Resensi Film Sampai Jadi Debu: Romantika Penyakit Alzheimer dan Cinta di Balik Kembang Melati

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Belakangan sejumlah film Indonesia anyar diproduksi untuk dirilis khusus di platform streaming. Sebuah fenomena menarik yang layak disyukuri untuk mengisi minimnya film lokal baru di bioskop. Salah satunya, Sampai Jadi Debu karya sineas Eman Pradipta.

Drama rumahan ini menampilkan ibu yang mengidap Alzheimer. Secara sederhana, Alzheimer adalah penyakit degeneratif progresif pada otak yang ditandai dengan sejumlah gejala antara lain kebingungan, disorientasi, kegagalan memori, gangguan bicara, dan demensia.

Ibu pengidap Alzheimer itu adalah Bu Sugeng, yang diperankan dengan apik oleh aktris peraih dua Piala Citra, Cut Mini. Berikut adalah resensi film Sampai Jadi Debu.

Bu Sugeng dan Empat Anak

Adegan film Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Adegan film Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Bu Sugeng (Cut Mini) memiliki empat anak yakni Ruri (Ully Triani), Nining (Erfika Diandra), Lukman (Eduwart Manalu), dan Damar (Wafda Saifan). Belakangan, Bu Sugeng pikun. Ini terjadi ketika suatu hari ia minta Pak Sugeng (Agus Wibisono) mencicipi sambal goreng ati buatannya.

Padahal, permintaan yang sama sudah dilontar beberapa kali. Pak Sugeng kemudian meninggal. Sepeninggal suami kepikunan Bu Sugeng makin parah. Ia lupa sudah salat bahkan lupa suaminya telah meninggal dunia. Dokter menegakkan diagnosis Alzheimer.

Keempat anak Bu Sugeng tak punya formula tepat untuk menghadapi suasana hati ibu yang cepat berubah. Ruri, Nining, Lukman, dan Damar lalu bikin jadwal giliran menjaga ibu. Damar yang bekerja di luar kota kewalahan jika harus bolak-balik ke kampung halaman, Solo.

Damar dan Laras

Yasamin Jasem dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Yasamin Jasem dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Hubungannya dengan pacar, Laras (Yasamin) juga sedang berantakan. Suatu ketika, Bu Sugeng yang makin pikun mendapati kertas berisi berita duka kematian suaminya. Ia menangis histeris sampai ambruk.

Tema Alzheimer bukan hal baru di layar lebar. Berkaca pada Hollywood, beberapa aktris sukses memerankan pengidap Alzheimer bahkan ada yang menang Piala Oscar. Pada 2001, ada film Iris, biopik novelis Inggris Iris Murdoch yang berjuang melawan Alzheimer.

Iris Murdoch muda dimainkan Kate Winslet, versi tuanya dibawakan Judi Dench. Keduanya beroleh nominasi Oscar. Pada 2006, Julie Christie tampil memikat sebagai pengidap Alzheimer dalam Away From Her. Ia pun diganjar nominasi Oscar.

Kemunduran Daya Ingat

Cut Mini sebagai Bu Sugeng dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Cut Mini sebagai Bu Sugeng dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Barulah pada 2014, Julianne More menetapkan standar emas dalam mempresentasikan penderita Alzheimer dalam Still Alice. Menang Golden Globe, BAFTA, dan SAG Awards, sang aktris akhirnya menggenggam Piala Oscar Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Yang menarik, Cut Mini sendiri pernah memerankan karakter Isma, ibu yang pikun dalam film tentang zombi, Zeta dua tahun silam. Kala itu ia menjadi pemeran pendukung sehingga riwayat penyakitnya tak tergambar dengan detail.

Dalam Sampai Jadi Debu, Bu Sugeng karakter utama. Kemunduran daya ingat dan penurunan fungsi tubuh digambarkan perlahan. Eman mencoba bermain detail namun tetap saja, fokus utama Alzheimer dalam film ini adalah kepikunan berikut perubahan mood mendadak.

Cut Mini Sentuh Penonton

Salah satu adegan film Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Salah satu adegan film Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Dua elemen ini diulang dan menciptakan drama ulangan sampai tiga per empat film. Drama lain muncul dari sejumlah cerita samping antara lain pembahasan warisan, gesekan adik beradik, dan cerita cinta Damar – Laras.

Yang dengan mudah menyentuh nurani penonton, Cut Mini. Selain porsi peran dominan, ia meyakinkan penonton lewat tatapan mata yang seketika kosong seolah memorinya lengang, perubahan air muka sebagai cerminan disorientasi dan mood swing, juga kesenduan akibat banyak hal.

Sementara itu, empat anak dalam film ini agak sulit mencuri hati kita tak lama setelah kepala keluarga meninggal dunia. Harta warisan nyaris membuat Sampai Jadi Debu terjebak klise.

Kemerosotan Lahir Batin

Yasamin Jasem sebagai Laras dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Yasamin Jasem sebagai Laras dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Untungnya, motivasi soal rumah menjadi lebih jernih setelah masing-masing karakter anak disingkap latar belakangnya. Yang paling jernih adalah si bungsu, Damar. Ia berkukuh mempertahankan sambil merawat ibu.

Masalahnya, komitmen Damar juga tak lantas membuat penonton jatuh hati. Ia berada di rantau. Tak setiap hari melihat langsung kemerosotan lahir batin ibunya. Saat masalah yang berhubungan dengan ibu terdengar, Damar hanya bisa menyalahkan kakak-kakaknya yang di Solo.

Kalau sekadar menyalahkan mah, semua orang juga bisa. Namun, kunci film ini adalah proses yang dialami setiap tokoh. Sampai Jadi Debu tak terjebak ke dalam konflik warisan atau dramatisasi penyakit yang menempatkan pasien sebagai korban.

Menarik dan Terasa Intens

Wafda Saifan sebagai Damar dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)
Wafda Saifan sebagai Damar dalam Sampai Jadi Debu. (Foto: YouTube Falcon Pictures)

Bergerak dari kehilangan dan kebingungan merespons penyakit, setiap tokoh dalam rumah itu perlahan mengurai masalah kemudian mendapatkan titik temu. Titik temu yang sejatinya bernama takdir.

Di sisi lain, Sampai Jadi Debu berisi romantisme percintaan yang mewujud dalam hal-hal sederhana. Dari tak keluar rumah tanpa pasangan hingga menyimpan melati di dalam sarung bantal pasangan agar mewangi.

Menarik, terasa intens, dengan performa memikat Cut Mini dan Wafda Saifan tentunya. Film ini dapat diakses secara resmi di Klik Film.

Pemain: Cut Mini, Agus Wibisono, Wafda Saifan, Yasamin Jasem, Ully Triani, Erfika Diandra, Eduwart Manalu

Produser: Ervina Isleyen, Agung Haryanto

Sutradara: Eman Pradipta

Penulis: Anggoro Saronto

Produksi: KlikFilm Production, RK 23, Canary Studios

Durasi: 1 jam, 30 menit