Resensi Film Hujan di Balik Jendela: Cinta, Luka Akibat Perselingkuhan dan Waktu yang Menyembuhkan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Hujan di Balik Jendela, judul lagu Senandung. Video klipnya ditonton jutaan kali di kanal YouTube. Sutradara Sunu Prastowo bersama dua penulis merangkai kisah fiksi soal cinta segitiga.

Di tengah jalan, mereka menemukan tembang Senandung yang dirasa pas untuk menguatkan nyawa naskah mereka. Jadilan film Indonesia yang dibintangi Bio One, Clara Bernadeth, dan Yasamin Jasem ini mengharu biru.

Film yang diproduksi Klik Film Production ini dirilis di platform streaming Klik Film jelang Valentine, 13 Februari 2021. Ini tentang cinta, luka perselingkuhan, dan waktu yang menyembuhkan. Berikut resensi film Hujan di Balik Jendela.

Alda dan Kisah Cintanya

Yasamin Jasem sebagai Alda dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)
Yasamin Jasem sebagai Alda dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)

Alda (Yasamin) dan Dika (Bio One) pacaran saat kuliah. Suatu malam, Dika menggelar lamaran kasual di taman berhiaskan tenda dan puluhan lentera. Sebuah janji diikat. Lima tahun setelahnya, saat karier mapan, mereka akan berumah tangga.

Malam itu pula Alda berjanji akan memainkan lagu diiringi denting piano di hari bahagia. Untuk memenuhi janji ini, Alda mengambil kursus main piano dengan guru Gisel (Clara). Gisel yang berusia 40 tahun, menutup diri akibat trauma kerusuhan Mei 1998.

Kekasihnya, Daniel, tewas dalam kerusuhan. Pesan terakhir almarhum meminta Gisel di rumah saja agat tak menjadi korban. Sejak itu, Gisel tak pernah keluar rumah dan hanya menerima siswi perempuan di kediamannya. Saat Dika mengantar Alda kursus, hati Gisel berdesir.

Kesan Pertama, Syahdu

Bio One sebagai Dika. (Foto: Dok. Klik Film Production)
Bio One sebagai Dika. (Foto: Dok. Klik Film Production)

Suatu malam, Dika ke rumah Gisel mengantar kue tar. Ia menolak karena baginya, tar hanya bisa dinikmati dengan Daniel. Sejak Daniel wafat, tradisi itu sirna. Dika menemani Gisel mengudap kue. Hubungan mereka berlanjut hingga tercium Alda.

Syahdu. Itulah kesan pertama usai menonton Hujan di Balik Jendela. Ilustrasi musik yang dominan denting piano dan petikan gitar efektif membangkitkan suasana penuh cinta, meski adegan yang tersaji di layar pengkhianatan. Nuansa akustik dalam score film terasa menyatu dengan adegan yang digulir.

Pemunculannya tidak terkesan ceriwis. Kesan kedua, akting tiga pemeran utama. Sejujurnya, Clara yang digambarkan sebagai wanita 40 tahun secara visual tampak masih muda. Yang tua, cara berbusananya. Formal, minim aksen dan motif.

Performa Seorang Clara

Clara Bernadeth sebagai Gisel dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)
Clara Bernadeth sebagai Gisel dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)

Kesan tua muncul juga dari gaya bicara yang datar dan tatapan mata hampa. Baru terasa hidup saat interaksi dengan Dika menyering. Cinta mengubah sudut pandang.

Sunu mengemas adegan perselingkuhan dengan lembut, sehingga batas protagonis dan antagonisnya menjadi gradasi. Penonton mau menyalahkan pelaku pun jadi tidak tega, meski hati mereka membela korban.

Pertikaian disajikan minim teriakan, emosi datang dari dialog tatap muka dan kontak mata. Clara, Bio One, dan Yasamin memberikan penjiwaan yang apik. Tatapan Yasamin ke Clara atau amarah Clara mengetahui dirinya dikerjai, misalnya.

Perubahan Sorot Mata

Dika dan Gisel dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Klik Film Production)
Dika dan Gisel dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Klik Film Production)

Perubahan sorot mata dari kesepian lalu terisi kembali membuat kita berempati akan nasib pilunya. Ekspresi Bio saat membaca surat menyiratkan kehilangan dan pedih yang melumuri benaknya.

Ketiga karakter ini menjadi poros cerita dan konsisten hingga menit-menit akhir. Masalahnya, begini. Syuting di tengah pandemi berdampak pada minimnya jumlah tokoh yang bisa dihadirkan dalam cerita. Terlalu banyak tokoh menciptakan kerumunan saat syuting dan berpotensi jadi klaster baru.

Itu bisa dipahami. Karenanya, kisah Hujan di Balik Jendela berfokus pada tiga wajah berikut hati mereka. Dibuka dengan adegan mempelai laki-laki, kita tak melihat bagaimana pernikahan itu terjadi. Pun latar belakang tokoh utama diuntai dalam dialog.

Buramnya Latar Belakang Tokoh

Alda dan Dika dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)
Alda dan Dika dalam Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)

Tidak tergambar detail mereka kuliah, merintis karier, dan yang paling penting kehadiran orangtua Dika-Alda. Pun Daniel yang jadi “biang masalah” bagi kejiwaan Gisel, sebatas kata. Inilah solusi yang akhirnya ditempuh Hujan di Balik Jendela untuk membuat tokoh-tokoh mereka kokoh.

Jika Anda bisa memahami keterbatasan ini, maka mudah untuk menikmati kisahnya. Hujan di Balik Jendela berusaha menghindari klise dalam kisah cinta segitiga. Solusi masalah mungkin mengingatkan kita pada sejumlah film bertema serupa.

Keputusan Akhir yang Logis

Adegan film Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)
Adegan film Hujan di Balik Jendela. (Foto: Dok. Klik Film Production)

Namun keputusan akhir yang diambil para tokoh terbilang logis. Keunggulan lain film ini, latar agama dan budaya. Di tengah fanatisme yang belakangan memekat, melihat adegan ibadah di kelenteng berikut suasana khusuk dalam doa membuat hati adem.

Hujan di Balik Jendela cukup berhasil menjadi film romantis, syahdu, dengan interaksi antartokoh yang intens. Pas untuk dinikmati bersama Valentine. Siapkan berondong, minuman, dan redupkan lampu kamar. Selamat menikmati.

Permain: Bio One, Clara Bernadeth, Yasamin Jasem

Produser: Karli Surya Winata, Agung Haryanto

Sutradara: Dyan Sunu Prastowo

Penulis: Raditya Kurnia, Budhita Arini

Produksi: Klik Film Production

Durasi: 1 menit, 28 detik