Resensi Film Eiffel: Biopic Dengan Ritme Penuturan Stabil dan Enak Diikuti dari Martin Bourboulon

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Eiffel adalah identitas Prancis. Siapa sangka pembuatan Menara yang diarsiteki Gustave Eiffel ini melewati jalan terjal, konspirasi, tekanan, serta cinta yang tak semestinya mengembang.

Digarap sineas Martin Bourboulon yang ikut membuat adonan naskah, film ini disambut positif para pencinta sinema maupun kritikus. Eiffel telah tiba di Indonesia namun tak diedarkan di bioskop.

Anda dapat mengaksesnya secara legal lewat platform streaming KlikFilm mulai Desember 2021. Kami telah menonton dan sepakat, Eiffel kisah cinta dalam ambisi plus ego laki-laki yang digarap secara berimbang sekaligus detail. Berikut review film Eiffel. Selamat menyimak.

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Maret 1889

Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

Bermula pada Maret 1889, ketika Gustave Eiffel (Romain Duris) mendapat apresiasi dari Pemerintah Amerika Serikat. Atas kerasinya untuk Patung Liberti, dengan struktur bangunan tahan angin, ia membangun identitas AS yang langgeng.

Eiffel mendapat gelar Warga Negara Kehormatan. Gustave Eiffel punya anak perempuan Claire Eiffel (Armande Boulanger) yang telah nikah. Saat itu, Gustave terlibat dalam pembangunan jembatan besi di seberang Sungai Garonne.

Proyek ini butuh banyak kayu. Suatu hari seorang pekerja nyaris tenggelam. Eiffel menyelamatkannya. Aksi heroik ini dilihat Adrienne Bourgès (Emma Mackey). Keduanya bertemu lagi dalam jamuan makan dan cinta pun bersemi.

Selalu Ada Bumbu Cinta

Gustave Eiffel diperankan Romain Duris dalam film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Gustave Eiffel diperankan Romain Duris dalam film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

Dalam sebuah biopic, selalu ada bumbu cinta. Porsinya tergantung kebutuhan. Ada yang sengaja dibuat banyak untuk “mengejar” nuansa drama lebih pekat. Ada yang dibuat minimal atas nama mematuhi unsur autentik dan keaslian.

Namun, film selalu ada unsur dramatisasi. Ini yang kerap menjebak film biopic. Eiffel di tangan Martin Bourboulon tampak elegan. Kisah cintanya tak mungkin dihilangkan mengingat Menara Eiffel sendiri tanda cinta, di samping fungsinya sebagai identitas sebuah negara.

Jauh Dari Kesan Vulgar

Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

Percintaan dalam Eiffel memanusiakan sang tokoh utama. Dikemas jauh dari kesan vulgar, cenderung nyeni malah, namun rasa yang ditransfer dalam adegan bercinta sampai ke hati penonton. Dalam gambar closeup maupun semicloseup, tetap saja adegan dua manusia terbakar rindu terasa puitis.

Di sisi lain, Martin menggambarkan dengan detail soal mengapa menara setinggi 300 meteran mesti di bangun. Termasuk filosofi, kemungkinan masalah dan solusi, hingga konflik kepentingan yang menyertai.

Detail Seputar Menara

Adrienne Bourgès diperankan Emma Mackey dalam film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Adrienne Bourgès diperankan Emma Mackey dalam film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

“Aku adalah pria dengan ide yang lebih besar dari dirinya sendiri,” demikian Gustave Eiffel memperkenalkan diri di sebuah forum. Lalu ia membahas molase, tanah kapur, penangkal petir yang menembus permukaan air, penggabungan konstrukti empat kaki, kasau, piston, dan lain-lain.

Detail yang tak perlu dipahami penonton tapi patut ada demi merefleksikan prinsip kerja Eiffel yaitu, “Selalu ada solusi (karena) hidup mengajariku untuk menghindari kejutan.” Sampai di sini, penonton mendapat perspektif lebih utuh soal sosok Eiffel.

Tempo Medium

Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Salah satu adegan film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

Diceritakan dengan tempo medium, sesekali tampak berayun-ayun berkat chemistry Romain dan Emma yang makin ke ujung makin solid. Eiffel menjelma biopic yang dituturkan dalam format old-fashioned, renyah, tidak bertele-tele, cenderung stabil hingga ke menit-menit akhir.

Kita melihat cinta yang bertransformasi dari perkenalan kasual, genggam tangan yang malu-malu, hasrat tertahan lalu meledak, hingga kegelisahan dua manusia. Di sisi lain, kita melihat Eiffel, proyek bangunan yang menjadi judul, bermetamorfosis.

Penuturan Yang Konsisten

Poster film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)
Poster film Eiffel. (Foto: Dok. VVZ Productions/ IMDb)

Ancaman politis, demo pekerja mogok, keresahan publik soal potensi jumlah kematian jika bangunan ini gagal lalu roboh hingga petisi para seniman yang menggunung. Ancaman beragam ini dituturkan dengan teknik bervariasi dari penggambaran visual hingga lisan dari mulut salah satu tokoh.

Eiffel sebagai biopic akhirnya tidak terasa berat. Tempo penuturan yang konsisten membuatnya terasa enak untuk dinikmati. Libur Nataru kali ini, Eiffel bisa jadi pilihan alternatif untuk Anda yang di rumah saja.

Pemain: Romain Duris, Emma Mackey, Pierre Deladonchamps

Produser: Vanessa Van Zuylen

Sutradara: Martin Bourboulon

Penulis: Thomas Bidegain, Caroline Bongrand, Martin Brossollet, Martin Bourboulon, Nathalie Carter

Produksi: Pathe

Durasi: 1 jam, 48 menit

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel