doug Liman sebagai sutradara. Ia siap tayang di Indonesia April 2021.

Yang menarik, dalam Chaos Walking Tom Holland adu akting dengan Daisy Ridley yang bersinar terang berkat Star Wars. Pertemuan salah satu ikon Marvel dengan “duta” perang bintang terasa unik. Berikut resensi film Chaos Walking.

Todd Hewitt Tahun 2257

Tom Holland sebagai Todd Hewitt dalam Chaos Walking. (Foto: Dok. Lionsgate/ IMDb)
Tom Holland sebagai Todd Hewitt dalam Chaos Walking. (Foto: Dok. Lionsgate/ IMDb)

Cerita Chaos Walking berada di garis waktu tahun 2257 masehi. Kala itu Bumi yang tua dianggap tak bisa lagi “melayani” polah manusia. Sebagian bermigrasi ke planet baru demi kehidupan lebih baik.

Pada tahun itu pula, manusia punya kemampuan mendengar suara hati sesama yang divisualkan dengan pendar cahaya di wajah mereka. Adalah Todd Hewitt (Tom Holland) yang dibesarkan dua ayah, yakni Ben (Demian Bichir) dan Cillian (Kurt Sutter).

Ia berupaya menyamarkan suara hati agar tak terlacak orang lain. Suatu siang, Todd mendapati Viola (Daisy Ridley) mencuri. Viola lari menuju pesawat yang jatuh di hutan.

Hanya Wali Kota Farbranch

Hildy Black dalam Chaos Walking diperankan Cynthia Erivo. (Foto: Lionsgate/ IMDb)
Hildy Black dalam Chaos Walking diperankan Cynthia Erivo. (Foto: Lionsgate/ IMDb)

Bertemu cewek membuat hati Todd berdesir karena tak ada satu pun wanita di kota Prentisstown. Todd melapor ke Wali Kota, David Prenstiss (Mads Mikkelsen) yang kemudian mengerahkan warga untuk memburu Viola.

Ben dan Cillian minta Todd - Viola kabur ke Farbranch. Warga Farbranch malah memusuhi Todd dan Viola setelah tahu keduanya dari Prentisstown. Hanya Wali Kota Farbranch, Hildy (Cynthia Erivo), yang menyambut mereka.

Sinopsis film ini membuat pikiran kita berkelana ke sebuah perjalanan penuh tantangan di mana dua pemeran utama berproses menjadi sosok yang layak dibanggakan. Namun eksekusi film ini agak mengkhianati harapan kita.

Menghadapi Sebisanya

Nick Jonas sebagai Davy dalam Chaos Walking. (Foto: Dok. Lionsgate/ IMDb)
Nick Jonas sebagai Davy dalam Chaos Walking. (Foto: Dok. Lionsgate/ IMDb)

Di awal film, Todd tampak lemah dan disepelekan. Pertemuan dengan Viola membuatnya berproses. Sayang, tokoh ini tak kunjung berkembang. Di babak puncak pun, ia masih saja tak berdaya.

Sementara Viola dalam pencariannya memang berhasil mendapat yang ia mau. Tetap saja, penonton tak diizinkan “mengukur” ketangguhan Voila karena bangunan cerita film ini terus mengajak kita kabur-kaburan.

Yang disajikan Chaos Walking selalu soal perjalanan, seolah kabur dari pengejaran (baca: masalah). Saat kondisi terdesak, barulah dua insan ini menghadapi sebisanya.

Chemistry Tom dan Daisy

Daisy Ridley sebagai Viola dalam Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)
Daisy Ridley sebagai Viola dalam Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)

Sejumlah orang yang mereka temui kemudian terlibat. Siklus kemudian diulang dengan modifikasi beda ruang, waktu, dan karakter pendukung. Lama-lama, Chaos Walking terasa melelahkan.

Problem film ini terletak pada penuturan dan karakter yang tak kunjung berkembang. Dengan sedikit modifikasi dan penajaman konflik utama, sebenarnya film ini bisa menjadi lebih “galak” dan menyeret penonton ke dunia baru yang penuh kejutan.

Chemistry Tom dan Daisy sebenarnya sudah pulen. Dimulai dengan jaga jarak, sempat saling curiga mengingat suara hati Todd terlalu ceriwis, lalu saling bergantung menghadapi situasi yang merumit.

Drama, Pengorbanan, dan Kehilangan

David Prenstiss diperankan Mads Mikkelsen dalam Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)
David Prenstiss diperankan Mads Mikkelsen dalam Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)

Beberapa kali ketegangan mencair berkat fantasi tokoh utama yang kebablasan dan sukses memantik tawa. Patut diingat, dalam genre film aksi berbasis fiksi ilmiah, taburan komedi, chemistry pemain, dan pindah-pindah tempat saja tak cukup.

Yang absen dari Chaos Walking adalah keseruan. Bak-bik-buk dalam genre semacam ini tidak perlu sering. Beberapa kali saja namun harus hadir di saat yang tepat agar penantian penonton terbayar lunas. Elemen ini absen.

Padahal unsur drama, pengorbanan, dan kehilangan dalam cerita Chaos Walking sudah lebih dari cukup untuk membuat tensi film ini bangkit. Secara keseluruhan, Chaos Walking lemah di aspek eksekusi. Terasa kurang klimaks.

Tetap Punya Nilai Plus

Salah satu adegan film Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)
Salah satu adegan film Chaos Walking. (Foto: Lionsgate/ IMDb)

Tapi tenang, film ini tetap punya nilai plus yakni interaksi tokoh utama: Viola dan Todd. Mereka tampak menggemaskan, asyik, dan natural. Terasa dekat dengan kita meski berdomisili di planet baru.

Efek visual suara hati yang tampak sejak awal film digambarkan tak berlebihan. Cahaya dan aura efektif mewakili karakter. Ia tergambar secara pas saat yang punya suara hati hidup hingga akhirnya nyawa terpisah.

Pemain: Tom Holland, Daisy Ridley, Mads Mikkelsen, Demian Bichir, Cynthia Erivo, Nick Jonas, David Oyelowo

Produser: Doug Davison, Allison Shearmur, Erwin Stoff, Alison Winter

Sutradara: Doug Liman

Penulis: Patrick Ness, Christopher Ford

Produksi: Lionsgate

Durasi: 1 jam, 49 menit